"Nyawer" Musisi Jalanan di Malioboro Kini Bisa Non-Tunai

Malioboro bukan sekadar koridor wisata, melainkan ruang hidup yang penting bagi seniman lokal.

"Nyawer" Musisi Jalanan di Malioboro Kini Bisa Non-Tunai
Pengunjung nyawer musisi jalanan Malioboro menggunakan metode non tunai yang terhubung di Gopay Merchant. (istimewa)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Dinas Kebudayaan bersama GoPay berkolaborasi mendigitalisasi musisi jalanan di kawasan Malioboro khususnya lewat UPT Pengelolaan Kawasan Cagar Budaya Kota Yogyakarta.

Langkah ini menjadi bagian dari upaya mendukung Malioboro sebagai sumbu filosofi Yogyakarta yang telah ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia, sekaligus memastikan para pelaku seni di ruang publik tidak tertinggal dalam arus transformasi digital.

Melalui kolaborasi ini, masyarakat, pengunjung dan wisatawan dapat nyawer para musisi secara non-tunai menggunakan QRIS yang terhubung dengan aplikasi GoPay Merchant. Skema ini memungkinkan musisi menerima pembayaran digital dengan mudah, mencairkan dana kapan saja, serta melakukan penarikan ke bank manapun tanpa potongan biaya.

Head of GoPay Merchants, Haryanto Tanjo, mengatakan inisiatif ini sejalan dengan misi GoPay untuk memperluas akses layanan keuangan yang inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat.

Ekosistem digital

“Misi kami di GoPay adalah membuka akses layanan keuangan seluas-luasnya, termasuk bagi pekerja harian dan UMKM. Kami bangga dapat mendukung Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta dalam mewujudkan ekosistem digital terintegrasi, termasuk melalui implementasi QRIS dan transaksi non-tunai, dengan teknologi GoPay Merchant yang kami hadirkan,” ujar Haryanto, Kamis (15/1/2026).

Lebih dari sekadar modernisasi metode pembayaran, digitalisasi ini juga diarahkan untuk memperkuat posisi musisi jalanan sebagai bagian penting dari ekosistem budaya dan ekonomi kreatif Yogyakarta. Dengan sistem yang lebih tertata, musisi tidak hanya memperoleh kemudahan transaksi, tetapi juga peluang untuk mengelola keuangan secara mandiri, transparan dan berkelanjutan.

Kepala Dinas Kebudayaan Pemerintah Kota Yogyakarta, Yetti Martanti, menyatakan Malioboro bukan sekadar koridor wisata, melainkan ruang hidup yang penting bagi seniman lokal.

“Malioboro bukan hanya ikon wisata, tetapi juga ruang hidup bagi para seniman lokal, termasuk musisi jalanan. Lewat digitalisasi ini kami ingin menghadirkan akses teknologi finansial yang inklusif hingga ke sektor budaya dan industri kreatif. Kami berharap langkah ini membuka peluang lebih besar bagi para musisi untuk meningkatkan penerimaan apresiasi, seiring pola masyarakat yang semakin terbiasa bertransaksi non-tunai,” jelas Yetti.

Transaksi digital

Transformasi ini berlangsung di tengah pesatnya pertumbuhan transaksi digital di Daerah Istimewa Yogyakarta. Data Kantor Perwakilan Bank Indonesia DIY mencatat hingga September 2025, nilai transaksi berbasis QRIS di wilayah DIY mencapai Rp 41,09 triliun, tumbuh 237,19 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Dari sisi volume, transaksi QRIS mencapai 486 juta kali, meningkat 274,01 persen secara tahunan (YoY). Jumlah pengguna QRIS tercatat sebanyak 980.591 orang, dengan 987.737 merchant aktif.

Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Yogyakarta semakin akrab dengan transaksi non-tunai, sekaligus membuka peluang besar bagi sektor-sektor yang sebelumnya berbasis tunai, termasuk seni pertunjukan jalanan, untuk beradaptasi.

Dengan masuknya musisi jalanan ke dalam ekosistem pembayaran digital, Malioboro diharapkan tidak hanya menjadi etalase budaya yang lestari, tetapi juga ruang yang adaptif, inklusif, dan berkelanjutan, tempat tradisi, kreativitas dan teknologi bertemu tanpa saling meniadakan. (*)