Selasa, 27 Okt 2020,


operasi-yustisi-gencar-pesan-bupati-bantul-aja-lali-maskeranOperasi yustisi penggunaan masker di Bantul. (istimewa)


Sari Wijaya

Operasi Yustisi Gencar, Pesan Bupati Bantul Aja Lali Maskeran


SHARE

KORANBERNAS.ID, BANTUL -- Angka positif Covid-19 di Kabupaten Bantul cenderung meningkat. Dari hari ke hari belum terlihat adanya penurunan justru angkanya bertambah. Namun demikian terdapat penderita yang sembuh. 

Berdasarkan data Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Bantul, hampir setiap hari terjadi penambahan angka positif hingga puluhan orang. Sampai berita ini diturunkan, Senin (21/9/2020), jumlah pasien yang masih dirawat 104 orang tersebar di berbagai rumah sakit (RS) termasuk RS Lapangan Bambanglipuro.


Baca Lainnya :

Total kasus sejak Corona pertama kali muncul tercatat 631 orang, dengan jumlah pasien sembuh 513 orang dan meninggal 14 orang.

Komandan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol) PP Kabupaten Bantul, Yulius Suharta, kepada koranbernas.id mengatakan penambahan jumlah kasus salah satu sebabnya karena tracing (penelusuran) secara masif bagi mereka yang kontak erat dengan pasien positif.


Baca Lainnya :

“Jadi memang itu terkait arahan Pak Bupati selaku Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 yang mengambil kebijakan untuk dilakukan tracing. Kalau ada klaster atau ada warga yang positif Covid langsung dilakukan tracing sampai pada tahap penuntasan. Hal ini untuk mengantisipasi dan memutus mata rantai penyebaran. Jangan sampai orang yang sudah terindikasi masih melakukan aktivitas di mana-mana. Dari tracing diteruskan rapid test dan ditindaklanjuti swab. Datanya saat ini masih berkembang,” paparnya.

Melihat masih tingginya angka penderita, Satpol PP gencar melakukan sosialisasi protokol kesehatan di lingkungan permukiman atau area publik seperti pasar, rumah makan, terminal dan perkantoran.

“Edukasi terus berjalan bagaimana aktivitas masyarakat tetap berjalan namun di sisi lain protokol kesehatan harus diterapkan,” katanya.

Bupati Bantul telah mengeluarkan Peraturan Bupati (Perbup) 79/2020 tentang Adaptasi Kebiasaan Baru Protokol Kesehatan Pencegahan virus Disease 2019 yang ditandatangani Bupati Bantul Drs H Suharsono 20 Juli silam.

“Perbup bukan menekankan pengenaan sanksi namun bagaimana menumbuhkan kesadaran di masyarakat,” kata Yulius.

Sosialisasi akan terus dilakukan. Apalagi bupati juga telah mengeluarkan Keputusan Bupati Nomor 398/2020 tentang Perpanjangan Keempat Status Tanggap Darurat Bencana Corona Virus Disease 2019 (Covid-19)di Kabupaten Bantul hingga 30 September mendatang.

Upaya lain yang dilakukan Satpol PP bersama dengan unsur Polisi, TNI, Dinas Perhubungan yang tergabung dalam Satuan Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 di bidang Penegakan Hukum (Gakkum) melakukan operasi yustisi utamanya pengenaan masker.


Yulius Suharta, Komandan Satpol PP Bantul. (istimewa)

Operasi dilakukan rutin hingga Oktober mendatang di lokasi-lokasi strategis. Tujuannya untuk lebih menyadarkan masyarakat agar mematuhi protokol kesehatan. 

Di antaranya operasi dilakukan di Jalan Sudirman, wilayah Imogiri, seputar Terminal Palbapang dan akan berlanjut di area lain dengan dasar kegiatan Perbup Nomor 79/2020.

Ternyata dalam operasi yustisi ini masih saja ditemukan warga tidak mengenakan masker. Mereka diberikan surat teguran dan masker untuk dikenakan.

