adu-siasat-sektor-pendidikan-akibat-pandemiIlustrasi. (jakartakita.com)


Redaktur

Adu Siasat Sektor Pendidikan Akibat Pandemi

SHARE

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA – Dampak pandemi Covid-19 juga menyasar ke dunia pedidikan di Indonesia. Proses belajar mengajar yang selama ini mengadalkan metode tatap muka, beralih ke metode daring dengan memanfaatkan teknologi IT. Peralihan metode ini tentu memunculkan banyak persoalan, juga cerita menarik di belakangnya.


Baca Lainnya :

 

Cerita menarik itu, salah satunya, datang dari Anindya Indra Gracia.  Mahasiswa UPN Veteran Yogyakarta ini sudah mengajukan proposal skripsi dan sudah dinyatakan lolos oleh dosen pembimbingnya. Namun, pandemi Covid-19 membuatnya berantakan. Ia tak bisa melakukan penelitian di laboratorium untuk melengkapi skripsinya.


Baca Lainnya :

     

    “Akhirnya saya balik ke Semarang di tengah pandemi. Apalagi haus bayar uang kos Rp 650 ribu per bulan, sayang sekali,” keluhnya.

     

    Tak ingin nganggur di rumah, Andin (sapaan akrab Anindya) kemudian memutuskan terjun ke bisnis online sebagai dropshiper dagangan online kawan lainnya. Andin mulai mengumpulkan receh di dompetnya sembari menanti kelanjutan penelitian skripsinya.

     

    Hal yang sama dilakukan Adistyanina. Ia juga terhenti penelitian skripsinya gara-gara pandemi Covid-19. Menafaatkan hobi memasaknya, ia akhirnya terjun ke bisnis online dengan menawarkan masakan olahannya dengan label Rihten (Gurih Tenan).

    “Puji Tuhan, sekarang sudah lanjut skripsinya, masuk bab IV. Namun usaha online kuliner juga jalan. Bersyukur saja bisa menambah tabungan,” ujarnya.

     

    Lain lagi dengan Cinta. Lulusan SMK 6 Semarang ini mencoba membuat roti isi pisang, demi menyenangkan hati ibunya. Ternyata, roti isi pisang buatan Cinta dipuji karena rasanya yang enak.

     

    “Mama tidak hanya makan roti buatan saya, tapi juga ditawar-tawarkan dan lumayan banyak yang pesan. Makanya sekarang saya mencoba melanjutkan pendidikan menjadi seorang chef untuk memperdalam keahlian masak,” ujarnya.

     

    Amelia, seorang lulusan psikolog USM Semarang juga mencoba peruntungannya dengan membuat resoles dan dijual secara online. “Iya, bersyukur di tengah kesulitan mencari pekerjaan saat ini, saya mencoba membuka lapangan pekerjaan sendiri. Semoga pandemi segera berakhir,” ujarnya

     

    Wajib Isolasi

     

    Mahasiswa yang berkuliah di kawasan Sleman, Yogyakarta, justru punya persoalan tersendiri. Sejumlah kampus di Sleman memulai masa perkuliahan di bulan Juli 2020 ini. Namun, mahasiswa baru maupun lama yang akan masuk ke Sleman diwajibkan menjalani karantina mandiri selama dua minggu.

    Aturan ini berlaku bagi mahasiswa yang berasal dari daerah yang menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

     

    "Mahasiswa dari daerah PSBB agar melakukan karantina mandiri selama 14 hari, kecuali yang dapat menunjukkan hasil Rapid Diagnostic Test (RDT) yang masih berlaku dengan hasil non-reaktif," kata Shavitri Nurmala Dewi, Juru Bicara Gugus Tugas Covid-19 Sleman, pekan lalu.

     

    Setelah sampai di Sleman, para mahasiswa tersebut juga harus melaporkan kedatangannya kepada pengelola kos atau asrama serta pihak perguruan tinggi. Selain mengisi data, mereka diminta membawa lampiran surat keterangan sehat yang dibuat maksimal tujuh hari sebelum kedatangan. Bagi yang sudah telanjur datang ke Sleman, bisa mencari surat keterangan sehat di faskes (fasilitas kesehatan)  yang ada di wilayah DIY. 

