Modernisasi Produksi Batik Sleman, Kolaborasi UI dan UII Hadirkan Mesin Pelorot Inovatif Berbasis K3

Tim Pengmas UI dan UII berkolaborasi kembangkan mesin pelorot malam inovatif di UMKM Batik Ayu Arimbi Sleman. Tingkatkan kapasitas produksi, pangkas lead time, dan jamin K3 pengrajin

Modernisasi Produksi Batik Sleman, Kolaborasi UI dan UII Hadirkan Mesin Pelorot Inovatif Berbasis K3
Proses pelorodan kain batik di UMKM Batik Ayu Arimbi Sleman. (Tim Pengmas DTI UI)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA--Menjawab tantangan efisiensi pada industri batik rumahan, Tim Pengabdian Masyarakat dari Departemen Teknik Industri Universitas Indonesia (UI) berkolaborasi dengan Universitas Islam Indonesia (UII) meluncurkan mesin pelorot malam inovatif di UMKM Batik Ayu Arimbi, Sleman, Yogyakarta.

​Selama ini, tahapan pelorotan—yaitu proses pelepasan lilin (malam) dari kain batik setelah proses pewarnaan—menjadi salah satu batu sandungan terbesar bagi para pengrajin lokal. Di tingkat produsen mikro, proses ini mayoritas masih mengandalkan metode manual konvensional yang melelahkan. Mulai dari merebus kain di dalam drum besar di atas tungku kayu bakar atau kompor gas rakitan hingga mengangkatnya menggunakan tongkat kayu seadanya.

​Kondisi ini tidak hanya memicu panjangnya waktu tunggu produksi (lead time) dan keterbatasan kapasitas output harian, tetapi juga membebani fisik para pengrajin. Beban kerja fisik yang tinggi, paparan panas ekstrem, serta risiko ergonomis akibat aktivitas angkat-angkut manual (manual material handling) menjadi pemandangan sehari-hari yang dihadapi oleh para pekerja yang didominasi oleh ibu-ibu tersebut.

​Sinergi Lintas Kampus

​Menjawab urgensi nyata di lapangan, Tim Pengmas DTI UI yang dikomandoi oleh Dr. Inaki Maulida Hakim, S.T., M.T., menginisiasi penerapan teknologi tepat guna yang dirancang spesifik sesuai karakteristik industri rakyat. Agenda yang digelar pada Sabtu (11/04/2026) ini didanai melalui program Hibah Pengabdian Masyarakat skema inbound World Class University (WCU) Universitas Indonesia. Skema ini sengaja dirancang untuk mengawinkan hilirisasi riset akademik dengan internasionalisasi pengetahuan.

Tim Pengmas DTI UI bersama sejumlah pengrajin batik di Sleman. (Dokumentasi Tim Pengmas DTI UI)

Tidak sendiri, UI menggandeng Jurusan Teknik Industri Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta untuk memperkuat integrasi aspek ergonomi, serta Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Istimewanya, program ini juga melibatkan mahasiswa asing melalui jaringan kemitraan internasional UII. Kehadiran para mahasiswa lintas negara ini memberikan dimensi pertukaran budaya (cultural exchange) sekaligus sarana introduksi adiluhungnya proses wastra batik Indonesia ke panggung dunia.

​Mekanisme Kerja Inovasi Mesin Pelorot

Dosen Teknik Industri UII, Atyanti Dyah Prabaswari mengatakan, mesin pelorot yang diserahterimakan menggunakan sistem mekanisasi semi-otomatis dengan integrasi struktur katrol mekanik. Komponen ini didesain khusus untuk mengeliminasi beban angkat vertikal ekstrem saat kain basah berbobot berat diekstraksi dari air mendidih. Dilengkapi tangki berkapasitas optimal, mesin ini mampu memproses volume kain yang jauh lebih besar dalam satu siklus kerja tunggal.

​​Dampak instan mekanisasi ini dirasakan langsung oleh pelaku usaha. Atyanti Dyah Prabaswari, mengonfirmasi bahwa introduksi teknologi ini mengubah peta efisiensi di lantai produksi secara masif.

