Kemarau Diprediksi Panjang, Ribuan Hektare Sawah di Klaten Terancam Kekeringan

Kemarau Diprediksi Panjang, Ribuan Hektare Sawah di Klaten Terancam Kekeringan
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Klaten Iwan Kurniawan menjelaskan potensi kekeringan yang mengancam 4.450 hektare lahan pertanian di 20 kecamatan saat puncak musim kemarau di Kabupaten Klaten, Selasa (14/7/2026). (masal gurusinga/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, KLATEN – Sebanyak 4.450 hektare lahan pertanian di 20 kecamatan di Kabupaten Klaten dipetakan berpotensi mengalami kekurangan air selama puncak musim kemarau pada Juli–Agustus 2026. Kondisi tersebut mengacu pada prakiraan cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

"Nanti diprediksi kemaraunya akan lebih panjang sampai awal 2027. Wilayah-wilayah inilah yang berpotensi terjadinya kekurangan air. Tapi sampai sekarang belum ada laporan," kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Klaten Iwan Kurniawan.

Pernyataan tersebut disampaikan saat ditemui di Gedung Sunan Pandanaran (RSPD) Klaten, Selasa (14/7/2026).

Iwan menjelaskan, potensi kekurangan air tersebar di Kecamatan Pedan (200 hektare), Wonosari (371 hektare), Karangnongko (108 hektare), Karangdowo (794 hektare), Bayat (197 hektare), Trucuk (333 hektare), Cawas (469 hektare), Jogonalan (240 hektare), Wedi (252 hektare), Ngawen (88 hektare), Prambanan (95 hektare), Ceper (153 hektare), Manisrenggo (20 hektare), Tulung (125 hektare), Juwiring (380 hektare), Kalikotes (211 hektare), Karanganom (75 hektare), Klaten Utara (53 hektare), Klaten Tengah (41 hektare), dan Gantiwarno (295 hektare).

Untuk mengantisipasi dampak kekeringan, Pemerintah Kabupaten Klaten melakukan rehabilitasi jaringan irigasi serta mengusulkan bantuan kepada pemerintah pusat. Selain itu, pemerintah daerah juga menyalurkan bantuan pompanisasi guna mendukung percepatan masa tanam.

Iwan mengatakan sebagian petani di Kecamatan Trucuk mulai memanfaatkan air sumur untuk mengairi lahan. Namun, kondisi tersebut dinilai masih sesuai dengan pola tanam Musim Tanam (MT) III yang umumnya diperuntukkan bagi tanaman palawija.

Menurutnya, sejumlah petani di Trucuk telah beralih menanam jagung dan tembakau, sedangkan di wilayah lain masih terdapat petani yang menanam padi karena ketersediaan air masih mencukupi. Kondisi itu menunjukkan tidak seluruh wilayah di Kabupaten Klaten mengalami ancaman kekeringan dengan tingkat yang sama. (*)