     

    Laporan itu nantinya akan diteruskan berjenjang kepada Bupati melalui Kepala Dinas Kesehatan, oleh pimpinan perguruan tinggi dan Camat setempat. Dukuh dan ketua RT/RW juga mendapat tugas mendata mahasiswa dari luar daerah.

     

    "Jika mendapati pendatang yang perlu penanganan Puskesmas, segera laporkan kepada Kades dengan tembusan Camat. Setelahnya, Kades yang menyampaikan kepada kepala UPT Puskesmas," terang Evi, sapaan akrab Shavitri.

     

    Untuk mencegah penularan virus Corona, pengelola kos atau asrama dan pihak kampus diwajibkan pula menerapkan protokol kesehatan di lingkungan masing-masing. Semua langkah panduan penerimaan kedatangan mahasiswa dari luar daerah itu telah dikuatkan melalui Surat Edaran Bupati Sleman Nomer 443/01352.

     

    Kepala Dinkes Sleman, Joko Hastaryo, menyatakan persyaratan membawa hasil RDT minimal satu kali uji dengan hasil non-reaktif diperuntukkan bagi mahasiswa dari daerah yang memberlakukan PSBB. Sedangkan mahasiswa yang bukan berasal dari daerah PSBB, cukup membawa surat keterangan sehat.

     

    "Bagi mahasiswa dari wilayah PSBB yang belum melakukan RDT atau hasil rapid test sudah tidak berlaku, ada dua pilihan. Pertama, melakukan RDT secara mandiri di faskes yang ada di DIY dengan hasil non-reaktif atau karantina mandiri selama 14 hari," jelasnya. 

     

    Menunggu Petunjuk

    Di Kabupaten Kebumen, datangnya era tatanan baru atau new normal tidak serta-merta diikuti dengan kegiatan belajar mengajar secara tatap muka di sekolah-sekolah. Kegiatatan pendidikan dalam bentuk tatap muka di sekolah tergantung dari keputusan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

    “Belum bisa dibuka. Masih menunggu petunjuk dari Kementerian Pendidikan,“ kata KH Yazid Mahfudz, Bupati Kebumen yang juga Ketua Gugus Tugas PP Covid-19 Kebumen, yang didampingi Sekretaris Daerah Kebumen, H Ahmad Ujang Sugiono, kepada KoranBernas, Kamis (2/7/2020).

    Pemkab Kebumen meski punya kewenangan mengatur pendidikan dari PAUD hingga SMP, namun keputusan membuka sekolah dengan tatap muka harus menunggu petunjuk Kenterian Pendidikan dan Kebudayaan. Yang saat ini dilakukan adalah sosialisasi protokol kesehatan kepada pengelola sekolah negeri dan swasta. Jika nantinya sudah boleh melakukan tatap muka, sekolah sudah siap.

    Namun, menurut pengamatan KoranBernas, belum semua sekolah di Kebumen sudah menyiapkan sarana protokol kesehatan. Seperti tempat cuci tangan yang mencukupi untuk kebutuhan seluruh anak didik.

    Namun, beberapa sekolah swasta ada yang sudah siap. Misalnya, SD Islam Terpadu di Desa Jatimulyo, Kecamatan Alian, Kebumen, jauh hari sebelum memasuki tahun ajaran baru sudah menyiapkan wastafel untuk cuci tangan siswa dan guru. Jumlah wastafel lebih dari cukup dibanding dengan jumlah siswanya, sehingga kemungkinan terjadi kerumunan saat cuci tangan, bisa diminimalisir.

    Belum Siap

    Peserta didik yang dituntut harus berlajar di rumah secara daring akibat pandemi Covid-19, kini mulai merasa jenuh. Tidak hanya peserta didik, orang tua peserta didik juga mulai jenuh.

