Selasa, 09 Mar 2021,

klijo-tersenyum-diperbolehkan-pulangKeceriaan Klijo dan istrinya, Selasa (26/01/2021) siang, ketika dapat kembali beraktivitas setelah hampir tiga bulan mengungsi. (rosihan anwar/koranbernas.id)


Rosihan Anwar
Klijo Tersenyum Diperbolehkan Pulang

SHARE

KORANBERNAS.ID, SLEMAN -- Raut wajah Klijo tampak sumringah ketika dirinya kembali diperbolehkan pulang ke rumah dan beraktivitas seperti biasanya. Warga Dusun Kalitengah Lor Kalurahan Glagaharjo, itu kembali ke kediaman, Selasa (26/01/2021) siang, bersama dengan 187 warga lainnya.

“Lega, saya lega, lega dalam arti pemerintah telah melindungi masyarakat,” katanya ketika diwawancarai koranbernas.id.


Setelah hampir tiga bulan mengungsi, Klijo merasa bahagia dapat kembali menjalani hidup normal. Meski belum diperbolehkan melakukan penambangan pasir, bapak dua orang anak itu menekuni cocok tanam dan beternak sapi perah pasca kembali dari barak pengungsian Glagaharjo Kabupaten Sleman.

“Ketidaknyamanan kapan kita kembali normal lagi, yang dipikirkan jangka panjang untuk ekonomi yang akan datang. Nanti kalau nggak segera pulih kembali, kita was-was untuk kondisi ekonomi,” ungkapnya.


Ketika koranbernas.id menyambangi kediaman pria yang telah menginjak usia 50 tahun lebih itu, Klijo mengaku kondisi di barak pengungsian sangat terjamin dan diperhatikan oleh pemerintah daerah. Namun, ia terus memikirkan kondisi ekonomi keluarga akibat terlalu lama mengungsi.

“Di sana itu saya malah sempat ditanya, ‘Bapak-ibu kesukaannya makanan apa?’ Kami jawab ini dan ini juga dituruti, tetapi kan kita tetap nggak bisa apa-apa kalau di (barak) pengungsian,” ungkapnya.

Pulang Bersyarat

Sri Rahayu, warga RT 20/RW 03 Dusun Kalitengah Lor juga mengaku bahagia dapat kembali ke rumah. Berbeda dengan halnya kaum pria, untuk anak-anak, lansia maupun wanita memang diminta untuk lebih sering tinggal di barak pengungsian Desa Glagaharjo.

“Kalau bapak-bapak boleh siang pulang dan malam di pengungsian. Tapi kalau ibu-ibu dan anak-anak diminta di pengungsian saja,” ujar Sri Rahayu.

Dirinya pun tampak sibuk membersihkan rumah yang telah lama ditinggalkan. Diperbolehkannya warga pulang ke rumah juga menggerakan kembali roda perekonomian masyarakat Lereng Merapi.

“Kalau di pengungsian terus tidak bisa apa-apa, padahal ada anak yang harus kami pikirkan. Nanti bagaimana kalau mereka kuliah, kami harus cari uangnya,” tutur Sri Rahayu.

Kepulangan warga bersama ternak yang mereka miliki membuat suasana Kalitengah yang sebelumnya sunyi kembali hidup. Warga mulai bercocok tanam atau mengurus ternak dalam mengisi keseharian mereka.

Suroto Kepala Kalurahan Glagaharjo berpesan kepada masyarakatnya untuk tetap mewaspadai kondisi Merapi dan mematuhi aturan yang dibuat pemerintah, termasuk dilarang melakukan aktivitas apapun di radius bahaya.

“Saya sudah pesan kepulangan ini merupakan kepulangan bersyarat. Bersyarat artinya apa, status Merapi masih siaga. Jadi masyarakat tetap harus waspada dan zona tiga kilometer (dari Merapi) benar-benar tidak boleh ada aktivitas,” ungkapnya.

Sebanyak 187 warga Dusun Kalitengah Lor akhirnya diperbolehkan pulang setelah hampir tiga bulan menghuni barak pengungsian Kalurahan Glagaharjo. Kebijakan ini diambil seiring dengan menurunnya aktivitas vulkanik maupun seismik di Gunung Merapi.

“Saya pesan begitu karena warga Kalitengah Lor aktivitasnya banyak yang ke ternak, dan otomatis mereka mencari rumput di mana yang ada. Ini memang kita sampaikan agar jangan ada masyarakat yang nanti kejebak di lokasi yang memang dilarang oleh pemerintah,” tandas Suroto.

Namun demikian, barak pengungsian dan posko yang telah didirikan masih tetap beroperasi dan selanjutnya dapat digunakan setiap saat apabila terjadi peningkatan signifikan dari aktivitas Merapi dan status tanggap darurat yang diberlakukan. (*)



SHARE
'

BERITA TERKAIT

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini