Sedhut Senut Angkat Lakon Terbaru Saat Peringatan Hakordia
Membuktikan sandiwara berbahasa Jawa masih memiliki magnet kuat di tengah gempuran budaya pop.
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Hujan rintik-rintik yang sempat turun di langit Yogyakarta sore itu tak menyurutkan langkah rombongan pawai yang nyentrik itu. Di atas motor roda tiga yang disulap bak singgasana, sosok Mbah Mirkun duduk jumawa.
Dia memamerkan segepok uang berlagak seperti raja kecil yang tak tersentuh, sementara rakyat jelata berjalan kaki mengiringinya.
Pemandangan satir saat peringatan Hari Antikorupsi Sedunia (Hakordia) yang terpusat di Yogyakarta tahun ini bukan sekadar karnaval biasa. Kelompok sandiwara berbahasa Jawa, Sedhut Senut, mengangkat lakon terbaru mereka AsuOR.
Di balik gelak tawa penonton yang berswafoto dengan para tokoh parodi pejabat itu, terselip kritik tajam yang dikemas renyah.
Ajakan kerabat
Elyandra Widharta, salah seorang seniman kelompok Sedhut Senut, menjelaskan keterlibatan mereka bermula dari ajakan dari salah satu kerabat di Kedai Kebun Forum.
"Awalnya kami ditawari Pak Agung Leak. Kebetulan waktunya bersamaan dengan pentas kami di Jogja Djoyodipuran Culture Art Fest di mana kami membawakan lakon Karep Rentep. Karena lakon itu isinya memang tentang korupsi, kami sepakat membawakannya di acara KPK ini, tapi judulnya kami ganti menjadi AsuOR," ungkapnya kepada koranbernas.id, Senin (8/12/2025).
Dalam pementasan ini, Sedhut Senut tidak sedang berpidato tentang kerugian negara dalam angka triliunan. Mereka justru mengajak penonton menengok "Kalurahan Keneiki", sebuah desa fiktif yang menjadi mikrokosmos carut-marut negeri ini.
Elyandra menjelaskan, konflik dibangun antara dua seniman yaitu Den Rentep dan Mbak Marni Karep. Den Rentep adalah representasi seniman tua yang mapan karena dekat dengan kekuasaan dalam hal ini "Pak Carik" dan Satgas Budaya Kalurahan. Sementara itu, Marni Karep yang idealis harus menelan pil pahit karena karyanya selalu ditolak karena tak punya "orang dalam".\
Kisah sederhana
"Ini potret praktik nepotisme di tingkat pemerintahan paling lokal. Kami memotret kisah sederhana keseharian dengan background seni dan budaya, tapi dikonversi pada isu kolusi, nepotisme dan korupsi," jelasnya.
Bagi Sedhut Senut, membicarakan isu besar tidak harus dengan narasi yang ndakik-ndakik (muluk-muluk - red).
"Isu-isu kecil di sekitar kita sebenarnya adalah proyeksi nyata dari apa yang terjadi di ranah nasional hari ini. Publik justru merasa lebih dekat, karena mungkin mereka pernah menjadi korban atau saksi praktik semacam itu di lingkungannya," tambahnya.
Bermain api dengan kritik sosial tentu memiliki risiko. Sedhut Senut punya "tameng" budaya yang membuat kritik mereka terasa elegan namun menohok yaitu guyonan berbahasa Jawa.
Kuncinya sanepa
Elyandra mengakui hingga saat ini kelompoknya belum pernah mendapat tekanan atau intimidasi, meski materi yang dibawakan menyentil pihak tertentu. Kuncinya ada pada sanepa (kiasan) dan sasmita (kode/simbol).
"Di dalam teater kami, apalagi berbahasa Jawa, kritik tidak disampaikan secara frontal. Ada dialog-dialog simbolis yang kami kemas secara penyutradaraan. Jadi, ini tetap sebuah pertunjukan seni dengan estetika, bukan sekadar orang marah-marah," ujarnya.
Strategi ini terbukti ampuh. Saat pawai maupun pentas, penonton justru terhibur. Poster-poster satir yang dibawa para tokoh seperti Widodo Atlas, Dul Ngalip hingga Menik dianggap mewakili suara hati masyarakat yang selama ini terbungkam.
Tampil di ruang terbuka (outdoor) dengan gangguan suara dari panggung utama (main stage) menjadi tantangan tersendiri. Namun, Sedhut Senut punya cara unik untuk menjaga nyawa pertunjukan.
Tebak teka-teki
Di tengah hiruk-pikuk, mereka menggelar kuis Cangkriman Tembang Pocung. Penonton diajak menebak teka-teki yang dinyanyikan dalam tembang macapat.
Hasilnya, area pementasan Sedhut Senut justru semakin dipadati penonton menjelang akhir acara, membuktikan sandiwara berbahasa Jawa masih memiliki magnet kuat di tengah gempuran budaya pop.
Ke depan, Elyandra menyatakan Sedhut Senut akan tetap setia pada jalurnya yaitu memandang dunia dari lensa manusia Jawa yang sabendinan (keseharian).
"Kami melihat segala sesuatu dari angle yang sederhana. Isu politik atau sejarah sekalipun, akan kami kemas dengan guyon parikena (sindiran jenaka). Karena seringkali, kebenaran justru lebih mudah diterima lewat tawa," katanya. (*)
Muhammad Zukhronnee Muslim
