Rontok Sebelum Panen, Harga Cabai Naik Berlipat
Meskipun harga cabai tinggi, namun hasil panen cabai yang layak dijual menurun drastis.
KORANBERNAS.ID, KEBUMEN -- Ribuan tanaman cabai lebih dari dua pekan terakhir ini terserang hama. Tak hanya cabai yang ditanam pada lahan sawah maupun tegalan, tanaman cabai yang dibudidayakan di dalam pot pun ikut terserang penyakit.
Akibatnya produksi cabai di Kabupaten Kebumen menurun. Hal ini mengakibatkan harga cabai naik berlipat-lipat dibandingkan sebelum terjadi serangan penyakit.
Informasi yang diperoleh koranbernas.id, Rabu (3/12/2025), tanaman cabai yang terserang hama atau penyakit tetap bertahan hidup dan berbuah. Namun buahnya yang belum matang itu berangsur-angsur kering kemudian rontok.
Seorang petani cabai warga Desa Setrojenar Kecamatan Buluspesantren Kabupaten Kebumen, Paryanto, mengungkapkan panen cabai sebelum terjadi serangan hama atau penyakit hasilnya Rp 3 juta.
Hasil panen
Panen berikutnya setelah terjadi serangan, hasil panennya laku Rp 900 ribu. “Hari ini harga cabai di tangan petani sudah Rp 60 ribu per kilogram," kata Paryanto. Meskipun harga cabai tinggi, namun hasil panen cabai yang layak dijual menurun drastis.
Paryanto menyebutkan dalam tiga pekan terakhir ini harga cabai di tangan petani terus naik. Awalnya Rp 17 ribu naik menjadi Rp 35 ribu. “Hari Rabu (3/12/2025) Rp 60 ribu,” katanya lagi.
Sejumlah warga yang melakukan budi daya cabai dengan pot juga mengungkapkan hal yang sama. Buah cabai yang bisa dikonsumsi berkurang karena sebagian besar kering dan rontok sebelum layak dipanen.
Sebelum terjadi serangan hama atau penyakit, dari 10 batang tanaman cabai enam hari bisa memetik 250 gram. Setelah terjadi serangan, buah cabai yang bisa dipetik kurang dari 100 gram. Cabai yang dibudidayakan skala rumah tangga untuk keperluan sendiri. (*)
Nanang W Hartono
