Norma Fauza Menemukan Hidup Kembali Lewat Lukisan
Pengalaman nyaris kehilangan nyawa akibat tenggelam saat balita, hampir tertabrak kereta hingga terjatuh dari mobil justru menjadi sumber energi kreatif.
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Tidak banyak orang mampu mengubah pengalaman getir dalam hidup menjadi karya seni yang penuh makna. Norma Fauza, perupa asal Padang yang kini menetap di Yogyakarta, merupakan salah satunya.
Pengalaman nyaris kehilangan nyawa akibat tenggelam saat masih balita, hampir tertabrak kereta hingga terjatuh dari mobil justru menjadi sumber energi kreatif baginya untuk terus berkarya.
“Setiap kali selamat dari situasi itu, saya merasa seperti diberi kesempatan untuk bangkit lagi. Hidup ini pasti ada artinya, tidak mungkin berhenti begitu saja,” ujar Norma dalam pameran Interval Palimpsest, sebuah kolaborasi ARTOTEL Suites Bianti Yogyakarta dengan Portable Art yang dibuka, Jumat (26/9/2025).
Salah satu karyanya, berjudul Back to Life adalah perwujudan paling gamblang dari pengalaman itu. Digarap selama sebulan, lukisan tersebut menjadi catatan visual bagaimana dia melihat hidup sebagai ruang untuk kembali, meski sempat jatuh berulang kali.
Masa kecil
Norma memang menjadikan perjalanan hidup pribadi sebagai sumber inspirasi utama. Ingatan masa kecil tentang karnaval di taman kanak-kanak hingga doa-doa yang disisipkan dalam lukisan menjadi bagian dari narasi panjang pencarian jati diri.
Bagi Norma, seni bukan hanya cat dan kanvas, melainkan medium untuk berbagi kekuatan dengan orang lain. “Saya berharap audiens juga bisa menemukan nilai dalam perjalanan mereka sendiri. Jangan mengeluh, jangan menyerah,” katanya.
Latar belakang Norma sebagai lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang, kemudian melanjutkan studi di ISI Yogyakarta pada masa pandemi 2020, memperkaya perspektifnya. Berangkat dari tradisi seni rupa figuratif, dia menekuni jalur ekspresif-figuratif yang lebih personal.
Sejak menetap di Yogyakarta pada 2021, Norma telah menghasilkan lebih dari seratus karya, sebagian di antaranya sudah dipinang kolektor dengan nilai hingga puluhan juta rupiah. Bahkan, beberapa karyanya kini dimiliki oleh kolektor mancanegara.
Masih panjang
“Perjalanan saya masih panjang. Saya baru saja mulai. Tapi setiap karya itu membawa bagian dari hidup saya, atau kehidupan orang lain yang saya temui,” katanya.
Kini, karya Norma Fauza dapat dinikmati publik Bersama karya seniman abstrak lainnya seperti I Nyoman Adiana, Gunhadi, Ary Kurniawan. Pameran mengambil inspirasi dari tradisi kuno palimpsest, naskah yang ditulis berulang kali di atas permukaan yang sama hingga meninggalkan jejak.
Begitu pula karya-karya yang ditampilkan memvisualisasikan lapisan memori, emosi dan transformasi. “Interval” merujuk pada jeda, transisi antara warna, bentuk, maupun abstraksi, menghadirkan dialog antara yang tampak dan tersembunyi.
Reza Farhan selaku General Manager ARTOTEL Suites Bianti Yogyakarta menyampaikan apresiasinya. Keempat seniman memberikan energi yang fresh dan bertumpuk secara positif, selaras dengan filosofi palimpsest yang kaya makna.
Mengundang tamu
"Lukisan-lukisan di lobby kami memperindah suasana, sekaligus mengundang tamu dan pengunjung mengapresiasi narasi dalam warna antara waktu dan imajinasi,” ujarnya.
Dia menambahkan, ARTOTEL Suites Bianti akan terus menjadi ruang apresiatif bagi seniman. Pameran Interval Palimpsest dapat dinikmati secara gratis oleh pengunjung di ARTSPACE, Lobby ARTOTEL Suites Bianti Yogyakarta.
“Kami berharap melalui pameran yang konsisten, seniman mendapat ruang terbuka untuk unjuk gigi dan memperluas cakrawala seni kontemporer di Yogyakarta,” kata Reza. (*)
Yvesta Putu Ayu Palupi
