Tangis Haru Mewarnai Keberangkatan Jamaah Haji Khusus Nur Ramadhan

Jamaah haji khusus memiliki masa tunggu lebih cepat dibandingkan regular. 

Tangis Haru Mewarnai Keberangkatan Jamaah Haji Khusus Nur Ramadhan
Keberangkatan jamaah haji khusus PT Nur Ramadhan Internasional di YIA, Selasa (5/5/2026). (istimewa)

KORANBERNAS.ID, KULONPROGO -- Tangis haru dan pelukan hangat keluarga mewarnai keberangkatan jamaah haji khusus atau haji plus di Yogyakarta International Airport, Selasa (5/5/2026). Sebanyak 143 jamaah haji yang diberangkatkan oleh PT Nur Ramadhan Internasional memulai perjalanan spiritual menuju Tanah Suci membawa harapan besar untuk menunaikan rukun Islam kelima.

Di antara para jamaah, kebahagiaan tampak jelas di wajah Sovia Rara. Dia tak menyangka bisa berangkat tahun ini. Awalnya, dia dijadwalkan berangkat 2027 namun mendapat kesempatan lebih awal.

“Seharusnya berangkat tahun depan, alhamdulillah bisa maju tahun ini. Rasanya sangat senang dan semoga semuanya lancar,” ujarnya sebelum keberangkatan.

Sejak mendaftar pada akhir 2019, Sovia sudah mempersiapkan diri, termasuk menjaga kondisi fisik dengan rutin berjalan kaki setiap pagi setelah salat Subuh. “Setiap pagi jalan kaki sekitar 100 sampai 500 meter. Selain itu juga melatih doa-doa yang nanti akan dipanjatkan saat puncak haji di Arafah,” katanya.

Lebih nyaman

Dia memilih program haji khusus karena ingin membawa orang tuanya yang sudah lanjut usia. Fasilitas yang lebih nyaman dianggap penting agar orang tua dapat menjalankan ibadah dengan lebih tenang.

“Karena membawa orang tua, jadi memilih fasilitas yang lebih nyaman. Semoga semuanya dimudahkan,” ujarnya.

Direktur Operasional PT Nur Ramadhan Internasional, Hamzah Kuwat Prasetya, menjelaskan keberangkatan dari Yogyakarta merupakan bagian dari total 324 jamaah haji khusus yang diberangkatkan tahun ini.

“Dari jumlah tersebut, 143 jamaah berangkat melalui Yogyakarta. Nanti seluruh jamaah akan berkumpul terlebih dahulu di Jakarta sebelum terbang bersama menuju Arab Saudi,” ujarnya.

Tujuh tahun

Menurut Hamzah, jamaah haji khusus memiliki masa tunggu lebih cepat dibandingkan haji reguler. Jika antrean haji reguler bisa mencapai puluhan tahun, program haji khusus biasanya memiliki masa tunggu sekitar enam hingga tujuh tahun.

Selain waktu tunggu yang lebih singkat, jamaah juga mendapatkan fasilitas yang lebih nyaman, seperti penerbangan langsung dan hotel berbintang lima yang dekat dengan masjid utama di Tanah Suci.

“Hotel di Madinah menggunakan Anwar Madinah Movenpick yang berada persis di halaman Masjid Nabawi, sedangkan di Makkah menggunakan Movenpick Hajar Tower yang sangat dekat dengan Masjidil Haram,” jelasnya.

Sebelum berangkat, para jamaah juga telah mengikuti serangkaian manasik yang mencakup pembekalan ibadah, kesehatan, teknis perjalanan hingga pengenalan budaya Arab Saudi. Seluruh jamaah dinyatakan istitha'ah atau mampu secara kesehatan untuk menjalankan ibadah haji.

Terus meningkat

Hamzah menambahkan, minat masyarakat terhadap program haji khusus terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Selain karena meningkatnya kesadaran spiritual, panjangnya antrean haji reguler juga menjadi faktor pendorong.

“Sebelumnya, pendaftar harian sekitar lima sampai tujuh orang, sekarang bisa mencapai sekitar 10 orang per hari. Jadi ada peningkatan cukup signifikan,” ujarnya.

Dengan bekal manasik, kesiapan fisik, serta pendampingan tim medis dan pembimbing ibadah, para jamaah berharap perjalanan mereka menuju Tanah Suci berjalan lancar. (*)