Manajemen Bajaj dan Maxride Audiensi ke DPRD Kota Yogyakarta, Ini Hasilnya

Karakter Yogyakarta yang lekat dengan sektor kreatif dan UMKM menjadikan Bajaj relevan dan tepat guna bagi masyarakat.

Manajemen Bajaj dan Maxride Audiensi ke DPRD Kota Yogyakarta, Ini Hasilnya
Pertemuan manajemen Bajaj RE Indonesia dan Maxride Indonesia dengan DPRD Kota Yogyakarta. (istimewa)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Di tengah ancaman pelarangan operasional di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, manajemen Bajaj RE Indonesia dan Maxride Indonesia mengambil langkah strategis dengan audiensi ke DPRD Kota Yogyakarta.

Pertemuan yang dihadiri Ketua DPRD Kota Yogyakarta FX Wisnu Sabdono Putro dan anggota DPRD Muhamad Sofyan dari Fraksi PAN ini menjadi upaya membuka ruang dialog konstruktif sekaligus menunjukkan kontribusi nyata bagi ekonomi lokal.

Menghadapi polemik kebijakan, Maxride memainkan kartu andalannya. Budhie Trisaputra selaku City Manager Maxride Kota Yogyakarta tegas menyatakan seluruh unit Bajaj beroperasi legal dengan kelengkapan dokumen resmi.

"Sertifikasi Registrasi Uji Tipe (SRUT) dan Sertifikat Uji Tipe Kendaraan Bermotor dari Kementerian Perhubungan, izin PSE dari Kementerian Komunikasi dan Informatika, hingga STNK dan pelat hitam resmi dari Kepolisian RI," ujarnya melalui keterangan tertulis, Jumat (28/11/2025).

Ekosistem bisnis

Tak hanya soal legalitas, Antonio Gratiano selaku General Manager PT Max Auto Indonesia saat menyampaikan hasil audiensi dengan wakil rakyat mengungkapkan strategi kolaborasi dengan brand lokal sebagai bukti komitmen terhadap ekosistem bisnis Yogyakarta.

Dagadu, Arfa Barbershop, Sender Coffee dan SUNA (Susu Sarjana) telah menjadi mitra yang menunjukkan Bajaj bukan sekadar moda transportasi tetapi bagian dari rantai ekonomi kreatif Jogja.

Yang menarik, Muhamad Sofyan sebagai anggota DPRD yang juga pegiat UMKM justru menjadi pendukung keberadaan Bajaj. Menurutnya, moda transportasi ini memiliki potensi besar memberdayakan pelaku usaha kecil karena sifatnya yang efisien, ekonomis dan mudah diakses.

"Karakter Yogyakarta yang lekat dengan sektor kreatif dan UMKM menjadikan Bajaj relevan dan tepat guna bagi masyarakat luas," tegas Sofyan.

Lampu hijau

Sedangkan Wisnu Sabdono Putro memberikan sinyal positif dengan menyampaikan dukungannya namun dengan catatan ketat. "Operasional Bajaj Maxride harus mengedepankan aspek keamanan, kenyamanan pengguna dan yang terpenting, ketertiban bersama dengan sesama komunitas driver online maupun konvensional," ujarnya.

Pernyataan ini mengisyaratkan kunci keberlangsungan Bajaj di Jogja terletak pada kemampuannya menjaga harmoni dengan ekosistem transportasi yang sudah ada.

Pertemuan ditutup dengan pembahasan dampak ekonomi yang tidak main-main. Maxride telah membuka ribuan lapangan pekerjaan di berbagai kota di Indonesia. Angka ini menjadi senjata pamungkas dalam argumentasi bahwa pelarangan Bajaj bukan hanya soal moda transportasi tetapi juga nasib ribuan driver dan keluarganya.

Pihak Maxride menyampaikan harapan agar manfaat sosial dan peluang ekonomi ini dapat terus diperluas di DIY, sejalan dengan komitmen perusahaan mendukung mobilitas urban dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. (*)