Jika mengacu Peraturan Bupati Nomor 79 Tahun 2020, sanksinya sampai penahanan Kartu Tanda Penduduk (KTP), tidak diberikan layanan umum serta denda senilai Rp 100 ribu. Semua akan dilakukan bertahap.

“Kita saat ini lebih menekankan kepada membangun kesadaran publik. Bicara sanksi tergantung dari teman teman penyidik, nanti disesuaikan seberapa berat dia melakukan pelanggaran. Kita juga ada sanksi edukatif seperti bela negara dan kerja sosial," tambah Supriyanta, Kepala Bidang Ketertiban Umum dan Kententraman Masyarakat (Tantribum) Sat Pol PP Bantul.

Pesan Bupati Bantul

Bupati Bantul Drs H Suharsono mengatakan di wilayahnya sejak Agustus silam obyek wisata sudah dibuka setelah tutup lebih dari empat bulan. Pasar telah operasional seperti semula.

“Satu pesan saya, aja lali maskeran. Selalu menjaga jarak, tidak berkerumun dan cuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir,” kata bupati.

Pesan tersebut juga dipasang pada baliho maupun spanduk di tempat-tempat strategis. Di pasar juga diberi sarana cuci umum lengkap dengan sabunnya.

Jangan sampai dibukanya wisata ataupun pasar, kata bupati, akan menjadi klaster baru penyebaran Covid-19. Artinya perlu dibangun kesadaran bersama dari semua pihak.

“Saya memang memutuskan untuk membuka dengan pertimbangan kondisi masyarakat. Kalau sampai ditutup lebih lama, mereka tidak bisa mencari rezeki buat keluarga. Sebagai kepala daerah saya yang bertanggung jawab terhadap keputusan membuka itu saat rapat dengan Ngarsa Dalem. Pesan saya, patuhi protokol kesehatan. Jangan sampai muncul klaster sehingga wisata maupun pasar bisa ditutup lagi,” kata bupati.

Bahkan bupati bukan sekadar mengimbau namun terjun langsung melakukan sosialisasi seperti di Lapangan Paseban saat sore hari di mana banyak orang berjualan dan pengunjung yang bersantai di jantung kota tersebut. Selain itu, juga ke pasar-pasar dan sarana publik lain.

Dengan menggunakan pengeras suara bupati berjalan kaki berkeliling, wara-wara tentang pentingnya mematuhi protokol kesehatan serta bagi-bagi masker.

Kepala Dinas Pariwisata Bantul Kwitarto Heru Prabowo S Sos mengatakan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat khususnya wisatawan maka pada berbagai tempat wisata dipasang papan informasi. Termasuk penyediaan sarana cuci tangan dan sabun di obyek wisata.

Dari pantauan koranbernas.id sepanjang Pantai Parangtritis misalnya, para pedagang menyediakan sarana cuci tangan pada setiap kios atau warung mereka. Tempat duduk diatur agar tidak berdekatan. Ada tanda silang pada bangku panjang, sebagai penanda jarak antara satu pengunjung dengan pengunjung lain.

“Kami juga mewajibkan semua pengunjung menggunakan masker. Kalau tidak pakai masker diminta kembali dan tidak diizinkan berwisata. Kita ingin menjaga semua tetap sehat,” tandasnya.

Tak lupa, petugas retribusi di TPR juga dilengkapi thermo gun untuk mengukur suhu tubuh wisatawan. “Mari kita taat aturan, berwisata tetap jalan, ekonomi juga menggeliat, namun kita semua tetap sehat,” katanya.

Kepala Dinas Perdagangan Bantul, Sukrina Dwi Susanta, menambahkan saat ini semua pasar sudah dipasang wastafel lengkap beserta tempat sabun dan penampungan air.

Setiap pasar disediakan tiga titik. Terdapat 32 pasar rakyat di bawah kendali Dinas Perdagangan Bantul. Jumlah tersebut belum termasuk pasar desa yang juga menyediakan sarana serupa. (*)



SHARE
'

BERITA TERKAIT

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini