Jumat, 22 Jan 2021,


masih-ditemui-warga-ngeyel-tidak-bermaskerTalkshow dengan tema “Hari Gini Wong Bantul Belum Bermasker? Duuuh....” digelar Senin (26/10/2020) di Rumah Makan (RM) Ikan Bakar Bantul (Ibaba) . (Lilik Sumantoro/koranbernas.id)


Sariyati Wijaya

Masih Ditemui Warga Ngeyel Tidak Bermasker


SHARE

KORANBERNAS.ID, BANTUL--Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bantul, Dwi Daryanto M.Si dan Budi Santoso dari Muhammadiyah Covid-19 Command Center, tampil sebagai narasumber dalam talkshow dengan tema “Hari Gini Wong Bantul Belum Bermasker? Duuuh....” Senin (26/10/2020) di Rumah Makan (RM) Ikan Bakar Bantul (Ibaba). Talkshow digelar oleh Koran Bernas, bekerja sama dengan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19.

Acara yang dihadiri puluhan peserta tersebut, menerapkan protokol kesehatan yakni semua peserta diukur suhu tubuhnya saat masuk lokasi acara dengan thermo gun, mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir, wajib bermasker dan menjaga jarak.

  • Libur Panjang, Polres Perketat Protokol Kesehatan
  • Ini Imbauan Bupati Sleman Sambut Libur Panjang

  • Dalam materinya Dwi mengatakan, terkait kondisi Covid-19 angka terkonfirmasi positif terus bertambah. Maka menggunakan masker menjadi sebuah keharusan.

    “Bukan hanya diri sendiri, kita harus greteh mengingatkan keluarga dan orang-orang di sekitar kita, Kita harus jujur dengan diri kita sendiri dengan taat bermasker. Karena kadang kita memaksa orang memakai masker, namun kita sendiri lalai menggunakannya,” kata Dwi.

  • Meski Bermasker Penari Cilik Sanggar Tari Dolalak Arum Sari Tetap Semangat Berlatih
  • Empat Bulan Tutup Pasar JLS Buka Lagi

  • “Kenyataan di lapangan, sering kali saat digelar operasi yustisi ,

    ternyata selalu ada yang ngeyel tidak memakai masker. Pasti ada temuan,”katanya.

    Maka, berbagai upaya terus dilakukan. Termasuk gerakan 1 juta masker di DIY. Untuk program ini, Bantul mendapat jatah 135.000 lembar masker. Masker dibagikan ke area publik seperti pasar karena pengunjungnya heterogan, maupun ke masyarakat secara langsung dalam berbagai kesempatan.

    “Dan saya saat ini sedang berencana membuat stiker yang ditempel ke rumah-rumah. Isinya imbauan mengenakan masker. Dengan begitu orang akan ingat manakala akan keluar rumah untuk mengenakan masker. Karena sering orang tidak memakai karena alasan lupa,”katanya.

    Terkait denda, disebut bukan upaya terakhir. Karena yang terpenting adalah edukasi, untuk menyadarkan bahwa masker adalah kebutuhan dan menjadi budaya di tengah masyarakat.

    Sementara Budi Santoso mengatakan, saat Presiden Jokowi mengumumkan tanggal 2 Maret tentang pasien pertama Covid-19 warga Depok, maka Ketua DPP Muhammadiyah, Prof Haedar Nashir langsung menindak lanjuti dengan pembentukan tim pada tanggal 5 maret. Baik untuk koordinasi maupun informasi komunikasi.

    Saat itu, 82 RS Muhammadiyah se-Indonesia langsung terjun dalam penanganan Covid-19 dan menjadi RS rujukan.

    ”Dan hal yang menarik adalah mengenai dinamika masker. Banyak sekali orang kita senang dengan masker fantastis dan menarik, kerena ada gambarnya. Saran saya, pakailah masker karena menfaatnya dan direkomendasikan berbasis kain. Dan dari awal Muhammadiyah sudah meluncurkan gerakan pakai masker dari pusat sampai level jamaah,” katanya,

    Masker yang bagus, lanjut Budi adalah yang memiliki tiga lapis. Maka menurutnya, ke depan mungkin UMKM bisa membuat masker dengan tiga lapis dan lapisan terluar anti air, lapis kedua ada filter virus dan lapisan ketiga ada resapkan air.

    “Kita lakukan gerakan kultural memakai masker. Seperti halnya orang wudhu saat akan sholat, atau memakai helm saat mau naik motor,” katanya. (*)

     

     

     

     



    SHARE
    '

    BERITA TERKAIT

    Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

    Tulis Komentar disini