Marsmolys Dobrak Sekat Musik dan Seni Rupa Lewat Pameran The Post Naissance

Ternyata musik, visual, dan seni rupa bisa dipertemukan walaupun memang tidak mudah.

Marsmolys Dobrak Sekat Musik dan Seni Rupa Lewat Pameran The Post Naissance
Personel Marsmolys dalam pameran The Post-Naissance di Galeri RJ Katamsi ISI Yogyakarta, Senin (1/6/2026). (yvesta putu ayu palupi/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Sebuah band biasanya merayakan album baru melalui konser, tur atau peluncuran digital. Namun Marsmolys mendobrak sekat itu dan memilih jalan yang berbeda. Grup musik asal Yogyakarta itu justru membawa semesta musik mereka ke ruang galeri melalui pameran seni bertajuk The Post-Naissance yang resmi dibuka di Galeri RJ Katamsi ISI Yogyakarta, Senin (1/6/2026).

Pameran tersebut menjadi peristiwa yang tidak lazim di skena musik maupun seni rupa. Sebab, untuk pertama kalinya Marsmolys menginisiasi sebuah pameran yang mempertemukan karya musik dengan respons visual dari para seniman lintas disiplin.

Sedikitnya 17 perupa terlibat dalam proyek tersebut dengan menghadirkan karya beragam, mulai dari lukisan, instalasi, karya dua dimensi, tiga dimensi, eksplorasi tubuh, hingga pengalaman sensorik yang lahir dari dialog dengan musik Marsmolys.

Tajuk The Post-Naissance sendiri terinspirasi dari istilah renaissance, namun dimaknai sebagai kondisi "pasca kelahiran". Gagasan tersebut menjadi benang merah yang menghubungkan seluruh pengalaman artistik dalam pameran.

Secara langsung

Bagi Marsmolys, pameran ini merupakan upaya memperpanjang pengalaman mendengarkan album menjadi pengalaman visual dan spasial yang dapat dirasakan secara langsung oleh publik.

"Kami ingin menunjukkan bahwa musik dan visual bisa bertemu di satu ruang. Walaupun Marsmolys identik dengan musik, kami selalu punya hubungan erat dengan seni visual," kata Yoga Bhakti, gitaris Marsmolys sekaligus salah seorang penggagas pameran.

The Post-Naissance adalah perpanjangan tangan dari The Progeny of Holy Moly sekaligus kesadaran bahwa seni musik tidak bisa lepas dari seni visual. Gagasan tersebut lahir dari respons yang tidak terduga ketika album kedua Marsmolys dirilis.

Menurut Yoga, banyak pendengar justru lebih tertarik membicarakan artwork album dibandingkan musiknya. Artwork album tersebut dibuat dalam bentuk lukisan yang kemudian didigitalisasi. Respons publik terhadap visual itulah yang memunculkan ide untuk mengembangkan karya tersebut menjadi sebuah pameran.

Lebih banyak

"Pas album rilis, responsnya malah lebih banyak ke artwork. Dari situ muncul obrolan dengan teman-teman, bagaimana kalau bikin pameran. Akhirnya awal tahun kami mulai menggodok prosesnya," katanya.

Dalam pameran tersebut, Marsmolys juga memberikan satu ruang khusus yang menceritakan perjalanan band. Berbagai alat musik yang biasa digunakan saat manggung dipajang bersama album dan dokumentasi proses kreatif mereka.

Meski demikian, menggabungkan musik dan seni visual bukan perkara mudah. Yoga mengaku sempat mendapat banyak pertanyaan dari teman maupun pendengar yang mempertanyakan mengapa sebuah band justru membuat pameran.

"Banyak yang bilang band kok bikin pameran, band kan harusnya manggung. Tapi jawaban kami ada di pameran ini. Ternyata musik, visual dan seni rupa bisa dipertemukan walaupun memang tidak mudah," ujarnya.

Pendekatan berbeda

Penulis pameran, Tomi Firdaus, melihat The Post-Naissance sebagai ruang pertemuan antara musik dan tafsir visual yang berkembang dari sumber yang sama namun diterjemahkan melalui pendekatan artistik yang berbeda-beda.

Menurutnya, langkah Marsmolys menjadi menarik karena mereka sadar bahwa praktik musik tidak pernah benar-benar terlepas dari seni visual. Hubungan itu selama ini hadir dalam bentuk sampul album, poster, ilustrasi, hingga berbagai identitas visual yang menyertai karya musik.

"Ini bukan lagi masanya mengkotak-kotakkan musik dan seni rupa. Yang menarik hari ini justru ketika keduanya saling mendukung dan berkolaborasi. Banyak karya musik yang hidup berdampingan dengan visualnya, dan hubungan itulah yang ingin dihadirkan kembali melalui pameran ini," kata Tomi.