    “Maka untuk yang SD dan SMP, yang saya tahu, akhirnya blanded. Bukan tatap muka di sekolah tapi tatap mukanya lewat IT. Melalui cara ini, guru memberikan penugasan dan tatap muka melalui aplikasi. Orangtua mengambil e-modul di sekolah, kemudian dibawa pulang untuk anaknya,” kata Dr Sujarwo M.Pd, Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) UNY, kepada KoranBernas.

    Menurut Sujarwo, banyak pihak menjerit karena perubahan sistem belajar-mengajar akibat pandemi Covid-19. Proses pembelajaran yang sejauh ini dilakukan, seolah-olah priroitas hanya ke kongitif. Yang afeksi diserahkan dan menjadi tanggung jawab orang tua di rumah.

    Imbas pandemi Covid-19 juga dirasakan di perguruan tinggi. Kendala tidak hanya dialami mahasiswa, namun juga dosen. “Ada sebagian kecil yang belum siap dengan pemanfaatan daring. Ada kendala karena lokasi domisili blank spot sehingga tidak bisa mengikuti perkuliahan secara daring,” katanya.

    Persoalan serius dunia pendidikan akibat pandemi Covid-19 juga disampaikan Dr Cepi Safruddin Abdul Jabar M.Pd, Wakil Dekan bidang Akademik dan Kerjasama FIP UNY. Ketika era new normal mulai diterapkan, anak didik harus belajar mandiri dan sendiri di rumah karena orang tua sudah mulai bekerja.

    “Siapa yang bantu mengarahkan? Apalagi ditambah guru tidak punya kemampuan menyiapkan cara pembelajaran seperti itu. Anak-anak tambah bingung dan jadi korban. Luar biasa masalah yang dihadapi anak anak. Kalau anak kesulitan, orang tua juga belum tentu bisa membantu. Kemampuan orag tua tidak biasa disiapkan mendampingi anak anak belajar secara daring. Belum lagi bicara dari sisi ketersediaan sarana prasarana,” paparnya.

    Menyediakan gadget sebagai sarana pendidikan di rumah, bukanlah perkara mudah bagi orang tua. Jika orang tua hanya punya satu handphone, padahal ia memiliki dua atau tiga anak, akan jadi persoalan besar.

    Padahal yang saya dengar, di masa pandemi ini guru seringkali memberikan penugasan pagi dan malamnya sudah harus dikirimkan. Lha kalau yang berkucupan, gak apa-apa. Yang dalam kondisi pas-pasan, itu jadi masalah lho,” kata Cepi.

    Sambungan internet juga menjadi persoalan sendiri ketika anak didik dipaksa belajar di rumah secara daring. Untuk kawasan kota Yogyakarta, mungkin sudah cukup bagus dan merata. “Kalau di luar daerah, belum tentu. Mereka untuk mendapatkan sinyal harus ke kecamatan, misalnya,” katanya.

    Menurut Cepi, dalam kondisi seperti sekarang ini masyarakat harus kreatif. Misalnya merangkul TV lokal dan stasiun radio untuk bersama-sama mengembangkan program pembelajaran bagi masyarakat.

    “Kenapa tidak ada sekolah yang mencoba menjalin kerja sama dengan radio? Misalnya kerja sama berupa pengalokasian waktu khusus. Saya juga belum dengar ada radio sekitar kita punya space khusus. Zaman dulu malah sudah pernah jalan. Di Australia, radio bermanfaat banget saat pembelajaran,” katanya.

    Radio, kata Cepi, semua masyarakat dari berbagai lapisan bisa menjangkau. Intinya perlu terobosan untuk memanfaatkan apa yang ada di sekitar kita untuk mendukung proses pembelajaran daring.

    “Selama ini banyak warga yang selalu merasa terkendala dengan dana. Padahal dengan kreativitas bisa dilakukan dengan lebih baik. Pemerintah, sekolah, masyarakat dan orag tua bisa saling sinergi dan bahu membahu. Kita masih jalan sendiri-sendiri,” katanya. (ran/nil/nwh/SM)



    SHARE

    BERITA TERKAIT

    Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

    Tulis Komentar disini