Jumat, 22 Jan 2021,


tino-sidin-guru-gambar-fenomenal-yang-tak-dikenal-generasi-digitalPanca Takariyati Sidin, putri bungsu mediang Tino Sidin sekaligus Kepala Museum Tino Sidin saat memperlihatkan karya-karya lomba lukis on the spot yang dipamerkan hingga akhir Oktober 2020. (muhmmad zukhronnee ms/koranbernas.id)


Muhammad Zukhronnee Muslim

Tino Sidin, Guru Gambar Fenomenal yang Tak Dikenal Generasi Digital


SHARE

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Siapa tak kenal sosok seniman sekaligus guru menggambar Tino Sidin? sosok yang acap tampil layar kaca dalam program Gemar Menggambar ini selalu ditunggu-tunggu setiap hari minggu sore di satu-satunya stasiun televisi pada waktu itu yaitu TVRI. Sejak tayangan perdana pada 1978 Tino Sidin dengan pembawaannya yang ramah, sabar dan selalu memuji setiap karya muridnya dengan kata-kata yang khas ini sangat membekas dalam ingatan generasi 80 hingga 90an.

Dalam acara berdurasi 30 menit ini Pak Tino mengajarkan kepada anak-anak bagaimana menggambar itu sangat mudah, hanya cukup dimulai dengan angka sederhana lalu dihubungkan dengan garis lurus dan lengkung. Cara mengajar yang supel dan sederhana ini tentu sangat mudah diingat dan ditirukan oleh anak-anak.

  • Ruangan Tertutup Berpotensi Menjadi Sumber Penularan Virus
  • Kampus Seni Tak Sepenuhnya Siap Menghadapi Pandemi

  • Siapa sangka setiap materi yang terlihat sangat sederhana dan mudah untuk ditirukan ini ternyata dipersiapkan dengan matang oleh seniman kelahiran Tebingtinggi, Sumatera Utara, 25 November 1925.

    "Bapak selalu mencari dan melakukan percobaan-percobaan  dengan pola-pola yang mudah diterima oleh anak-anak. Apalagi durasi tayang yang singkat, bapak harus membuatnya agar mudah ditangkap oleh anak-anak," papar Panca Takariyati Sidin, Putri bungsu Tino Sidin saat ditemui koranbernas.id Senin (12/10/2020) di taman, museum dan galeri Tino Sidin, Kadipiro, Yogyakarta.

  • Pandemi, Rahim Baru Kreativitas Sedhut Senut
  • Keluarga Besar Pelajar Islam Tolak Omnibuslaw

  • Sejak 1980 pekerjaannya sebagai guru menggambar pun menasional. Melalui program kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tino Sidin menjadi penatar guru gambar tingkat TK dan SD secara nasional. Buku Gemar Menggambar sebanyak enam jilid miliknya pun disahkan sebagai buku pegangan guru Sekolah Dasar seluruh Indonesia.

    Namun sayang, Tino Sidin yang sangat terkenal dan familiar bagi generasi di era 80 dan 90an ternyata tidak terlalu populer dikalangan generasi Z yang sibuk dengan gadget dan serba digital saat ini. Terlebih bagi remaja yang tidak punya ketertarikan sejarah seni dan Seni Rupa khususnya menggambar.

    Untuk lebih memperkenalkan lagi kiprah seniman Tino Sidin kepada kaum milenial, Taman, Museum dan Galeri Tino Sidin menggelar acara lomba melukis on the spot pada Sabtu (10/10/2020). Acara yang diikuti oleh puluhan peserta dari Yogyakarta dan sekitarnya ini membebaskan peserta lomba untuk menangkap, menggambar dan merepresentasikan apapun yang mereka  lihat di sekitar museum.

    Selain itu, Lomba lukis on the spot juga dilaksanakan sarasehan seni yang bertajuk "Tino SIdin dan Museum dalam bingkai 95 Tahun Tino Sidin" pada Senin (12/10/2020). merupakan rangkaian peringatan Hari Museum Indonesia 2020 sekaligus merayakan 95 Tahun Tino Sidin. Sarasehan ini menghadirkan pembicara dari kalangan seniman dan permuseuman, yakni seniman senior Dra. Dyan Anggraini Hutomo, Ketua Umum Barahmus DIY Ki Bambang Widodo.

    Panca Takariyati, atau lebih akrab dipanggil Titik Tino Sidin melanjutkan, rangkaian kegiatan ini bertujuan untuk mengenalkan kembali sosok Tino Sidin dan Museum Taman Tino Sidin kepada masyarakat umum, khususnya generasi milenial. Melalui sarasehan seni, mereka diajak untuk melihat sejarah dan kiprah Tino Sidin dalam dunia senirupa, pendidikan, dan perjuangan bangsa.

    Sarasehan diakhiri dengan pengumuman pemenang lomba lukis on the spot, penyerahan hadiah, dan pembukaan pameran hasil lomba yang akan dilaksanakan hingga akhir Oktober 2020. Para pemenang lomba lukis on the spot antara lain Nanda Esa Janma, G. Sugiharto, Don Bosco Laskar, Wahyu Adi Santoso dan Danang Tri Wibowo.

    "Mahasiswa dan pelajar ini sudah sekolah secara online hampir 7 bulan, jadi kegiatan lomba lukis dan sarasehan ini bisa menjadi selingan yang baik di antara rasa bosan belajar daring. Ini juga bisa menjadi penyaluran energi yang positif daripada ikut tawuran atau demo yang seringkali berujung ricuh," tandas Titik.(*)



    SHARE
    '

    BERITA TERKAIT

    Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

    Tulis Komentar disini