Terbesar Sepanjang Sejarah, Banjir Mengepung Wilayah Klaten

Terbesar Sepanjang Sejarah, Banjir Mengepung Wilayah Klaten

KORANBERNAS.ID, KLATEN--Hujan deras disertai angin kencang Kamis (4/2/2021) sore hingga malam hari, mengakibatkan sejumlah wilayah di Kabupaten Klaten kebanjiran. Genangan air tidak hanya melanda areal pertanian, tapi juga pemukiman warga dan sarana prasarana umum seperti jalan.

Genangan air cukup tinggi diantaranya terjadi di beberapa desa di wilayah Kecamatan Wedi dan Cawas. Dua wilayah ini memang dikenal kawasan langganan banjir dan berada di aliran Kali Dengkeng. Di Kecamatan Wedi, desa yang cukup parah banjirnya yakni Melikan, Brangkal, Kadibolo dan Pasung.

Di Desa Brangkal, setidaknya 50 hektar tanaman padi berumur 2 bulan atau baru keluar (mrekatak) tergenang air. Bahkan, genangan air masuk rumah warga dan pekarangan. Hingga Jumat (5/2/2021) siang, genangan air belum juga surut.

Kepala Desa Brangkal, Sriyanto menjelaskan, banjir terjadi karena hujan deras turun pada Kamis (4/2/2021) sore. Selan itu, ada tanggul Sungai Mundu yang jebol sehingga air masuk ke areal persawahan dan naik ke Jalan Wedi-Bayat tepatnya di daerah Jiwo Wetan.

“Sampai sekarang, genangan air masih terjadi di beberapa dukuh terutama yang dekat aliran Sungai Dengkeng. Seperti Dukuh Gatak, Tarungan, Ponjongan, Bangsalan, Muker dan Mandungan,” katanya.

Sriyanto menambahkan, terkait bencana tersebut pihaknya melihat perkembangan di lapangan dan prioritas untuk penanganan tanggul yang jebol. “Kalau air sudah surut, akan lapor ke BPBD dan bergotong-royong menangani tanggul jebol,” ujarnya.

Bencana serupa terjadi di Desa Melikan. Di desa ini tercatat 56 hektar tanaman padi berumur 2,5 bulan terendan air. Seluas 37 hektar tanaman padi di wilayah Kelompok Tani Bangun Tani 2 tidak kelihatan lagi karena tingginya genangan air dan 19 hektar di wilayah Kelompok Tani Bangun Tani 1. Hanya saja di wilayah Kelompok Tani Bangun Tani 1, tanaman padinya masih kelihatan.

Ketua Kelompok Tani Bangun Tani 2 Jaka Purwana menjelaskan, banjir akibat hujan deras turun dan adanya tanggul jebol di wilayah Pesu. Selain itu air juga dari Rowo Jombor (barat Mundu) yang muara sungainya ke wilayah Desa Melikan.

Jaka Purwana yang juga menjabat kepala dusun 1 Desa Melikan menjelaskan, pemerintah desa telah melaporkan kejadian itu kepada PPL tani Kecamatan Wedi. “Petugas PPL mau melaporkannya kepada Dinas Pertanian,” jelasnya.

Dia menambahkan, banjir yang melanda wilayah Kecamatan Wedi kali ini sungguh luar biasa dan merata. Sebelumnya kata dia, daerah langganan banjir hanya beberapa desa saja.

Saat ditanya total kerugian akibat banjir, Jaka Purwana menjawab belum bisa menghitung. Namun kata dia, di wilayah Kelompok Tani Bangun Tani 2 seluruh sawah seluas 56 hektar tergenang air sampai tidak kelihatan tanaman padinya. Dari luasan itu, setidaknya 25 persennya saja yang diperkiraan bisa dipanen. Sebab tanaman padi yang sedang mrekatak sangat mudah rusak jika tergenang air.

Banjir juga melanda wilayah Desa Pasung. Kepala Desa Sumarsono atau lebih dikenal dengan panggilan Ambon menginformasikan di Dukuh Pule Tegal Karangasem, aliran airnya deras sekali. Bahkan pagar puskesmas pembantu (pustu) desa setempat roboh tergerus air. (*)