Penghayat Kepercayaan Berkumpul di Purworejo Mengikuti Kirab Agung

Warga Trirejo selalu menyambut hangat para tamu. Mereka menginap di rumah-rumah warga tanpa harus mencari hotel.

Penghayat Kepercayaan Berkumpul di Purworejo Mengikuti Kirab Agung
Kirab AgungTumuruning Wahyu Eko Buwono dari Pasar Sejiwan menuju makam Romo Semono. (wahyu nur asmani ew/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, PURWOREJO -- Kirab Agung Tumuruning Wahyu Eko Buwono merupakan gelar budaya tahunan yang diselenggarakan Pemerintah Desa (Pemdes) Trirejo Kecamatan Loano Kabupaten Purworejo. Ini berawal dari kegiatan internal para penghayat kepercayaan Kapribaden Romo Semono Sastrohadidjojo yang berada di desa itu.

Pemdes Trirejo menyambut ratusan penghayat kepercayaan Kapribaden Romo Semono Sastrohadidjojo yang berkumpul di Desa Trirejo Kecamatan Loano, Jumat (14/11/2025), untuk mengikuti rangkaian Pahargyan Agung Tumuruning Wahyu Eko Buwono.

Acara tahunan ini dihadiri para pengikut dari berbagai daerah seperti Bali, Jawa Timur, Jakarta hingga Palembang. Ritual utama berupa Kirab Agung menuju makam Romo Semono menjadi puncak kegiatan, dilanjutkan pergelaran wayang kulit sebagai bentuk penghormatan kepada pendiri ajaran Kapribaden tersebut.

Budayawan Purworejo, Sudarto, menjelaskan Romo Semono adalah tokoh spiritual kelahiran sekitar 1900 dan wafat pada 1981. Semasa hidup, dia pernah berdinas sebagai anggota TNI Angkatan Laut berpangkat Letnan KKO. Makamnya berada di Desa Trirejo yang kini menjadi pusat kegiatan penghayat Kapribaden.

Kepala Desa Trirejo, Andi Prasetyawan, mengikuti Kirab Agung. (wahyu nur asmani ew/koranbernas.id)

“Kirab ini merupakan wujud penghormatan kepada Romo Semono. Tradisi ini rutin dilakukan setiap 14 November, bertepatan dengan saat Romo Semono menerima wahyu Eko Buwono di Perak Surabaya pada 14 November 1955,” jelas Sudarto.

Wahyu tersebut berisi ajaran Kalimah Panca Kunci Asma Mijjl Paweling Singkir yang mengarah pada laku menuju Kasampurnan Manunggal Kinantenan Sarwa Mijil atau dikenal sebagai Kapribaden. Inti ajaran adalah pemahaman bahwa untuk mengenal Tuhan Yang Maha Esa, seseorang harus terlebih dahulu mengenal jati dirinya sebagai manusia.

Merujuk berbagai catatan, Romo Semono mulai menjalankan laku spiritual sejak usia 14 tahun dalam upaya memahami hakikat penciptaan. Ajarannya kemudian tersebar ke berbagai daerah di Jawa dan luar pulau.

Salah seorang penghayat asal Bali, Nengah Sumarto, mengatakan bahwa ajaran Romo Semono menjadi pedoman bagi banyak orang dalam menemukan jati diri.

Setiap tahun

“Ajaran ini merupakan tuntunan panca gaib. Di Bali, penganutnya sudah ribuan. Kami datang setiap tahun ke Trirejo untuk mengikuti kirab dan menghormati makam Romo Semono,” ujarnya.

Kepala Desa Trirejo, Andi Prasetyawan, menyampaikan pemerintah desa terus mendukung penyelenggaraan kegiatan ini, selain sebagai bagian dari kebebasan berkepercayaan juga merupakan tradisi budaya yang harus dijaga. “Warga Trirejo selalu menyambut hangat para tamu. Mereka bahkan menginap di rumah-rumah warga tanpa harus mencari hotel,” kata Andi.

Dia menambahkan Karang Taruna Manunggal Mudo setiap tahun terlibat aktif sebagai pengawal kirab. Selain memiliki nilai spiritual dan budaya, kegiatan ini turut mendorong pertumbuhan UMKM serta ekonomi masyarakat setempat.

“Puncak acara Kirab Agung selalu ditutup dengan doa bersama, memohon keselamatan dan kemakmuran bagi para penghayat Kapribaden, warga Trirejo, serta seluruh masyarakat Indonesia,” katanya. (*)