Warga Sleman dan Kedutaan Jepang Jajaki Konsep "Sister Village"

Jepang memiliki pengalaman panjang dalam literasi bencana dan penguatan komunitas, sementara desa-desa kita punya tradisi gotong royong dan literasi budaya

Warga Sleman dan Kedutaan Jepang Jajaki Konsep "Sister Village"
Tanaka Motoyasu bersama Noor Huda Ismail dan anak-anak Desa Betakan belajar seni melipat kertas menjadi origami. (istimewa)

KORANBERNAS.ID, SLEMAN--Di sebuah pelataran asri di Desa Betakan, Moyudan, Sleman, sebuah panggung diplomasi yang tidak biasa digelar pada Sabtu (23/8/2025). Jauh dari ruang-ruang pertemuan formal di ibu kota, Yayasan Literasi Desa Tumbuh menjadi tuan rumah bagi sebuah dialog hangat antara warga desa, pelaku UMKM, pegiat pendidikan alternatif, dengan seorang tamu kehormatan: Tanaka Motoyasu, Direktur Urusan Politik dari Kedutaan Besar Jepang di Indonesia.

Acara bertajuk “Ngobrol Bareng” ini menjadi titik awal penjajakan sebuah gagasan besar: membangun kolaborasi sister village atau desa kembar antara Indonesia dan Jepang. Pertemuan ini menjadi titik temu lintas sektor, berbagai lembaga pendidikan alternatif seperti Narapuspitan, Sanggar Anak Alam Nitiprayan dan Lebah Putih, praktisi di bidang perlindungan anak -LPA Klaten, hingga pemerintah Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi DIY turut hadir, duduk bersama dan mendiskusikan potensi kolaborasi dari desa.

Sebelum diskusi substantif dimulai, jembatan keakraban dibangun melalui bahasa budaya yang universal. Anak-anak dari komunitas Aksara Tari menyambut para tamu dengan gerak gemulai Tari Nusantara.

Suasana semakin cair ketika semua peserta, termasuk sang diplomat, diajak untuk bersama-sama melipat kertas menjadi origami. Momen sederhana ini berhasil memecah kekakuan dan menciptakan landasan persahabatan yang tulus.

Berbagi Kearifan Lokal

Diskusi yang dipandu oleh pendiri Yayasan Literasi Desa Tumbuh, Dr. Noor Huda Ismail, mengalir santai namun sarat makna. Para peserta antusias belajar tentang sistem pendidikan dan, yang terpenting, literasi kebencanaan di Jepang.

“Pengurangan risiko di Jepang sangat diperhatikan, setiap tahunnya sekolah harus mengadakan simulasi bencana,” ungkap Tanaka Motoyasu, memberikan wawasan berharga bagi masyarakat Indonesia yang juga hidup di wilayah rawan bencana.

Namun, ini bukanlah sesi belajar satu arah. Noor Huda Ismail menegaskan bahwa desa-desa di Indonesia memiliki kekuatan unik yang bisa dibagikan. “Jepang memiliki pengalaman panjang dalam literasi bencana dan penguatan komunitas, sementara desa-desa kita punya tradisi gotong royong dan literasi budaya. Pertemuan ini adalah titik awal untuk menjembatani dua kekuatan itu,” jelasnya.

Menghidupkan Ekonomi Desa

Konsep “diplomasi rakyat” yang diusung Noor Huda terasa nyata dalam setiap detail acara. Para ibu dari UMKM lokal dilibatkan secara aktif untuk menyediakan hidangan tradisional bagi para peserta. Panggung diplomasi ini sekaligus menjadi etalase bagi produk-produk ekonomi desa.

Ismiyati, salah seorang warga yang terlibat, menyuarakan harapannya. “Sebagai warga desa, saya bangga bisa terlibat. Tidak hanya belajar tentang Jepang, kami juga mendapat kesempatan untuk mengembangkan UMKM. Harapan kami, kerja sama Sister Village nantinya benar-benar terlaksana,” ujarnya.

Acara ditutup dengan sebuah seremoni simbolis: penanaman pohon alpukat oleh Tanaka Motoyasu dan Noor Huda Ismail. Pohon ini menjadi lambang persahabatan dan harapan yang akan tumbuh bersama seiring waktu.

Sebagaimana diketahui, Yayasan Literasi Desa Tumbuh adalah organisasi berbasis masyarakat yang berfokus pada penguatan literasi, pendidikan, seni, dan pemberdayaan desa. Melalui program Ruang Baca, pelatihan, dan kolaborasi lintas budaya, LDT berkomitmen menjadikan desa sebagai pusat pembelajaran dan inovasi sosial. (*)