Prof Asnath Dikukuhkan sebagai Guru Besar Ilmu Teologi UKDW

Pemikiran teolog klasik sekelas Thomas Aquinas dan Agustinus pun tak luput dari kritikannya.

Prof Asnath Dikukuhkan sebagai Guru Besar Ilmu Teologi UKDW
Foto bersama Prof Dr Asnath Niwa Natar M Th dengan sivitas akademika Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta. (muhammad zukhronnee muslim/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Di bawah sorot lampu Auditorium Koinonia Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), Selasa (2/12/2025), sebuah gugatan teologis yang tajam menggema. Bukan sekadar seremonial akademik biasa, pengukuhan Pdt Prof Dr Asnath Niwa Natar M Th sebagai Guru Besar Ilmu Teologi berubah menjadi panggung manifesto pembebasan bagi kaum perempuan.

Menjadi guru besar aktif ke-7 di UKDW, Prof Asnath tidak memilih topik yang "aman". Dalam orasi ilmiahnya yang bertajuk Merebut Kembali Tubuh Politik, Otoritas dan Teologi Tubuh Perempuan, pakar Teologi Pastoral dan Teologi Feminis ini membongkar realitas pahit. Selama berabad-abad, tubuh perempuan telah dijadikan medan pertempuran makna, moralitas dan kekuasaan.

Prof Asnath mengajak menelusuri sejarah kelam di mana perubahan sistem kekerabatan menuju monogami patriarkal telah merampas otonomi perempuan. Dia menyatakan bagaimana budaya dan adat sering kali menjadi "topeng" bagi kekerasan.

"Praktik kawin paksa, kawin tangkap hingga femisida kerap dipandang sebagai tradisi yang harus dijaga," ungkapnya di hadapan sivitas akademika UKDW saat orasi pengukuhan.

Kritik keras

Ironisnya, lanjut dia, institusi keagamaan yang seharusnya melindungi, tak jarang justru melanggengkan penderitaan. Prof Asnath mengkritik keras fenomena di mana keutuhan pernikahan kerap dianggap lebih penting daripada keselamatan nyawa perempuan yang menjadi korban kekerasan.

Bahkan, pemikiran teolog klasik sekelas Thomas Aquinas dan Agustinus pun tak luput dari kritikannya karena menempatkan hierarki "rohani" (laki-laki) di atas "jasmani" (perempuan) yang melegitimasi dominasi tersebut.

Pidato Prof Asnath bergerak dinamis dari teks kuno hingga realitas modern. Dia mengangkat sosok Ratu Wasti yang sering disalahpahami sebagai simbol perlawanan sejati. Penolakan Wasti untuk dijadikan obyek visual kekuasaan laki-laki adalah proklamasi bahwa tubuh perempuan bukanlah alat hiburan atau komoditas politik.

Relevansinya dengan masa kini sangat kuat. Prof Asnath melihat bagaimana di era digital tubuh perempuan masih menjadi obyek eksploitasi, mulai dari standar kecantikan yang tidak manusiawi di media sosial, perdagangan manusia, hingga kekerasan seksual berbasis siber.

Tawaran pemulihan

Namun, orasi ini bukan hanya berisi gugatan, melainkan tawaran pemulihan. Prof Asnath menyerukan "Teologi Tubuh" sebagai jalan pulang. Pengalaman biologis Perempuan, seperti menstruasi, kehamilan dan menyusui, bukanlah hal yang kotor atau najis.

"Sebaliknya, tubuh perempuan mengungkapkan dimensi ilahi yang kreatif, memelihara, dan penuh kasih," katanya. Menurutnya, tubuh adalah ruang kudus (sakral) di mana ilahi berdiam, sebuah anugerah yang setara dengan laki-laki menurut gambar Allah.

Menutup orasinya, Prof Asnath meninggalkan pesan kuat bagi dunia akademik. Baginya, universitas tidak boleh menjadi menara gading yang netral dan steril. Selama tubuh perempuan masih dikontrol dan dipinggirkan, ilmu pengetahuan harus berpihak untuk memulihkan martabat manusia.

"Tubuh perempuan bukanlah obyek pasif budaya atau kekuasaan. Tubuh perempuan adalah ruang subyektivitas yang memiliki nilai, hak dan potensi pembebasan," ujarnya. (*)