Rupiah Rp17.800 dan Isu APBN Habis, Misbakhun di JFF 2026: Itu Hoaks, Ekonomi Kita Kuat!

​Menanggapi isu rupiah Rp17.800 dan hoaks APBN habis, Ketua Komisi XI DPR Misbakhun menegaskan fundamental ekonomi Indonesia di JFF 2026 LPS Yogyakarta tetap kuat

Rupiah Rp17.800 dan Isu APBN Habis, Misbakhun di JFF 2026: Itu Hoaks, Ekonomi Kita Kuat!
Ilustrasi. (AI)

​KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA–Arus informasi negatif mengenai rontoknya nilai tukar rupiah dan narasi APBN jebol kian liar menggelinding di media sosial. Menanggapi kepanikan publik tersebut, Ketua Komisi XI DPR-RI, Misbakhun, angkat bicara secara lugas dalam gelaran Jogja Financial Festival 2026 (JFF 2026) di Jogja Expo Center (JEC), Sabtu (23/5/2026). Dengan tegas, ia menyatakan rentetan narasi pesimistis tersebut sebagai hoaks yang memicu kecemasan tak berdasar.

​Event edukasi finansial skala besar yang digagas oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) ini pun sukses dialihfungsikan menjadi benteng literasi bagi ribuan generasi muda Yogyakarta untuk membedah realitas ekonomi nasional secara objektif.

​Bedah Fakta Rupiah Rp17.800

​Di hadapan peserta yang memadati JEC, Misbakhun tidak menampik fakta bahwa nilai tukar rupiah saat ini telah menyentuh angka Rp17.800 per dolar AS. Namun, ia mengingatkan agar angka psikologis ini tidak ditelan mentah-mentah tanpa pemahaman konteks ekonomi makro yang utuh.

​Ia mengomparasikan situasi hari ini dengan tragedi krisis moneter tahun 1998 silam, di mana rupiah merosot tajam dari kisaran Rp2.400 hingga menembus angka belasan ribu dalam sekejap akibat runtuhnya sistem perbankan. Pergerakan rupiah di awal tahun 2026 yang bergerak dari Rp17.000 ke posisi Rp17.800 saat ini disebutnya sebagai dampak dari tekanan dinamika global seiring berjalannya waktu, bukan karena kehancuran sistemik dalam negeri.

​“Sekarang, dunia dan Indonesia memang menghadapi tekanan. Namun di Indonesia belum ada bank yang gagal bayar. Secara fundamental ekonomi kita juga kuat, dan kita termasuk sedikit dari negara G20 yang pertumbuhannya mampu berada di atas 5%,” papar Misbakhun.

​Gempuran Hoaks Berbasis AI di Media Sosial

​Tantangan ekonomi tahun 2026 ini kian kompleks akibat masifnya penggunaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) oleh para pengguna media sosial yang kerap memproduksi bias informasi. Fenomena inilah yang memicu salah seorang siswi SMK dalam sesi tanya jawab untuk meminta kiat tentang bagaimana generasi muda harus bersikap di tengah gempuran konten digital yang mencemaskan.

​Misbakhun menegaskan bahwa ajang seperti JFF 2026 adalah jawaban konkret untuk melatih nalar kritis masyarakat, terutama Gen Z, agar tidak mudah terjebak manipulasi algoritma.

​"Edukasi publik seperti JFF 2026 adalah kegiatan literasi keuangan yang menjadi bagian penting untuk meyakinkan masyarakat bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih kuat," cetusnya.

​Menutup pemaparannya, Misbakhun menaruh harapan besar pada 3.000 anak muda yang memadati ruang festival. Ia menantang mereka untuk pulang sebagai agen perubahan yang mampu menyebarkan optimisme di tengah lingkungan mereka masing-masing.

​“Negara ini terlalu kaya untuk dapat dikatakan sebagai negara berpotensi bangkrut. Segala informasi yang mengatakan APBN kita habis, itu hoaks,” pungkas Misbakhun disambut riuh tepuk tangan peserta. (*)