71 Tahun Sarihusada, Sehatkan SDM Indonesia Menuju Generasi Emas 2045

Berdiri pada 1950-an di Yogyakarta, perusahaan ini menjadi pelopor inovasi nutrisi anak di Tanah Air.

71 Tahun Sarihusada, Sehatkan SDM Indonesia Menuju Generasi Emas 2045
Sarihusada Yogyakarta. (yvesta putu ayu palupi/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Perjalanan panjang Sarihusada yang kini genap berusia 71 tahun menjadi bukti nyata peran dunia industri dalam menyehatkan sumber daya manusia (SDM) Indonesia. Sejak berdiri pada 1950-an di Yogyakarta, perusahaan ini telah tumbuh menjadi pelopor inovasi nutrisi anak di Tanah Air, dengan misi memastikan generasi penerus bangsa tumbuh sehat dan siap menyongsong cita-cita Indonesia Emas 2045.

Tahun 2025 juga menjadi momentum reflektif. Indonesia merayakan 80 tahun kemerdekaan, yang berarti dua dekade menuju puncak Generasi Emas. Namun, di tengah harapan besar tersebut, masih ada tantangan besar di sektor kesehatan, khususnya gizi anak.

Anemia akibat kekurangan zat besi masih menjadi masalah gizi utama yang mengintai anak Indonesia, dengan dampak serius terhadap perkembangan kognitif dan kemampuan belajar mereka.

Sejak 1950-an, Sarihusada melalui kerja sama pemerintah Indonesia dan PBB mengatasi masalah kekurangan gizi pasca Perang Dunia II. Dari Yogyakarta, Sarihusada melahirkan produk SGM yang kemudian menutrisi puluhan juta anak Indonesia lintas generasi. Kini, SGM Eksplor hadir dengan transformasi inovatif untuk menjawab kebutuhan gizi anak yang semakin kompleks.

Sebagai pioner

“Sarihusada lahir di Yogyakarta 71 tahun yang lalu sebagai pioner produk nutrisi di Indonesia, dengan misi memenuhi kebutuhan gizi anak. Karena itu, Yogyakarta memiliki makna historis yang sangat penting sebagai kota awal solusi nutrisi bagi anak-anak Indonesia," kata Vera Galuh Sugijanto, VP General Secretary Danone Indonesia di Yogyakarta, Rabu (27/8/2025).

Menurut Vera, Yogyakarta bukan hanya rumah bagi pabrik dan pusat riset, tetapi juga tempat menumbuhkan komitmen nyata bagi masyarakat. Berbagai program edukasi digulirkan, mulai dari pembangunan PAUD Generasi Maju di Taman Pintar, program Duta 1000 Pelangi untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya gizi pada 1.000 hari pertama kehidupan (HPK), hingga kerja sama dengan pemerintah daerah dalam pencegahan stunting dan penanganan bencana.

Sementara pakar kesehatan, Devie Kristiani, mengungkapkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan prevalensi anemia pada anak usia 6-59 bulan mencapai 38,4 persen. Artinya, satu dari tiga balita di Indonesia kekurangan zat besi. Kondisi ini menempatkan Indonesia dalam daftar lima negara dengan prevalensi anemia tertinggi di Asia Tenggara.

"Anemia defisiensi besi kerap dianggap sepele, padahal dampaknya bisa menentukan masa depan seorang anak," ujarnya.

Daya ingat

Zat besi tidak hanya membentuk hemoglobin untuk membawa oksigen ke seluruh tubuh, tetapi juga berperan dalam pembentukan neurotransmitter di otak yang mempengaruhi konsentrasi, daya ingat dan semangat belajar. “Anak yang kekurangan zat besi cenderung memiliki kemampuan psikomotor lebih rendah sehingga prestasi belajarnya terhambat,” jelasnya.

Dia menekankan pentingnya pencegahan sejak dini melalui pola makan bergizi, pemeriksaan rutin, serta dukungan nutrisi tambahan. Penelitian di Jakarta juga menunjukkan konsumsi susu pertumbuhan dapat membantu melengkapi kebutuhan zat gizi penting anak. "Termasuk zat besi, zinc, kalsium, vitamin B12, vitamin C, dan vitamin E," jelasnya.

SGM Eksplor, salah satu produk unggulan Sarihusada, kini diperkaya dengan inovasi IronC -- kombinasi unik zat besi dan vitamin C yang terbukti mampu meningkatkan penyerapan zat besi hingga dua kali lipat. Formulasi ini juga dilengkapi dengan DHA, Omega 3 & 6, serta berbagai nutrisi penting lain yang mendukung daya pikir, daya tahan tubuh dan pertumbuhan anak.

“Pemenuhan nutrisi lengkap merupakan fondasi penting bagi tumbuh kembang optimal anak yang akan mewujudkan Generasi Emas Indonesia. Karena itu, SGM menghadirkan berbagai solusi nutrisi inovatif yang diformulasikan sesuai kebutuhan anak Indonesia,” ujar Arif Mujahidin, Corporate Communications Director Danone Indonesia.

Jaringan riset

Arif menambahkan, seluruh inovasi itu ditopang oleh Research & Innovation Center di Yogyakarta, yang terhubung dengan jaringan riset Danone global. Fasilitas tersebut dilengkapi teknologi tinggi mulai dari laboratorium sensori, pengemasan, hingga pilot plant, yang memastikan setiap produk tidak hanya memenuhi standar internasional, tetapi juga relevan dengan kebutuhan lokal.

Selain fokus pada nutrisi, Sarihusada juga menekankan pentingnya keberlanjutan dalam operasional pabriknya. Lastiani Rosalina selaku Factory Director Danone Specialized Nutrition East, menegaskan perusahaan konsisten menerapkan prinsip bisnis berkelanjutan.

“Kami menggunakan energi terbarukan melalui Boiler Biomassa, yang tidak hanya mampu menurunkan emisi karbon secara signifikan, tetapi juga memberi manfaat sosial-ekonomi bagi komunitas petani lokal melalui pemanfaatan abu sekam sebagai pupuk. Dengan cara ini, kami ingin menghadirkan nilai yang lebih luas, baik bagi lingkungan maupun masyarakat,” katanya.

Dalam perjalanannya selama 71 tahun, Sarihusada tidak hanya menekankan pada produk, tetapi juga edukasi, riset, serta kemitraan lintas sektor. Komitmen itu menjadi bukti bahwa pemenuhan gizi anak bukan semata urusan keluarga, melainkan tanggung jawab bersama seluruh pihak yaitu pemerintah, swasta, akademisi, organisasi, hingga masyarakat.

Dengan sejarah panjang dari Yogyakarta hingga kini, Sarihusada menegaskan posisinya sebagai mitra bangsa dalam menyiapkan generasi penerus yang sehat, cerdas, dan berdaya saing tinggi. Sebuah langkah penting menuju Indonesia Emas 2045. (*)