Dia menjelaskan para seniman diberi kebebasan penuh untuk menafsirkan gagasan utama pameran. Karena itu, karya-karya yang muncul memiliki pendekatan yang sangat beragam.

Tidak terjebak

Ada seniman yang secara langsung merespons album Marsmolys, sementara yang lain mengembangkan gagasan tersebut menjadi pengalaman personal yang lebih luas. "Kebebasan itulah yang membuat pameran menghadirkan spektrum visual yang kaya dan tidak terjebak pada satu narasi tunggal," ujarnya.

Direktur Galeri RJ Katamsi, Nano Warsono, menyebutkan pameran tersebut sebagai bentuk gotong royong kebudayaan yang memperlihatkan bagaimana seni musik dan seni rupa dapat saling menghidupi.

Menurutnya, Marsmolys merupakan salah satu band yang memiliki kedekatan khusus dengan dunia seni rupa dan memahami bahwa seni pada dasarnya bersifat cair.

"Ini adalah sebuah kerja kebudayaan. Kita berada dalam ruang audio dan juga ruang visual. Seni rupa dan seni musik bisa saling mempengaruhi. Kadang saya terpengaruh musik ketika membuat karya seni, dan saya juga terpengaruh karya seni rupa ketika membuat musik," ujarnya.

Ekspresi baru

Nano menilai langkah Marsmolys penting karena menunjukkan seni tidak perlu dibatasi oleh medium tertentu. Seni rupa dan musik dapat bertemu dalam ruang yang sama, saling menginspirasi dan melahirkan bentuk-bentuk ekspresi baru.

"Perjalanan Marsmolys ini belum akan usai dan masih cukup panjang. Mereka menunjukkan bahwa seni rupa itu tidak padat, tetapi cair dan seni musik juga cair. Jadi kita bisa sama-sama mengeksplorasi dua hal ini," katanya.

Pandangan serupa disampaikan kurator pameran, Suwarno Wisetrotomo. Dia mengaku sempat melihat proyek ini sebagai langkah yang penuh risiko karena mempertemukan dua dunia yang selama ini sering dianggap berbeda. "Namun justru dari keberanian mengambil risiko itulah lahir kemungkinan baru dalam praktik kesenian," ungkapnya.

Suwarno mengenang bagaimana pada masa mudanya hubungan antara musik dan seni visual hanya melalui sampul kaset, poster atau ilustrasi album. Dia bahkan mengaku pernah membeli kaset hanya karena tertarik pada desain sampulnya.

Terobos sekat

Ingatannya terhadap logo lidah menjulur milik Rolling Stones dan ilustrasi album-album Pink Floyd menjadi bukti seni visual sejak lama sebenarnya telah menjadi bagian penting dari pengalaman bermusik.

"Hari ini saya menyaksikan semuanya menjadi satu ruang yang tidak lagi terpusat. Menurut saya, ini adalah gerakan yang mencerminkan seni hari ini. Ketika sekat diterobos dan batas-batas dilebur, yang terjadi adalah kesatuan ekspresi," ujarnya.

Sementara itu, gitaris dan vokalis Marsmolys, Antino Restu Aji, menjelaskan album yang menjadi titik awal pameran ini lahir dari berbagai pengalaman keseharian para personelnya. Marsmolys tidak pernah secara khusus menentukan tema besar sebelum membuat lagu.

Sebaliknya, mereka merekam berbagai pengalaman yang benar-benar terjadi selama proses kreatif berlangsung. Mulai dari rasa lelah, persoalan ekonomi, tekanan kehidupan sehari-hari, hingga kejadian-kejadian tak terduga selama perjalanan menuju studio rekaman. 

Sarat simbol

"Kami tidak menentukan akan menceritakan tentang apa. Yang kami lakukan adalah merekam apa yang benar-benar kami alami selama proses menuju album," katanya.

Keresahan itu kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa musikal yang sarat simbol dan semiotika. Marsmolys sendiri beranggotakan Antino Restu Aji (gitar dan vokal), Yoga Bhakti, Reno (drum) dan Ferdy Listant (bass).

Selain menampilkan puluhan karya seni rupa, The Post-Naissance yang dipamerkan hinga 13 Juni 2026 ini juga digelar performance art dari Sobri Lail serta visual mapping karya Adi Novianto yang memperkuat pengalaman imersif pengunjung selama berada di ruang galeri.

Melalui pameran ini, Marsmolys tidak sekadar mempromosikan album. Mereka mencoba memperluas cara publik menikmati musik, dari yang semula hanya didengar menjadi sesuatu yang dapat dilihat, dibaca, dirasakan dan ditafsirkan melalui berbagai medium seni. (*)