Mahasiswa Tak Lagi Hanya Belajar di Kelas, Rp 30 Miliar Digelontorkan

Sebanyak 957 proposal diajukan, hanya 263 proposal yang lolos seleksi.

Mahasiswa Tak Lagi Hanya Belajar di Kelas, Rp 30 Miliar Digelontorkan
Seminar Hasil Program Mahasiswa Berdampak di Kampus IV UAD, Sabtu (6/6/2026). (yvesta putu ayu palupi/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Perguruan tinggi didorong tidak hanya menjadi pusat pendidikan dan penelitian tetapi juga menjadi sumber solusi bagi berbagai persoalan masyarakat. Melalui Program Mahasiswa Berdampak 2025, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek) menggelontorkan pendanaan mencapai Rp 30,1 miliar untuk mendukung ratusan inovasi mahasiswa yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat.

Komitmen tersebut mengemuka dalam Seminar Hasil Program Mahasiswa Berdampak yang digelar Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kemendiktisaintek di Amphitarium Kampus IV Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Sabtu (6/6/2026).

Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemendiktisaintek, Fauzan Adziman, menjelaskan mahasiswa tidak lagi hanya belajar di ruang kelas tetapi juga harus menjadi aktor utama perubahan sosial melalui berbagai inovasi yang mereka kembangkan.

Menurutnya, pendidikan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan dengan kemampuan akademik yang baik, tetapi juga harus membentuk generasi yang peka terhadap persoalan di sekitarnya. "Mahasiswa harus dilatih kepekaan untuk mendengarkan persoalan masyarakat, mengidentifikasi masalah, lalu menghadirkan solusi yang mampu mentransformasi kehidupan sosial berbasis empati," ujarnya.

Luar biasa

Fauzan mengungkapkan, Program Mahasiswa Berdampak tahun 2025 memperoleh respons luar biasa dari perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Sebanyak 957 proposal diajukan, namun hanya 263 proposal yang lolos seleksi dan memperoleh pendanaan.

Program tersebut melibatkan 199 perguruan tinggi dari berbagai daerah, dengan dominasi kampus swasta yang mencapai sekitar 80 persen peserta. Tak hanya mengejar capaian akademik, program ini dirancang untuk menghasilkan dampak sosial dan ekonomi yang terukur di tengah masyarakat. 

Melalui berbagai proyek yang dijalankan mahasiswa, pemerintah berharap muncul solusi-solusi baru terhadap persoalan lokal yang selama ini belum terselesaikan.

Direktur DPPM Kemendiktisaintek, I Ketut Adnyana, mengatakan Program Mahasiswa Berdampak lahir atas arahan langsung Menteri Diktisaintek pada 2025.

Anggaran terbatas

Menariknya, program tersebut disusun dalam waktu kurang dari dua minggu di tengah keterbatasan dan ketidakpastian anggaran. Meski demikian, program mampu berjalan dan mendapat sambutan luas dari perguruan tinggi.

"Mahasiswa adalah energi, idealisme, tenaga dan sumber ide-ide brilian. Karena itu kami berupaya memberikan ruang agar mereka dapat berkontribusi langsung kepada masyarakat," katanya.

Ketut menjelaskan, semangat Diktisaintek Berdampak diwujudkan melalui tiga sasaran utama yakni dampak akademik, dampak sosial dan dampak ekonomi. Dengan demikian, keberadaan mahasiswa di lapangan tidak hanya menghasilkan laporan atau publikasi, tetapi juga perubahan nyata yang dapat dirasakan masyarakat.

Keberhasilan program pada tahun pertama membuat Kemendiktisaintek memutuskan untuk melanjutkannya pada 2026 dengan dukungan anggaran sebesar Rp 14 miliar.

UAD tuan rumah

Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Ahmad Dahlan, Sunardi, menyampaikan kebanggaannya karena UAD dipercaya menjadi tuan rumah kegiatan nasional tersebut.

Seminar diikuti 60 tim mahasiswa dan dosen terpilih dari berbagai penjuru Indonesia, mulai dari Aceh hingga Fakfak, Papua. ”Dari ratusan proposal yang bersaing secara nasional, dua tim berasal dari UAD,” jelasnya.

Menurut Sunardi, semangat pengabdian masyarakat telah menjadi bagian dari budaya akademik kampus. Pada tahun lalu, sebanyak 530 dari 550 dosen yang memenuhi syarat berhasil mengajukan proposal penelitian dan pengabdian.

Capaian itu turut mengantarkan UAD meraih predikat perguruan tinggi swasta terbaik nasional dalam pendanaan penelitian dan pengabdian selama tiga tahun berturut-turut. "Apa yang dilakukan hari ini bukanlah titik akhir, melainkan titik awal untuk terus menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat," kata Ketut. (*)