atas1

Masalah Pelik Terjadi di Pintu Masuk Perbatasan DIY-Jateng

Jumat, 15 Mei 2020 | 21:25:34 WIB, Dilihat 12221 Kali
Penulis : Sholihul Hadi
Redaktur

SHARE


Masalah Pelik Terjadi di Pintu Masuk Perbatasan DIY-Jateng Kunjungan Komisi A DPRD DIY ke perbatasan Sleman dan Magelang. (istimewa)

Baca Juga : Di Tengah Pandemi Covid-19, Hari Jadi Sleman Diperingati Sederhana


KORANBERNAS.ID, MAGELANG – Lima titik pintu masuk perbatasan wilayah Provinsi DIY dengan Jawa Tengah (Jateng) yang menghubungkan Kabupaten Wonogiri, Sukoharjo dan Klaten dengan Gunungkidul, Klaten dan Sleman, Magelang dan Sleman serta Purworejo dan Kulonprogo, saat ini menyimpan masalah pelik.

Wilayah tanpa batas alias borderless tersebut menyimpan potensi penyebaran virus Corona atau Covid-19 mengingat dua provinsi bertetangga ini sama-sama tidak menerapkan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Warga bebas keluar-masuk.

Menyikapi kondisi tersebut, Komisi A DPRD DIY bersama instansi terkait, Kamis (14/5/2020), mengadakan kunjungan kerja ke Pemerintah Kabupaten Magelang.

“Yang namanya Covid-19 itu tidak berpindah, yang berpindah itu orang yang membawa virus, antara Magelang dan DIY sangat penting untuk menyamakan persepsi,” ungkap Noviar Ahmad, Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Sat Pol PP DIY).

Menurut dia, selama ini petugas posko perbatasan DIY di Sleman sudah melakukan pemeriksaan kesehatan siapa saja yang masuk wilayah DIY. “Jika Magelang tidak melakukan hal yang sama maka usaha ini bisa sia-sia, karena itu perlu sinkroninasi,” ucapnya.

Pemda DIY mengapresiasi langkah-langkah strategis Pemkab Magelang yang sudah cukup bagus membatasi warga keluar-masuk. “Antara DIY dan Jateng harus satu persepsi karena sama-sama mengambil sikap tidak menerapkan PSBB,” tegasnya.

Wakil Ketua DPRD DIY Anton Prabu Semendawai menyatakan inilah pentingnya koordinasi wilayah perbatasan. Selama ini tidak sedikit warga Klaten maupun Magelang setiap hari ke Yogyakarta untuk bekerja.

Belum lagi masuknya pemudik ke DIY, sudah tercatat mencapai angka 33 ribu orang. “Sekarang ini kewaspadaan mulai kendor, masyarakat banyak yang berkumpul,” kata Anton.

Dia juga menyoroti mulai banyaknya warga dari luar DIY datang ke Yogyakarta, beberapa di antaranya sebagai peminta-minta. Saat dilakukan pengecekan diketahui terdapat warga dari Klaten suhunya 38 derajat celcius.

“Kalau kita tidak ada kerja sama dengan tetangga kita kirim pulang ke sana akan masalah. Masyarakat akan menolaknya. Kita butuh kerja sama yang baik supaya apabila ada warganya positif bisa dikembalikan ke daerah,” kata dia.

Ketua Komisi A DPRD DIY, Eko Suwanto, menyatakan Covid-19 terjadi di seluruh wilayah Indonesia termasuk DIY. “Perlu koordinasi pengawasan di perbatasan termasuk kontrol pemudik dan lalu lintas orang. Melalui peningkatan kerja sama wilayah perbatasan akan mengefektifkan langkah dan kebijakan Pemda,” kata dia.

Hanya saja para wakil rakyat menyayangkan fasilitas maupun kebutuhan bagi petugas perbatasan, termasuk alat pelindung diri (APD) dan rapid test,  belum tersedia. Padahal mereka juga perlu menjaga kesehatannya.

Kunjungan Komisi B DPRD DIY di Kecamatan Prambanan Klaten. (istimewa)

Perhatian serius

Pada hari yang sama, Komisi B DPRD DIY juga mengadakan kunjungan kerja ke Pemkab Klaten guna memastikan mobilitas warga maupun kendaraan pengangkut logistik.

“Menjelang lebaran, kebutuhan logistik terutama bahan kebutuhan pokok cukup tinggi. Kebutuhan logistik bagi warga DIY sebagian disuplai dari Klaten,” ujar Danang Wahyu Broto, Ketua Komisi D DPRD DIY didampingi wakilnya Dwi Wahyu B dan Sekretaris Atmaji.

Danang sepakat pemeriksaan di perbatasan diperketat, meski ada pengecualian untuk kendaraan pengangkut sembako. “Kami berharap di perbatasan jangan sampai muncul masalah,” kata Danang.

Sama halnya dengan masyarakat Magelang, setiap harinya tidak sedikit warga Klaten bekerja di Sleman maupun Kota Yogyakarta, begitu pula sebaliknya warga dari DIY pulang pergi ke Klaten untuk keperluan serupa.

Dwi Wahyu menambahkan, selama masa tanggap darurat penanganan Covid-19 yang akan berakhir 29 Mei 2020, titik krusial memang ada di sektor kesehatan namun demikian dampaknya terhadap sektor perekonomian jangan dianggap sepele.

Sekretaris Camat Klaten Puspo Enggar Hastuti menyatakan benar warganya lebih banyak beraktivitas di DIY. Dia juga menyebutkan akhir-akhir ini banyak pembagian sembako, di DIY banyak grosir sembako menerima pasokan dari Klaten. (sol)



Jumat, 15 Mei 2020, 21:25:34 WIB Oleh : Nila Jalasutra 218 View
Di Tengah Pandemi Covid-19, Hari Jadi Sleman Diperingati Sederhana
Jumat, 15 Mei 2020, 21:25:34 WIB Oleh : Nila Jalasutra 282 View
Semua Warga Kecamatan Ngemplak Mendapat Bantuan Sembako
Jumat, 15 Mei 2020, 21:25:34 WIB Oleh : Masal Gurusinga 565 View
Ada 339 KK Penerima BST di Klaten Salah Sasaran

Tuliskan Komentar