Kita sudah melakukan nglorodan batik menggunakan mesin ini. Menarik karena yang tadinya manual menjadi menggunakan mesin, jadi memudahkan terutama saat mengangkat kain. Ini sangat berdampak untuk UMKM kita dan semoga bisa membantu Batik Ayu Arimbi ke depannya, ujar Atyanti.

​Ia menambahkan, kolaborasi riset ini tidak berhenti di sini. Rekayasa lanjutan ke depan akan difokuskan pada sinkronisasi data antropometri tubuh pengrajin lokal untuk menyempurnakan dimensi mesin, serta meminimalkan sisa aktivitas manual yang berpotensi mencederai otot (musculoskeletal disorders).

​Rangkaian kegiatan pengabdian tidak sekadar serah-terima alat di atas kertas. Tim gabungan UI dan UII terlebih dahulu membekali mitra pengrajin dengan pelatihan teoritis komprehensif mengenai penentuan waktu standar (standard time) dan kalkulasi target output produksi. Hal ini krusial agar manajemen UMKM mampu beralih dari tata kelola tradisional menuju manajemen operasi berbasis data. Setelah itu, materi K3 dipaparkan guna menjamin proteksi kesehatan pengrajin selama berinteraksi dengan mesin baru.

Sejumlah mahasiswa asing ikut terlibat dalam workshop dan pengabdian masyarakat di UMKM Batik Ayu Arimbi Sleman. (Tim Pengmas DTI UI) 

Perspektif Mahasiswa Internasional

​Keterlibatan mahasiswa dalam lokakarya (workshop) memberikan warna tersendiri. Rekayasa solusi industri yang menyentuh masyarakat bawah menumbuhkan kekaguman mendalam bagi para mahasiswa, baik domestik maupun mancanegara. Zahara Intan, mahasiswa Program Magister UII, menyebutkan implementasi ini membuat alur kerja jauh lebih efektif sekaligus mengeliminasi kelelahan kronis fisik pengrajin.

​Hal senada diutarakan oleh Yaser Ameen, mahasiswa internasional asal Yaman. Dari kacamata keselamatan, Yaser menyoroti bagaimana teknologi ini mampu memitigasi bahaya kecelakaan kerja yang fatal di lingkungan kerja konvensional.

​“Dengan menggunakan alat ini, prosesnya menjadi jauh lebih mudah bagi orang-orang yang membuat batik dan melepaskan malam. Hal yang paling menarik adalah mesin ini sangat penting untuk keselamatan kerja karena proses sebelumnya dilakukan secara manual dan pekerja bisa saja terkena luka bakar akibat air mendidih. Dengan menggunakan mesin ini, prosesnya menjadi lebih mudah dan lebih aman,” tutur Yaser.

​Respons positif juga datang dari ara pengrajin di garda depan produksi. Dwi Lestari, salah satu pembatik di Batik Ayu Arimbi, mengakui mesin ini memangkas kelelahan fisik secara drastis, meski ia memberikan catatan evaluasi konstruktif untuk pengembangan versi berikutnya.

“Sangat baik. Mesinnya sangat membantu bagi pengrajin batik. Mungkin pada bagian pengapian bisa ditingkatkan lagi agar waktu menunggu air mendidih bisa lebih cepat, sarannya.

​Pengrajin lain, Rumanti Budiati, menceritakan komparasi kontras kemudahan operasi antara era manual dengan era mekanisasi katrol saat ini.

Sebelumnya proses pelorotan dilakukan manual menggunakan kayu bakar atau gas. Kalau sekarang dengan mesin tinggal diengkol saja. Mudah-mudahan alat yang diberikan bisa membantu memperlancar produksi batik, lebih efisien tenaga, lebih cepat, dan tidak terlalu capek bagi pengrajin,” harapnya.

​Dengan titik berat pada optimalisasi efisiensi operasi yang selaras dengan kenyamanan fisik pekerja perempuan, inovasi mesin pelorot hasil kolaborasi UI dan UII ini diharapkan menjadi pemantik standardisasi baru bagi industri batik rakyat. Tim Pengabdian Masyarakat berharap model teknologi tepat guna ini dapat segera direplikasi dan diimplementasikan secara massal di berbagai sentra batik nasional, guna mendongkrak daya saing produk lokal di kancah perdagangan global. (*)