UMY Gelar Konferensi Internasional, Bahas Blockchain dan AI
Pada Juli 2025, aset digital berbasis blockchain dinyatakan bebas pajak oleh Kementerian Keuangan.
KORANBERNAS.ID, BANTUL -- Teknologi blockchain dinilai menjadi solusi kunci membangun kepercayaan publik terhadap sistem digital, khususnya pendidikan tinggi.
Hal ini disampaikan Prof Dr Suryo Pratolo dalam konferensi International Conference on Sustainable Innovation (ICoSI) yang digelar di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Rabu (6/8/2025).
“Digitalisasi membutuhkan transparansi dan akuntabilitas. Blockchain menjamin keduanya,” ujar Suryo.
Menurutnya, sistem terdesentralisasi dan terenkripsi ini mampu menjaga keamanan dan efisiensi data serta proses bisnis digital.
Bebas pajak
Pemerintah Indonesia juga mulai merespons kemajuan ini. Pada Juli 2025, aset digital berbasis blockchain dinyatakan bebas pajak oleh Kementerian Keuangan.
“Ini peluang besar, termasuk bagi kampus dalam penerbitan ijazah digital dan pengelolaan keuangan,” tambahnya.
Meski potensial, Suryo mengakui kesiapan institusi pendidikan masih rendah, terutama dari sisi infrastruktur.
Dalam sesi terpisah, Prof Janitha Amarasena dari Bukhara University Uzbekistan menegaskan pentingnya regulasi yang tepat dalam pemanfaatan kecerdasan buatan atau AI dan teknologi digital di bidang pendidikan.
Literasi
“Teknologi efektif jika didukung kebijakan yang menjamin akses adil dan inovasi berkelanjutan,” katanya.
Dia menyebutkan digitalisasi harus disertai literasi, infrastruktur memadai dan kesiapan pendidik. Janitha menyatakan teknologi kini adalah alat utama pembelajaran generasi masa kini.
“Teknologi adalah pena dan kertas zaman ini, maka manfaatkan dengan bijak,” katanya. (*)
Muhammad Zukhronnee Muslim
