Mila Rosinta Menari di Tengah Zaman Serba Cepat
Dulu kami diajari dengan cara keras dan disiplin, tapi cara itu tidak bisa sepenuhnya dipakai untuk anak-anak sekarang.
KORANBERNAS.ID, SLEMAN -- Di tengah zaman yang serba cepat ditandai gempuran dunia digital dan budaya instan, Mila Art Dance School (MAD) tetap teguh menjaga denyut seni tari di Yogyakarta.
Melalui gelaran tahunan Metamorfosa ke-19 yang digelar di Sleman City Hall, Sabtu (1/11/2025), sanggar ini menegaskan bahwa menari bukan sekadar gerak tubuh, tetapi perjalanan panjang membentuk karakter, disiplin dan rasa cinta terhadap budaya.
Pemilik sekaligus seniman tari, Mila Rosinta, menyebutkan Metamorfosa bukan hanya pentas melainkan ruang belajar yang hidup bagi siswa, pengajar dan peserta magang. Mereka belajar menari dari dasar, berproses selama berbulan-bulan, hingga akhirnya tampil percaya diri di panggung.
“Yang membuat saya terharu itu melihat anak-anak yang sudah empat atau lima tahun berproses. Dulu mereka bahkan belum bisa membedakan gerak, sekarang bisa tampil penuh ekspresi. Itu hasil dari konsistensi,” ujar Mila.
Layar ponsel
Bagi Mila, menjaga minat anak muda terhadap seni bukan hal mudah. Generasi Alfa tumbuh pada era TikTok dan YouTube, di mana belajar tari bisa dilakukan lewat layar ponsel. Namun bagi Mila, belajar tari tidak bisa sepenuhnya digantikan dengan tutorial daring.
“Energi dan ruh-nya berbeda. Di layar, mereka meniru gerak. Tapi di kelas, mereka belajar rasa, karakter dan kedisiplinan,” katanya.
MAD kini memiliki 14 pengajar aktif dan sekitar 150 siswa dari total 200 lebih pendaftar. Jumlah ini menurun dibanding tahun sebelumnya, namun Mila tidak pesimistis. Dia justru melihat itu sebagai tantangan untuk terus berinovasi.
“Dulu kami diajari dengan cara keras dan disiplin, tapi cara itu tidak bisa sepenuhnya dipakai untuk anak-anak sekarang. Kami harus menyesuaikan pendekatan agar mereka tetap merasa nyaman dan tertarik,” ujarnya.
Cara baru
MAD menawarkan dua jenis kelas terdiri technique class untuk tari tradisi, balet, dan kontemporer serta fun class untuk genre populer seperti K-pop atau kreasi anak. Strategi ini terbukti efektif mengenalkan budaya lewat cara yang lebih dekat dengan generasi muda.
“Kadang mereka datang karena ingin belajar K-pop. Tapi setelah lihat latihan tari tradisi, mereka jadi tertarik ikut juga. Dari situ ada pertukaran ilmu dan rasa ingin tahu baru,” kata Mila.
Dalam Metamorfosa ke-19, Mila menampilkan karya terbarunya, Tari Putren Wayang, yang dibawakan anak-anak usia SD. Karya ini mengangkat karakter wayang putri seperti Srikandi, Arimbi dan Drupadi dengan media wayang kertas buatan tangan.
“Saya ingin mereka mengenal budaya lewat tari. Lewat cerita wayang, mereka belajar tentang kelembutan, ketegasan, dan nilai-nilai luhur yang mulai jarang disentuh,” katanya.
Dunia berubah
Mila percaya, seniman sejati bukan hanya mencipta karya, tetapi juga membangun hubungan dengan masyarakatnya. Dia mencontohkan bagaimana sanggar terus beradaptasi dengan zaman, dari cara mengemas pertunjukan hingga membangun interaksi kreatif.
“Mau tidak mau, dunia berubah. Tapi yang penting bagaimana seorang seniman bisa jadi jembatan antara seni dan masyarakatnya. Kalau kita berjarak, seni hanya akan jadi ruang eksklusif yang perlahan kehilangan maknanya,” tambahnya.
Bagi Mila, Metamorfosa adalah bentuk nyata perjalanan panjang itu -- bagaimana seni bertahan, bertransformasi, dan melahirkan generasi baru penari muda yang menari bukan sekadar untuk dilihat, tetapi untuk dihayati. (*)
Muhammad Zukhronnee Muslim
