NATARU, Polda dan Pemuka Agama Fokus pada Keamanan Gereja dan Isu Keremajaan
Dalam paparannya, Tri Panungko menyoroti isu keamanan yang lebih mendasar, yaitu pembinaan remaja. Ia menyinggung fenomena klitih di Yogyakarta, yang mengejutkan, ternyata juga melibatkan remaja dari kalangan Nasrani
KORANBERNSA.ID, YOGYAKARTA—Menjelang perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, komunitas Kristen dan Katolik se-DIY mematangkan koordinasi keamanan dengan Kepolisian Daerah (Polda) DIY dalam sebuah dialog yang digelar hangat di GRII Bener pada Jumat (21/11/2023).
Pertemuan ini dihadiri oleh perwakilan gereja dari seluruh kabupaten/kota, termasuk dari wilayah yang cukup jauh seperti Gunung Kidul dan Kulon Progo, menunjukkan keseriusan dalam memastikan kelancaran perayaan akhir tahun.
Ketua Panitia, Joko Pamungkas, menekankan pentingnya sinergi ini. “Perayaan Natal bukan hanya soal ibadah, tetapi menyangkut pergerakan dan mobilitas jemaat yang masif. Kita harus antisipasi potensi keramaian ini bersama-sama,” ujarnya.
Poin menarik dalam pertemuan ini adalah sesi yang diisi oleh Dirbinmas Polda DIY, Tri Panungko. Selama hampir satu jam, ia tidak hanya memaparkan strategi keamanan, tetapi juga berbagi perjalanan tugas dan spiritualitasnya sebagai seorang Kristen yang memimpin di lingkungan kepolisian.
Tri mengenalkan konsep pelayanan yang ia bawa dari Kalimantan Barat, yaitu Gereja Keliling Keliling Kalimantan (GKKK), yang kini diadaptasi di Yogyakarta menjadi Gereja Keliling Keliling Yogya.
Konsep pelayanan keliling ini, katanya, memungkinkannya dekat dengan berbagai denominasi dan memahami dinamika serta kebutuhan umat. Pengalamannya bertugas di Jawa Barat, wilayah mayoritas Muslim, juga memperdalam penghayatannya tentang pentingnya toleransi dan relasi sosial lintas iman.
Sorotan Tajam terhadap Isu Keremajaan
Dalam paparannya, Tri Panungko menyoroti isu keamanan yang lebih mendasar, yaitu pembinaan remaja. Ia menyinggung fenomena klitih di Yogyakarta, yang mengejutkan, ternyata juga melibatkan remaja dari kalangan Nasrani.
Menurutnya, solusi utama pencegahan anak muda terseret ke perilaku berisiko bukanlah pengawasan ketat semata, melainkan:
“Perhatian keluarga, kasih, dan kedekatan emosional adalah kunci. Keluarga harus hadir lebih kuat daripada tekanan pergaulan,” tegas Tri, mengingatkan peran vital orang tua dan gereja dalam membentuk karakter anak.
Dialog Interaktif dan Komitmen Gerak Cepat
Sesi dialog yang dimoderatori oleh Paulus Kristiyanto (Sekretaris BKSADK DIY) berlangsung sangat aktif. Banyak pendeta dan romo yang berebut mengajukan pertanyaan seputar teknis pengamanan gereja, strategi pembinaan remaja, hingga kesiapan Polda DIY menjelang puncak keramaian Natal dan Tahun Baru.
Menanggapi pertanyaan tersebut, Tri Panungko menyampaikan strategi keamanan yang fokus pada gerak cepat dan kolaborasi. Ia mengajak gereja-gereja meningkatkan komunikasi segera (quick communication) jika terjadi situasi darurat.
Pertemuan penting ini ditutup dengan komitmen bersama antara pemuka agama se-DIY dan aparat kepolisian untuk memperkuat sinergi pengamanan, demi memastikan perayaan Natal dan Tahun Baru di Yogyakarta berjalan aman, terkendali, dan membawa damai bagi seluruh umat. (*)
Siaran Pers
