Revolusi Kacamata Kavach Space Melawan Arus
Saya ingin mengubah pandangan itu, bahwa kacamata memiliki jiwa.
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Begitu pintu terbuka, aroma samar cat akrilik masih menguar di udara. Di salah satu sudut toko, karya seniman street art Techo menatap pengunjung dengan warna-warna berani. Sofa dengan bentuk unik ini mengundang untuk duduk, seolah-olah ini bukanlah toko melainkan galeri seni kontemporer.
Kemudian mata tertuju pada deretan kacamata yang dipajang tersembunyi seperti sebuah instalasi seni yang tidak mengintimidasi. Ini adalah Kavach Space, tempat di mana kacamata tidak hanya berfungsi sebagai alat, namun memiliki jiwa tersendiri.
"Orang selama ini melihat kacamata hanya dari sisi fungsional. Padahal, kacamata juga bisa merepresentasikan karakter setiap individu. Saya ingin mengubah pandangan itu, bahwa kacamata memiliki jiwa," kata Dara Rahma Wahida, pemilik Kavach Space, saat ditemui di acara pembukaan toko barunya, Sabtu (14/2/2026).
Visi itulah yang membawa Dara kembali ke dunia optik setelah sempat merasa putus asa. Pada tahun 2020, pandemi memaksa dia untuk menutup lima toko sekaligus. Tapi, dia tidak menyerah dan melakukan perubahan radikal. Maka lahirlah gerai Vherkudara pada 2021, yang tidak hanya menjadi toko kacamata, tapi juga menjadi manifestasi estetika.
Tiga brand
Kavach Space menjadi rumah bagi tiga brand kacamata yaitu Vherkudara, Cooluncle, dan Sollune. Antino Restu, Creative Director Kavach, menjelaskan konsep yang mungkin terdengar filosofis, namun sebenarnya sangat sederhana, yaitu melepaskan ego.
"Kami sepakat untuk melepaskan ego, tidak ada yang lebih unggul atau lebih dominan. Jika diibaratkan, Kavach adalah galaksinya, dan brand-brand di bawahnya adalah planet-planetnya," jelas Antino.
Filosofi ini tercermin dalam desain ruangan yang luas dibandingkan toko sebelumnya, dengan tata letak yang dirancang khusus untuk menarik perhatian. "Begitu masuk, kami ingin pengunjung merasakan aura yang membuat mereka ingin 'berdandan'. Sofa kami didesain dengan bentuk unik karena kami ingin pengunjung datang dengan pikiran terbuka, lalu memilih kacamata yang benar-benar mewakili kepribadian mereka," tambahnya.
Antino mengungkapkan inspirasi desainnya berasal dari kegelisahan pribadi. Dulu, dia merasa tidak percaya diri saat masuk ke toko kacamata karena atmosfernya terlalu menakutkan. Dia ingin menciptakan toko di mana pelanggan tidak merasa demikian.
Melawan arus
"Sebagai contoh, saya suka disko. Saya mengambil unsur lampu berkedip dan warnanya, lalu saya aplikasikan ke bentuk kacamata. Semuanya berasal dari pengalaman empiris," ujarnya.
Di tengah industri yang terbiasa mengikuti tren, Kavach justru memilih jalan melawan arus. "Saya pribadi tidak mengikuti tren. Mengikuti arus tidak selalu menjamin keberhasilan. Kami lebih memilih mencari sesuatu yang berbeda. Seperti mencari perspektif baru yang belum ada di pasar," katanya.
Strategi ini tercermin dalam target pasar mereka, yaitu orang-orang yang memiliki karakter kuat. "Sebagai Creative Director, saya sering memilih model atau persona yang mungkin tidak terlalu 'cakep' menurut standar umum, tapi memiliki karakter yang kuat," kata Antino.
"Saya ingin membuktikan bahwa kacamata bukan hanya untuk orang yang cantik atau ganteng, tapi untuk mereka yang memiliki identitas," lanjutnya.
Permintaan pasar
Dengan harga berkisar antara Rp 800 ribu hingga Rp 1,5 juta, Kavach serius dalam hal kualitas dan desain. Setiap frame dirancang bukan untuk memenuhi permintaan pasar, tapi untuk menciptakannya.
DNA galeri bukan hanya konsep estetis, tapi komitmen jangka panjang. Kavach terus berkolaborasi dengan seniman dari berbagai disiplin: street art, desain, musik, hingga budaya kustom. Kolaborasi dengan Techo, misalnya, dipilih dengan hati-hati.
"Dulu, saat pembukaan toko di Jalan Agro, nuansanya sangat 'Vherkudara' -- kami mengajak seniman Nasirun dan berbagai generasi seniman senior untuk merayakannya," kenang Antino.
"Untuk Kavach, kami memilih Techo karena meski dia sudah lama berkecimpung di dunia street art, dia belum mencapai tahap maestro. Kami ingin menemani perjalanan karier Techo di titik tengah ini. Kami tumbuh bersama karena Kavach juga baru mulai," tambahnya.
Di Kavach Space, kacamata adalah lebih dari sekadar komoditas melainkan narasi, identitas dan manifesto. Seperti yang Dara katakan saat menjelaskan visinya. Ini bukan hanya tentang membuka gerai, tetapi juga membangun kesadaran baru: bahwa di balik setiap frame di Kavach, ada identitas yang menunggu ditemukan. (*)
Muhammad Zukhronnee Muslim
