Magnificat Jiwa, Simfoni Kasih untuk Bunda Maria dari Perjalanan Iman Grego Julius
Aransemen dari Pak Grego sangat menarik, tetap terasa ringan dan menyenangkan didengar.
KORANBERNAS.ID, KLATEN -- Perjalanan spiritual seseorang bisa berbentuk apa saja. Bagi Grego Julius, seorang komposer sekaligus penulis dan pencipta lagu, perjalanan iman itu berupa Album Lagu Rohani Bunda Maria Volume 10, berisi 12 lagu baru karyanya.
Lagu-lagu itu pun diperdengarkan di hadapan sekitar 2.400 jemaat di Grha Bung Karno di Jalan Jombor Indah Klaten Tengah, dalam sebuah perayaan iman bertajuk Magnificat Jiwa: Simfoni Kasih Bagi Bunda Maria, Rabu (6/5/2026) malam.
Bukan sekadar konser musik Rohani, bagi Grego ini adalah kolaborasinya bersama sejumlah musisi seperti Elisha, sinden muda serta eks vokalis Jikustik, Brian Prasetyoadi.
"Konser Ini bukan hanya menampilkan kumpulan lagu tentang Bunda Maria yang saya tulis di Bulan Suci Maria ini, tapi lagu-lagu ini saya persembahkan sebagai sarana doa, sarana untuk bersyukur, dan untuk berterima kasih kepada Bunda Maria," katanya.
Bertahun-tahun
Perjumpaan antara doa dan nada, devosi dan seni, serta tradisi Gereja, menurut Grego, jadi cara dia memuliakan Bunda Maria melalui musik.
Album ini lahir, menurutnya, dari perjalanan iman panjang yang dijalani selama bertahun-tahun. Grego mengaku membutuhkan waktu sekitar satu tahun untuk menyelesaikan seluruh lagu. Proses kreatifnya tidak sekadar menulis lirik atau menyusun melodi, tetapi lahir dari pengalaman hidup yang sangat personal.
Dia mengenang bagaimana dahulu sosok ibunya menjadi tempatnya bercerita ketika menghadapi berbagai persoalan hidup. Namun setelah sang ibu meninggal dunia, Grego merasakan kehilangan yang sangat mendalam.
"Waktu ibu saya masih hidup, kalau saya berkeluh kesah selalu cerita kepada beliau. Ketika ibu meninggal, saya merasa kehilangan sosok ibu. Lalu saya mencoba mendekat kepada Bunda Maria," ungkapnya.
Sumber inspirasi
Dalam keheningan doa dan refleksi itulah, Grego menemukan kedamaian yang kemudian menjadi sumber inspirasi lagu-lagunya. "Ketika bersama Bunda Maria, hati saya terasa lebih lega. Seolah-olah masih ada sosok ibu yang mendengarkan," katanya.
Karena itulah setiap lagu yang dia tulis tidak lahir secara instan tetapi menunggu momen batin yang kuat sebelum menuangkannya menjadi karya musik.
"Lagu itu tidak bisa dipaksakan. Harus ada pengalaman di hati, entah itu saat saya sedih, kecewa atau gembira. Dari situ kemudian muncul melodi dan liriknya," ungkapnya.
Konser Magnificat Jiwa dipersiapkan selama sekitar tiga bulan. Grego menggandeng sejumlah musisi dan penyanyi untuk membawakan karya-karyanya bersama Grego Julius Orchestra.
Kedalaman doa
Dia berharap lagu-lagu tersebut dapat membantu umat merasakan kedalaman doa melalui musik. Sebab setiap lagu dirancang menjadi pengantar doa bagi mereka yang memanjatkan doa kepada Yesus Kristus melalui perantaraan Bunda Maria.
"Semoga lagu-lagu ini bisa menginspirasi orang untuk berdoa, sehingga bisa menyentuh hati mereka masing-masing," ujarnya.
Sementara itu Elisha mengaku langsung tertarik ketika pertama kali mendengar lagu yang dibawakan. Dia memilih menyanyikan dua lagu dalam konser kali ini.
"Saya sebenarnya seorang sindhen, tapi ketika mendapat kesempatan menyanyikan lagu ini saya langsung tertarik. Lagu-lagunya berbicara tentang damainya kasih Bunda Maria yang tidak bertepi," katanya.
Ringan didengar
Dia menyebutkan konser tersebut penuh kejutan aransemen musik. Sebab ada warna musik yang berbeda. "Aransemen dari Pak Grego sangat menarik, tetap terasa ringan dan menyenangkan didengar," tambahnya.
Dukungan terhadap konser ini juga datang dari gereja setempat. Pastor Paroki Maria Assumpta Klaten, Romo Yoseph Kristanto, menyebutkan konser itu sebagai bentuk devosi yang kreatif kepada Bunda Maria.
Menurutnya, momentum konser yang digelar pada awal Mei sangat tepat karena bulan tersebut merupakan masa penghormatan kepada Bunda Maria dalam tradisi Gereja Katolik.
"Bulan Mei adalah bulan untuk menghormati Bunda Maria. Karena itu konser ini kami tempatkan di awal bulan," ungkapnya.
Berdoa bersama
Dia menambahkan konser ini juga dipadukan dengan doa rosario. Sehingga umat tidak hanya mendengarkan musik, tetapi juga berdoa bersama. "Jadi musik dan doa menjadi satu kesatuan," jelasnya.
Romo Yoseph terkesan dengan dedikasi Grego Julius yang masih terus berkarya di usia yang tidak lagi muda. Konser tersebut bukan hanya sebuah pertunjukan seni, melainkan bentuk devosi yang hidup kepada Bunda Maria. "Gereja selalu terbuka pada berbagai bentuk ungkapan iman, termasuk melalui karya musik ini," kata dia. (*)
Yvesta Putu Ayu Palupi
