UMBY Dukung Guru BK Membentuk Siswa Bermental Kuat
Mental yang kuat dimulai dengan membangun rasa percaya diri, guru dapat memberikan contoh.
KORANBERNAS.ID, BANTUL -- Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) melalui Biro Pemasaran menyelenggarakan kegiatan bersama Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling (MGBK) SMA, MA dan SMK se-Kabupaten Bantul.
Kepala Humas UMBY, Widarta MM, melalui siaran pers ke redaksi koranbernas.id, Kamis (30/10/2025), mengatakan acara bertema Stay Calm and Trust Your Process: Kesiapan Mental Siswa Menghadapi Ujian Hidup dan Akademik itu berlangsung Rabu (22/10/2025) di Kampus 1 Jalan Wates Km 10 Sedayu Bantul.
Ketua MGBK Kabupaten Bantul, Hartuti M Pd, berharap kegiatan seperti ini dapat memberikan informasi terkait kesiapan mental menghadapi tantangan kehidupan, khususnya bagi siswa SMA kelas XII dengan cara pengendalian stres dan emosi.
Percaya diri
“Penerapan pendekatan mindfulness dan discovery learning agar siswa terbiasa berpikir reflektif dan positif serta aktif mengikuti ekstrakurikuler juga dapat melatih ketahanan mental dan rasa percaya diri,” terang Hartuti. Kegiatan diikuti 80 peserta.
Dosen Bimbingan dan Konseling (BK) UMBY, Nur Sholehah Dian Saputri M Pd, sebagai pembicara utama menyatakan pentingnya kesiapan mental dan pengelolaan emosi siswa dalam menghadapi berbagai tantangan bidang akademik maupun kehidupan pribadi.
Dian menerangkan kesiapan mental siswa adalah fondasi penting bagi keberhasilan menghadapi ujian. Sekolah dan keluarga perlu berperan aktif membentuk lingkungan yang mendukung kesehatan mental dan emosional siswa.
Dengan mental yang kuat, siswa tidak hanya mampu melewati ujian dengan baik, tetapi juga tumbuh menjadi individu yang tangguh, berkarakter dan siap menghadapi tantangan kehidupan.
Sikap positif
Dian menguraikan, mental yang kuat dimulai dengan membangun rasa percaya diri, guru dapat memberikan contoh dengan menunjukkan sikap positif saat menghadapi kesulitan, mengajarkan teknik self-regulation, seperti menarik nafas dalam, menulis jurnal atau berbicara dengan guru BK serta menggunakan metode role play atau bimbingan kelompok untuk membahas cara menghadapi stres dan konflik.
Para guru BK berdiskusi langsung dengan pihak UMBY terkait berbagai layanan pendidikan, termasuk informasi bahwa UMBY merupakan kampus yang ramah bagi siswa difabel. Hal ini menjadi perhatian penting setelah adanya pertanyaan dari beberapa guru mengenai dukungan kampus terhadap mahasiswa berkebutuhan khusus.
Melalui kegiatan ini, UMBY kembali menegaskan komitmennya sebagai kampus yang inklusif dan peduli terhadap pengembangan potensi peserta didik dari berbagai latar belakang, serta siap menjadi mitra strategis sekolah-sekolah dalam mendukung keberhasilan pendidikan yang berkelanjutan.
Marwanto S Pd, peserta kegiatan dari SMA 1 Sedayu menilai materi yang disampaikan berdampak kepada guru SMA sebagai garda terdepan dalam menangani masalah kesehatan mental siswa dalam proses pembelajaran atau proses dalam menghadapi ujian. (*)
Sariyati Wijaya
