SD Negeri Sawit Bantul Mengatasi Sampah dengan "Losida"

Losida bermanfaat untuk membuang sampah sisa makanan anak-anak dari program MBG (Makan Bergizi Gratis).

SD Negeri Sawit Bantul Mengatasi Sampah dengan "Losida"
Pembuatan Losida untuk mengatasi sampah sisa makanan di SDN Sawit Panggungharjo Sewon Bantul. (sariyati wijaya/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, BANTUL -- SD Negeri Sawit Kalurahan Panggungharjo Kapanewon Sewon Kabupaten Bantul menggelar acara Rumahku, Lingkunganku, Masa Depanku.

Kegiatan yang berkolaborasi dengan Rumah Inspirasi, UNY, Sesami, Biennale Jogja 18 dan Earth Hour diisi beragam acara di antaranya Jumat Bersih pada 7 November, kerja bakti bersama dengan melibatkan warga sekolah, komite, panitia biennale dan para wali murid pada 9 November.

Juga ada kegiatan mural dan pembuatan kerajinan dari botol plastik pada 10 November serta belajar menanam sayur dalam polybag dengan narasumber Suryanto petani dari Palihan Sidomulyo Bambanglipuro pada 12 November.

Satu yang menyita perhatian adalah pembuatan Losida atau Lodong Sisa Dapur di area sekolah. "Ini terbuat dari paralon yang dilobangi, kemudian kita tanam di tanah dengan kedalaman lebih dari satu meter dan kita beri tali pengait serta tutup,” kata Suryanto didampingi Kepala Sekolah, Ardhian Herda Permana S Pd, saat puncak acara Jumat (14/11/2025).

Peresmian mural tembok sekolah di SDN Sawit Bantul. (sariyati wijaya/koranbernas.id)

Losida bermanfaat untuk membuang sampah sisa makanan anak-anak dari program MBG (Makan Bergizi Gratis). “Jika sudah penuh kita tarik keluar dan sampah sisa makanan akan kita olah menjadi pupuk kompos," tambahnya.

Losida merupakan salah satu cara mengatasi persoalan sampah khususnya sisa makanan di SD tersebut. Losida bisa diaplikasikan di rumah-rumah. Cara pembuatannya mudah dan sederhana.

Ardhian mengatakan kegiatan Rumahku, Lingkunganku, Masa Depanku dilaksanakan untuk menata lingkungan sekolah menjadi lebih bersih dan nyaman.

"Dulu sebelum dibersihkan, di samping sekolah sebelah timur itu banyak grumbul tumbuhan dan rumput liar. Alhamdulillah sekarang bersih dan kita tanami sayuran kangkung, bayam, wortel. Gerakan ini juga mendapat dukungan orang tua atau wali siswa," katanya.

Tembok sekolah

Selain tanaman liar, aksi vandalisme tembok sekolah juga jadi tantangan. Bekerja sama dengan Biennale Jogja 18 tembok dibuat mural. Semua kegiatan selesai dan diresmikan oleh Kepala Disdikpora Bantul, Nugroho Eko Setyanto S Sos dan Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Bambang Purwadi MH dengan disaksikan pihak terkait pada puncak acara tersebut.

"Siswa juga kami biasakan membuang sampah di tempatnya. Semoga ini akan menjadi kebiasaan yang juga mereka lakukan saat di rumah masing-masing," kata Ardhian. (*)