Tujuh Kontingen Siap Tampil, Parade Gangsa di Monumen SO 1 Maret
Seni budaya sudah menjadi peran penting dalam kehidupan masyarakat Yogyakarta.
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA – Tujuh kontingen siap tampil mengisi kegiatan pentas seni budaya Parade Gangsa yang akan digelar di Monumen Serangan Oemoem (SO) 1 Maret Yogyakarta, Senin (27/11/2023) pukul 19:00.
Menariknya, kontingen atau kelompok yang mengisi acara yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY tersebut semuanya berasal dari instansi keamanan dan penegak hukum serta satu kelompok dari komunitas gamelan.
Kepala Bidang Pemeliharaan dan Pengembangan Adat, Tradisi, Lembaga Budaya dan Seni Dinas Kebudayaan DIY, Dra Yuliana Eni Lestari Rahayu, saat konferensi pers di Kantor Dinas Kebudayaan DIY, Jumat (24/11/2023), menyatakan acara itu diharapkan dihadiri Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X.
“Instansi-instansi tersebut sudah diberikan hibah gamelan oleh Bapak Gubernur. (Pentas) ini bukan festival atau lomba melainkan parade,” ungkap Eni, panggilan akrabnya, didampingi Kepala Seksi Adat dan Tradisi, Isna Elvianti SH.
Eni menjelaskan, gamelan-gamelan tersebut pada acara Parade Gangsa akan dimainkan oleh perwakilan dari Akademi Angkatan Udara, Korem 072/Pamungkas, Kejaksaan Tinggi DIY, Polda DIY, Pangkalan TNI Angkatan Laut Yogyakarta, Kanwil Kemenkumham DIY, juga Komunitas Gayam 16.
Susunan acara Parade Gangsa. (istimewa)
Kegiatan itu sesuai dengan program penyelenggaraan Keistimewaan Yogyakarta Urusan Kebudayaan yang beriringan dengan tugas pokok Dinas Kebudayaan yaitu melindungi, memelihara, mengembangkan dan memanfaatkan kebudayaan di DIY.
“Pemerintah DIY dalam hal ini Dinas Kebudayaan DIY melaksanakan kegiatan Pentas Seni Budaya Nusantara “Parade Gangsa” untuk terus melestarikan budaya,” kata dia.
Terlaksananya kegiatan itu dilatarbelakangi Daerah Istimewa Yogyakarta yang menyandang predikat sebagai Kota Budaya dan kaya akan sumber daya budaya. “Saat ini seni budaya sudah menjadi peran penting dalam kehidupan masyarakat Yogyakarta,” jelasnya.
Disebutkan, pada Parade Gangsa khusus ditampilkan kesenian gamelan. Masyarakat Jawa menyebut gamelan sebagai gangsa.
Adapun instrumen yang dimainkan berupa seperangkat gamelan antara lain kendang, bonang, gender dan gambang. Selain itu ada juga suling, siter, clempung, slenthem, demung, saron, gong, kenong, kethuk, kempyang, kempul dan peking.
ARTIKEL LAINNYA: Apa Itu Nomor Induk Kebudayaan, Kenapa Pemiliknya Diprioritaskan?
“Acara Parade Gangsa ini tidak dipungut biaya (gratis) sehingga dipertontonkan juga untuk masyarakat umum. Tujuannya untuk menggali potensi keberagaman yang ada di Yogyakarta sekaligus sebagai upaya pengembangan seni budaya serta memenuhi kebutuhan para pelaku seni budaya,” kata Eni.
Secara teknis, masing-masing kelompok yang berbusana gagrak Yogyakarta membawakan gendhing pilihan yaitu Semangat Juang 45, Sabda Proklamasi dan Kuwi Apa Kuwi.
Pada setiap kelompok, pimpinan instansi ikut berada di atas panggung, tidak harus memainkan gamelan, melainkan mendampingi mereka.
Usai tampil satu per per satu, di bawah arahan Ari Wulu sebagai art director, seluruh kontingen secara bersama-sama memainkan gendhing wajib Nuswantara.
Menariknya lagi, selain tata panggung dibuat sedemikian rupa, acara itu juga akan dimeriahkan penampilan bintang tamu Dalijo dan Daruni. Sedangkan pada pembukaan acara ditampilkan tari Golek Ayun-ayun. (*)