Tiga Film Maxstream Studios Tampil di JAFF 2025

Telkomsel ingin membuka ruang yang lebih luas bagi sineas muda untuk mengekspresikan pandangannya tentang Indonesia.

Tiga Film Maxstream Studios Tampil di JAFF 2025
M C Sihombing selaku General Manager Digital Content Creation and Community Telkomsel menyampaikan tiga film yang tampil di JAFF, XXI Yogyakarta, Minggu (30/11/2025) malam. (yvesta putu ayu palupi/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- MAXStream Studios kembali memperteguh komitmennya memajukan ekosistem kreatif Indonesia dengan menyelenggarakan kompetisi film pendek Secinta Itu Sama Indonesia (SISI).

Program ini menjadi lanjutan dari inisiatif tahun sebelumnya, Secinta Itu Sama Sinema (SISS), yang sukses membuka panggung bagi sineas muda untuk berkarya, bereksperimen, dan menunjukkan potensi terbaik mereka.

M C Sihombing selaku General Manager Digital Content Creation and Community Telkomsel, di JAFF, XXI Yogyakarta, Minggu (30/11/2025) malam,  mengungkapkan SISI merupakan bentuk dukungan Telkomsel terhadap suara-suara baru perfilman lokal, sekaligus memperluas ruang cerita tentang Indonesia dari perspektif generasi kreator masa kini.

“Melalui SISI, kami ingin membuka ruang yang lebih luas bagi sineas muda untuk mengekspresikan pandangannya tentang Indonesia. Tahun ini, antusiasme sangat besar dan kualitas proposal meningkat drastis,” ujarnya.

Juri tunggal

Proses seleksi SISI berlangsung 18 Agustus-10 September 2025 dipimpin oleh juri tunggal, sutradara Aco Tenriyagelli, yang dikenal lewat karya-karya eksperimental dengan eksplorasi tema sosial dan humanisme.

Dengan total 194 proposal yang masuk, tahun ini SISI mencatat peningkatan baik dari sisi kuantitas maupun kualitas. Para peserta diminta menyerahkan konsep film, premis, sinopsis, treatment dan gagasan estetika visual yang menjadi dasar penilaian. Proses kurasi dilakukan secara ketat bersama jajaran kurator internal MAXStream Studios.

“Tahun ini kriteria penilaiannya lebih rinci dan lebih ketat. Dari ratusan proposal, kami hanya memilih tiga karya yang tidak hanya kuat secara premis tetapi juga relevan, orisinal dan memiliki potensi penyutradaraan yang matang,” jelasnya.

Hasilnya, tiga film dengan perspektif berbeda mengenai manusia Indonesia akhirnya terpilih dan tampil sebagai pemenang SISI 2025. Yang pertama Yuck & Yum!  karya sutradara Kurnia Alexander.

Pendekatan satire

Film ini tentang kisah Ayu, seorang pelayan asal Jawa yang menjadi subyek film tentang tragedi kebakaran di restoran asing tempatnya pernah bekerja. Ketika film tersebut diproduksi ulang menjadi konten promosi, Ayu terjebak dalam tuntutan banyak pihak.

Kedua, A Sanctuary for Nobody (Hanya Ada Kedamaian di Balik Jendela Rumahku) karya Ayesha Alma Almera. Lewat pendekatan satire yang cerdas, film ini mengikuti Dunya, seorang pria penghuni kontrakan sederhana yang hanya ingin menghindari bau pesing dari belakang jendelanya, aroma yang muncul setiap ada lomba burung.

Usaha Dunya membuat “makam palsu” beserta sesajen di balik jendela justru memicu fenomena yang tak dia bayangkan. Sesajen berdatangan, orang-orang berdatangan untuk berziarah dan kawasan itu berubah menjadi “wisata religi dadakan”.

Ketiga, The Lost Forest karya sutradara Mizam Fadilah Ananda. Film ini membawa penonton ke hutan karst Kalimantan melalui kisah Uli, anak yang dibesarkan dalam tradisi pra-sejarah dan dilepas ke rimba untuk membuktikan dongeng leluhur. Namun, dia menemukan jejak manusia modern di dalam hutan, sebuah temuan yang mengancam identitas dan keyakinannya.

Pendanaan penuh

Konflik batin antara mitos turun-temurun versus kenyataan baru menjadi inti cerita yang menantang logika, kepercayaan dan eksistensi.

Ketiga film terpilih mendapatkan pendanaan penuh sebesar Rp 160 juta per film dari Telkomsel. Dana ini memungkinkan sineas muda memproduksi film dengan standar profesional. "Ini jugas memperkuat regenerasi talenta kreatif Indonesia," jelasnya. (*)