Pegiat Pesta Pernikahan di Yogyakarta Turun Jalan Bawa Kegelisahan

Penipuan berkedok paket pernikahan murah menghantui para calon pengantin.

Pegiat Pesta Pernikahan di Yogyakarta Turun Jalan Bawa Kegelisahan
Pegiat industri pernikahan tergabung dalam IKAPPESTY turun ke jalan memberikan edukasi. (istimewa)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Hiruk-pikuk kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta terasa berbeda. Di tengah arus lalu lalang kendaraan, sekumpulan pelaku industri pernikahan yang tergabung dalam IKAPPESTY (Ikatan Pelaksana Pernikahan Tradisional Yogyakarta) turun jalan membawa kegelisahan.

Mereka tidak sedang merayakan pesta melainkan menyuarakan keresahan atas fenomena kelam yang belakangan menghantui para calon pengantin yaitu penipuan berkedok paket pernikahan murah.

Di bawah bendera kampanye Smart Wedding, Trusted Vendor, aksi ini menjadi simbol perlawanan terhadap oknum tak bertanggung jawab yang telah mencoreng sakralnya ikatan pernikahan.

Dora Lina Bineri selaku Ketua IKAPPESTY merasa prihatin dan mengungkapkan industri yang seharusnya penuh kebahagiaan ini sedang diuji oleh para "makelar" yang memainkan skema tak wajar.

Modus menjebak

"Masyarakat saat ini sudah cukup cemas dengan beberapa oknum yang mengatasnamakan vendor. Alih-alih memberikan solusi, mereka justru memberikan masalah," ujar Dora di sela-sela aksi, Selasa (6/1/2026).

Dia menjelaskan modus yang kini merebak menyerupai skema Ponzi. Para pelaku mengiming-imingi calon pengantin dengan harga paket yang sangat miring. Agar korban segera melunasi pembayaran, mereka dijanjikan bonus-bonus fantastis yang seringkali tidak masuk akal.

Fenomena ini, menurut Dora, menjadi pukulan telak bagi ekosistem pernikahan di Yogyakarta. Sejak pertengahan tahun 2025, kepercayaan publik merosot tajam, terutama terhadap penyedia jasa Wedding Organizer dengan sistem paket all-in.

Ribuan tenaga kerja mulai dari perias, dekorator, katering, hingga tim dokumentasi turut merasakan dampaknya karena masyarakat menjadi takut untuk bertransaksi.

Korban Gen Z

Satu hal yang menjadi sorotan tajam adalah profil para korban yang didominasi oleh Generasi Z. Karakteristik generasi muda yang mendambakan kecepatan dan efisiensi sering kali menjadi celah yang dimanfaatkan para penipu.

"Sebenarnya kami melihat korbannya ini kebanyakan Gen Z, di mana mereka selalu melihat nilai kepraktisannya. Masalahnya, kepraktisan itu penting, tetapi tidak bisa serta-merta disamakan praktis itu pasti murah," tegas Dora.

Dora mengajak kaum muda untuk berpikir lebih kritis. Dia mencontohkan, jika sebuah paket pernikahan mencakup dekorasi, rias, busana, hiburan, hingga dokumentasi dijual dengan harga murah, calon pengantin harusnya bertanya-tanya.

Jika angka itu dipecah per item, hitungannya sering kali tidak cukup untuk standar kualitas yang layak. "Tanpa survei yang mendalam, mereka melihat angkanya sudah all-in dan murah, lalu tergiur. Padahal di situlah letak bahayanya," tambahnya.

Rekam jejak

Sebagai upaya konkret mengembalikan kepercayaan publik, IKAPPESTY siap menggelar pameran pernikahan ke-13 di Jogja City Mall 16 - 18 Januari 2026.

Berbeda dari pameran biasa, ajang ini dikurasi dengan ketat untuk memastikan vendor yang hadir memiliki rekam jejak yang jelas dan menawarkan harga yang logis, tidak terlalu murah hingga mencurigakan, namun tetap bersaing sesuai segmennya.

Dora membagikan tips sederhana namun ampuh bagi siapa saja yang sedang merencanakan hari bahagia agar tidak terjebak janji manis penipu.

Dia menyarankan calon pengantin tidak hanya mengandalkan ulasan atau testimoni dari klien sebelumnya, tetapi juga melakukan validasi silang antar-vendor.

Profesionalisme

"Tanya kepada rekan vendor lain. Misalnya, tanyakan kepada vendor dekorasi apakah mereka pernah bekerja sama dengan vendor A, dan bagaimana profesionalismenya," katanya.

"Semakin kita bisa saling menjaga dan menanyakan rekam jejak, insyaallah atmosfer industri pernikahan ini akan kembali sehat dan menenangkan untuk semua," tambahnya. (*)