peroleh-restu-kiai-sepuh-pengurus-himpunan-pengusaha-nahdliyyin-kota-yogyakarta-dilantikSuasana Pelantikan Pengurus Cabang Himpunan Pengusaha Nahdliyiin (HPN) Kota Yogyakarta. (istimewa)


Siaran Pers
Peroleh Restu Kiai Sepuh, Pengurus Himpunan Pengusaha Nahdliyyin Kota Yogyakarta Dilantik

SHARE

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA – Puluhan pengusaha berkumpul di Genesis Coworking Space Jalan Ahmad Wahid, Kalangan Baturetno Banguntapan Bantul, Jumat (5/8/2022) sore. Mengenakan sarung setelan jas, kehadiran mereka dalam rangka Pelantikan Pengurus Cabang Himpunan Pengusaha Nahdliyiin (HPN) Kota Yogyakarta.


Di antara tamu undangan terlihat Hilmi Muhammad atau Gus Hilmi, salah seorang pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Al Munawwir Krapyak yang juga anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI dari DIY. Diundang pula Rois Syuriah PCNU Kota Yogyakarta, Ketua PCNU Kota Yogyakarta, Ketua PW HPN DIY.


Kepada wartawan saat konferensi pers usai pelantikan, Yana Karyana selaku Ketua HPN Kota Yogyakarta menyampaikan, terbentuknya HPN Kota Yogyakarta tidak lepas dari peran dan restu dari kiai-kiai sepuh Nahdlatul Ulama (NU).

“Dengan restu para kiai sepuh, kami yang tergabung dalam organisasi Himpunan Pengusaha Nahdliyyin Kota Yogyakarta mengajak berbagai pihak untuk menjalin sinergi dan kerja sama, bahu-membahu dalam upaya mewujudkan ekonomi berkeadilan yakni melalui keberpihakan pada rakyat kecil dan pengusaha mikro, semangat gotong royong untuk mewujudkan kesejahteraan bersama dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat tanpa ada diskriminasi,” ujarnya.


Dia berharap, HPN Kota Yogyakarta menjadi organisasi yang mampu mengakomodir berbagai kepentingan, tanpa meninggalkan rambu-rambu utama sebagai warga Nahdliyyin.

Setidaknya telah terdata 107 pengusaha. Seandainya, kata Yana, dalam sehari masing-masing iuran Rp 3.000 maka selama sebulan bisa terkumpul Rp 10 juta, yang bisa dimanfaatkan untuk membiayai jalannya organisasi.

Menurut Yana, kekuatan HPN Kota Yogyakarta adalah ditopang oleh tiga pusaran besar. “HPN kita ini berada dalam tiga pusaran besar yakni tradisi, agama dan modernisasi. Ini akan menjadi sebuah harmosisasi yang kuat, menghasilkan sebuah konsep bisnis yang memiliki corak tersendiri,” paparnya.

Ketiga pusaran besar inilah yang kemudian menghasilkan karakter unik para pebisnis HPN mampu mensinergikan urusan dunia dan akhirat, tanpa harus kehilangan tradisi nusantara yang saat ini menjadi bagian penting dalam organisasi NU. Seperti diketahui, NU merupakan rumah besar bagi HPN dalam menjalankan fungsi-fungsinya.

“HPN merupakan sebuah wadah dan tempat kami berkumpul dengan rajutan ukhuwah untuk saling berbagi, saling membantu, serta saling mengingatkan dalam membangun ekonomi keumatan, terutama di kalangan Nahdliyyin,” kata dia.

Pengurus lainnya, Wawan Hermawan, sependapat bahwa pengusaha yang berhimpun di HPN Kota Yogyakarta perlu melakukan sinergi.

Sedangkan Gus Hilmi menyatakan siap memberikan fasilitasi kemitraan dengan pemda maupun kementerian di tingkat pusat. “Bagaimana sinergi ini bisa kita jalin,” ujarnya.

Sebagai gambaran, merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS),  di Daerah Istimewa Yogyakarta terdapat 521.011 UMKM yang didominasi nonpertanian. Dari jumlah tersebut, Sleman memiliki 140.395 UMKM, Bantul 138.332 UMKM, Gunungkidul 111.655 UMKM, Kota Yogyakarta 66.575 UMKM dan Kulonprogo 64.054 UMKM.

Artinya, HPN harus mampu mengantarkan para pengusaha mikro tersebut naik kelas menjadi pengusaha menengah dan seterusnya.

“Mengapa demikian? Karena dalam proses pembentukannya HPN memiliki fungsi sebagai wadah berhimpun bagi setiap pengusaha Mikro, Kecil, Menengah dan Besar, juga sebagai wahana meningkatkan kualitas dan kapasitas usaha serta memperkokoh dan memperluas jaringan usaha anggotanya,  termasuk di Kota Yogyakarta di mana pertumbuhan industri kreatifnya semakin menunjukkan perkembangan yang signifikan,” kata Yana Karyana.

Dengan mengusung tema Merajut Ukhuwah menuju Ekonomi Berkeadilan diharapkan HPN Kota Yogyakarta menjadi sarana representasi pengusaha Nahdliyyin, artikulasi dan agregasi kepentingan kewirausahaan, advokasi terhadap anggotanya dan pelaku usaha umumnya.

Selain itu, juga sebagai inkubasi bagi lahirnya pengusaha baru, serta menjadi tempat pembinaan khusus bagi pengusaha Nahdliyyin untuk bergerak maju. (*)



SHARE
'

BERITA TERKAIT


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini