Mahasiswa UMNU Menjelajahi Kota Tua Prembun

Mahasiswa diajak masuk lorong waktu, melihat infrastruktur masa lampau benar-benar memperhitungkan semua elemen.

Mahasiswa UMNU Menjelajahi Kota Tua Prembun
Mahasiswa UMNU Kebumen memperoleh informasi seputar sejarah Kota Tua Prembun. (istimewa)

KORANBERNAS.ID, KEBUMEN -- Sebanyak 30 mahasiswa Prodi Teknik Sipil Universitas Maarif Nahdlatul Ulama (UMNU) Kebumen menggali konsep manajemen sumber daya konstruksi masa lalu. Berbagai bentuk bangunan sipil di kawasan Kota Tua Prembun menjadi obyek studi dalam observasi lapangan, Sabtu (6/12/2026)

Dosen pembimbing, Noor Adi Wibowo ST M Eng, menjelaskan pembelajaran dengan metode site visiting menjadi pelengkap pembelajaran teoritis yang sudah dilakukan di bangku kuliah.

Dari studi lapangan ini diharapkan mahasiswa memperoleh pemahaman bagaimana para insinyur sipil masa lalu menerapkan manajemen sumber daya konstruksi, yaitu money, man, material, machine, method (5M).

“Dengan menjelajahi kawasan ini, mahasiswa diajak masuk ke lorong waktu, melihat bagaimana pembangunan infrastruktur masa lampau benar-benar memperhitungkan semua elemen sumber daya. Hal ini terbukti dengan keberadaan bangunan yang mampu bertahan dan masih dapat dijelajahi hingga sekarang,” kata Noor Adi.

Mahasiswa UMNU peserta studi lapangan di Kota Tua Prembun. (istimewa)

Mahasiswa dipandu pegiat heritage dari Komunitas Pusaka Prembun (KUPU) antara lain Aditya, Petrus Kurniawan dan Lyna Rahayu. Mereka diajak melihat berbagai bentuk bangunan seperti kompleks kawedanan, kawasan loji dan Stasiun Prembun.

Di tempat-tempat itu selain diperoleh informasi mengenai sejarah pembangunan, mahasiswa juga diberi kesempatan mengamati detail bangunan, baik dari aspek konstruksi, fungsi maupun elemen estetikanya.

Selain mendalami aspek fisik, mereka diajak melacak jejak sejarah Pabrik Gula Prembun lewat berbagai mural ilustratif yang ada di Gang Pabrik.

“Perkembangan kota tua Prembun beserta berbagai bangunan yang ada hingga sekarang tidak dapat dilepaskan dari keberadaan Suiker Fabriken Remboen atau Pabrik Gula Prembun. Karena itulah kami mengajak peserta untuk menyusuri sejarah pabrik gula yang ditampilkan di tembok sepanjang Gang Pabrik,” kata Aditya.

Ketahanan konstruksi

Salah seorang peserta, Syahrotun Nafiah, mengungkapkan kegiatan pembelajaran kali ini memberikan refleksi, pembangunan modern seharusnya tidak hanya berorientasi pada kecepatan dan efisiensi semata, namun juga pada umur layanan dan ketahanan konstruksi untuk generasi yang akan datang.

“Memandang bahkan meraba dari dekat bangunan dari masa lalu menyadarkan saya bahwa pemahaman atas kualitas material, ketelitian perencanaan dan penerapan standar konstruksi di masa lalu sudah sangat maju,” ujar Syahrotun.

Sutfiah Wulandari, mahasiswa lainnya mendapat kesan yang mendalam dari aktivitas jelajah sejarah itu sendiri.

"Mengulik kembali masa kejayaan Pabrik Gula Prembun bersama komunitas KUPU membuat saya mampu berimajinasi masa kolonial di Kebumen, era yang dialami mbah buyut saya,” katanya.

Irigasi dan waduk

Noor Adi menambahkan selain bangunan gedung dan air, ke depan site visit juga akan dilaksanakan di ragam bangunan sipil lainnya, misalnya infrastruktur irigasi, bendungan dan waduk.

“Kebumen memiliki beberapa bangunan air yang sangat ideal untuk dipelajari seperti Bendung Bedegolan, Kaligending, Waduk Sempor dan Waduk Wadaslintang. Ke depan studi lapangan juga akan mengarah ke obyek-obyek tersebut,” ujar dosen penggemar travelling ini. (*)