mereka-yang-kehilangan-pekerjaan-akibat-pandemiPara pekerja pabrik bulu mata palsu di Kabupaten Purbalingga yang terancam PHK akibat pandemi Covid-19. (prasetiyo/koranbernas.id)


Redaktur

Mereka yang Kehilangan Pekerjaan Akibat Pandemi

SHARE

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- "Bu, iki gajiku terakhir ya," kata Mustari sembari menyerahkan uang Rp 125.000 kepada Ngadirah, isterinya.


Baca Lainnya :

     

    Suara pria berusia 46 tahun asal Sorowajan Bantul itu bergetar. Langit Yogyakarta yang tersapu mendung sore itu terasa makin kelihatan redup. Ngadirah menerima dengan hati bergetar. Dengan gaji setiap hari bekerja saja harus dicukup-cukupkan untuk hidup keseharian dengan dua anak. Tapi apa daya, semua harus diterima dengan rasa syukur


    Baca Lainnya :

       

      Uang yang diserahkan Mustari itu merupakan gaji lima hari kerja terakhir setelah dia bersama sejumlah temannya dirumahkan dari sebuah perusahaan swasta di Yogyakarta. Bulan pertama dia masih mendapat gaji penuh, Rp 125.000. Sesudah itu tidak ada lagi gaji.

       

      Mustari dan Ngadirah memang harus menerima kenyataan pahit akibat pandemi Covid-19. Namun, Ngadirah tetap bersyukur karena masih ada usaha warung, meski super kecil di balik pintu rumah di gang sempit yang tak bisa dilewati mobil, tepatnya di Jetis Gang Srigati RT 31 RW 08 Kelurahan Sorosutan Yogyakarta. Pembelinya hanya tetangga sendiri yang sangat terbatas jumlahnya.

       

      Tak lagi berpenghasilan akibat pandemi, memaksa Ngadirah memutar otak demi tegaknya ekonomi rumah tangga. Sampai suatu saat Ngadirah punya ide.

      "Pak mbok bali gawe cemplon meneh yo (Pak, bikin kue cemplon lagi yuk),” kata Ngadirah.

       

      Mustari yang menyadari tak mampu memberi nafkah keluarga, langsung setuju. Dia sanggup membantu. Dulu mereka memang pernah membuat cemplon sebagai samben. Namun terhenti ketika Ilham lahir, hampir lima tahun lalu.

       

      Bermodal Rp 50.000, mereka kemudian berbelanja bahan-bahan untuk membuat kue cemplon. Singkong, kelapa muda, gula jawa, minyak goreng dan gas. Dicoba dengan 3 kg singkong, ternyata cemplonnya laris. Dititip di warung sayur serta angkringan. Selain cemplon ada juga combro yang isinya sambel tempe.

       

      Cemplon buatan Ngadirah makin menyebar dari mulut ke mulut. Karena empuk, gurih dan manis. Sampai esok harinya pun masih empuk. Kuncinya, kata Ngadirah, kelapa muda parutnya harus banyak. Singkongnya pun selalu baru, dibeli di Pasar Tela Karangkajen langsung pas turun dari mobil pengangkut. 

       

      Ngadirah menjual kue cemplonnya Rp 500 per biji. "Harga segitu apa dapat untung?" tanya KoranBernas, Sabtu (27/6/2020) sore. Ngadirah dan Mustari hanya tersenyum.

       

      "Alhamdulillah, setiap hari saya bisa menyisakan uang sekitar Rp 15.000, selain sedikit untuk kebutuhan rumah,” kata Ngadirah. Sebab, kini ia sudah mampu membuat cemplon dan combro dari 10 kg singkong meski harus ditebus dengan kerja super keras. Bangun pukul 03.00 dinihari, Mustari mulai memarut singkong dan kelapa muda. Mereka berbagi tugas. Ngadirah membuat sambal tempe isi combro.

