Ketua DPRD Kebumen Berharap Evaluasi Total Program MBG

Kualitas bahan baku menurun karena distribusi dan penyimpanan yang lama.

Ketua DPRD Kebumen Berharap Evaluasi Total Program MBG
Siswa SDN 1 Jatisari Kebumen tampak ceria membawa makanan dari SPPG. (nanang w Hartono/koranbernas.id)  

KORANBERNAS.ID, KEBUMEN -- Ketua DPRD Kebumen H Saman berpendapat saat ini perlu dilaksanakan evaluasi secara menyeluruh terhadap Satuan Pelaksana Pemenuhan Gizi (SPPG) selaku pelaksana program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kebumen.

"Saya mendapatkan informasi di Kebumen ada 53 SPPG tapi baru 3 SPPG yang memiliki sertifikat pelaksana MBG," kata H Saman, Jumat (26/9/2025), di Gedung dewan.

Menurut dia, kejadian keracunan makanan di Petanahan bisa disebabkan beberapa hal. Kualitas bahan baku menurun karena distribusi dan penyimpanan yang lama atau jeda waktu masak dengan saat makanan disantap penerima manfaat terlampau lama.

"Perlu evaluasi total pelaksanaan program MBG di Kebumen," kata Saman berharap. Dia mengaku belum mengetahui apakah di Kebumen ada kantor perwakilan atau staf Badan Gizi Nasional atau tidak.

Melayani 3.300 orang

Bersama Forkopimda Kebumen, Kamis (25/9/2025), Saman melakukan pengawasan di tempat perawatan para pelajar yang keracunan. Dia memperoleh informasi, SPPG yang melayani korban juga melayani 3.300 orang penerima manfaat.

Tidak diperoleh informasi jumlah sumber daya manusia dan kualifikasi keahlian maupun keterampilan sumber daya di SPPG itu.

Direktur RSU PKU Muhammadiyah Petanahan dr Andika Purwita Aji MMR kepada koranbernas.id, Jumat (26/9/2025), menjelaskan di rumah sakit yang dipimpinnya ada 35 orang korban yang diduga keracunan. Sebanyak 8 orang dirawat inap, lainnya 27 orang dibolehkan pulang setelah diobservasi di IGD.

Terpisah, Kepala Puskesmas Petanahan dr Sunarko Slamet menjelaskan ada 29 orang penerima manfaat MBG dirawat di Puskesmas Petanahan. "Hingga siang ini ada 27 orang dirawat inap, dengan keluhan pusing, mual dan gangguan pencernaan. Sekarang sudah membaik, bisa dipulangkan hari ini," kata Sunarko Slamet.

Kirim ke laboratorium

Sunarko menambahkan, sampel makanan MBG yang diproduksi 24 September berupa nasi, pecel, telur, tempe dan potongan buah melon. Sampel makanan yang diproduksi 25 September 2025 berupa nasi soto, ayam, perkedel, sambal dan jeruk.

Sampel makanan di lokasi makanan yang dikonsumsi telah dikirim ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat Yogyakarta. Pengiriman sampel makanan untuk mengetahui bakteriologi yang terkandung di dalamnya. "Sampel dikirim laboratorium kesehatan Kebumen," kata Sunarko Slamet. (*)