      Ketika adzan Subuh berkumandang, mereka berhenti kerja untuk salat. Kerja cepat harus dilakukan lagi. Ngadirah yang sudah ngglindhingi cemplon dan combro, segera menggorengnya karena pukul 05.00 harus ada yang sudah disetor. Rata-rata 20 biji.

       

      Saat ini ada 11 tempat yang dititipi. Mustari harus berkeliling sesuai rutenya. Setor pagi usai pukul 09.00 bukan berarti pekerjaan selesai. Mereka harus bersiap produksi lagi untuk angkringan sore. Setoran pagi, uangnya diambil siang atau sore. Setoran sore diambil pagi. Jika dagangan titipan itu habis, mereka hanya mendapat uang Rp 8.000 per warung.

       

      "Kadang ada yang tidak habis. Masih sisa satu atau dua, saya tinggal saja," kata Mustari.

       

      Mereka menyadari memang harus menjemput tezeki recehan dengan kelipatan rupiah. Angka yang secara ekonomi tidak berarti, namun tetap mereka syukuri meski pun harus ditebus dengan banting tulang.

       

      Sejak sebulan lalu, atas permintaan pelanggan, dagangannya bertambah tape goreng. Harganya sama. Konsekuensinya, pekerjaan makin bertambah pula.

       

      Selain dititipkan di warung,  ada juga pesanan khusus untuk kantor dan arisan. Kisarannya Rp 5.000 sampai Rp 25.000. Tapi untuk pesanan langsung, Ngadirah tetap pasang harga Rp 400 per biji. Kok tidak Rp 500 seperti mereka beli di warung atau angkringan? "Saya niatkan sedekah. Saya bisanya ya cuma seperti ini," kata Ngadirah.

       

      Jawaban yang mengejutkan. Orang seperti Ngadirah dan Mustari, dengan kondisi ekonomi seperti itu yang pantas disedekahi, ternyata masih berpikir bagaimana dia bisa bersedekah. Sekecil apapun.

       

      Dirumahkan

       

      Kehilangan pekerjaan akibat pandemi Covid-19 tidak hanya dialami Mustari. Sebanyak 930 orang pekerja pabrik di Purbalingga, Jawa Tengah, juga terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mereka adalah pekerja dengan perjanjian kerja waktu tertentu (PKWT) atau pekerja kontrak yang habis masa kontrak dan tidak diperpanjang perusahaan.

      Kepala Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Purbalingga, Edhy Suryono, menjelaskan PHK yang terjadi pada 9 pabrik itu dilakukan saat masa pandemi Covid-19. “Ada pabrik rambut dan bulu mata, mainan, dan pabrik kayu. Paling banyak di pabrik rambut dan bulu mata,” ungkapnya.

      Sementara lainnya menerapkan model kerja shift atau dirumahkan. Artinya bagi perusahaan yang tidak memungkinkan para pekerjanya jaga jarak minimal 1 meter saat di ruangan, maka dirumahkan. Mereka juga tetap diberikan upah sesuai kesepakatan bersama dengan serikat pekerja.

      “Saat ini pemberian upah di kisaran 30-40 persen bagi yang mengalami dirumahkan. Jadi besarannya beda-beda,” ujarnya.

      Dinas berharap pandemi ini segera berakhir agar semua bisa kembali bekerja secara normal. Tak hanya di perusahaan, termasuk di sektor usaha dan investasi lainnya di Kabupaten Purbalingga.

      Seperti diketahui, Purbalingga dikenal sebagai industri bulu mata dan rambut palsu nomor dua terbesar di dunia, setelah Gwangju, Korea Selatan. Industri bulu mata dan rambut palsu di Purbalingga dirintis pada tahun 1970-an, dan belakangan semakin berkembang pesat. Namun seiring datangnya pandemi Covid-19, nampaknya bisnis bulu mata dan rambut palsu kini mulai meredup.
      (ato/prs)



      SHARE

      BERITA TERKAIT

      Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

      Tulis Komentar disini