Kalurahan Sidomulyo Belajar Pemberdayaan Masyarakat dari Masjid Jogokariyan
Kita harus betul-betul menyisihkan waktu untuk menangani program pemberdayaan di masjid. Tidak bisa hanya sambil lalu.
KORANBERNAS.ID, BANTUL -- Pemerintah Kalurahan Sidomulyo bersama LPMKal Sidomulyo menggelar kegiatan implementasi pemberdayaan masyarakat berbasis manajemen masjid bersama Ketua Dewan Syura Masjid Jogokariyan Yogyakarta, Ustad Muhammad Jazir ASP, Rabu (10/9/2025) sore.
Acara yang berlangsung di gedung pertemuan Kalurahan Sidomulyo Kapanewon Bambanglipuro Kabupaten Bantul tersebut dihadiri anggota DPRD Bantul, Ani Widayani MIP, Paidi SIP dan Herry Fahamsyah MIP MM, Panewu Bambanglipuro Tri Manora S Sos, bagian Pemdes Pemkab Bantul, Lurah Susanta dan Ketua LPMKal Sidomulyo, Zahrowi.
Adapun peserta kegiatan dari anggota LPMKal, para takmir masjid dan kaum rois se-Sidomulyo. "Pengelolaan infak itu harus dilaporkan secara transparan dan terperinci," kata Ustadz Jazir menyampaikan materinya.
Mencontohkan tata kelola infak di masjid tersebut, Jazir menjelaskan sebagian infak selain untuk memenuhi operasional Masjid Jogokariyan juga digunakan untuk kegiatan pemberdayaan berbasis komunitas.
Berkeliling
"Kami bersama BI dan OJK berkeliling mengadakan pelatihan terkait hal tersebut. Selain itu, berbagai instansi juga datang ke Masjid Jogokariyan," katanya. Misalnya Baznas, pemda, perbankan bahkan komunitas gereja.
Dia mencontohkan, gereja di Pugeran Yogyakarta meniru kegiatan pasar rakyat yang ada di Masjid Jogokariyan. Saat ada sembahyang pada hari Ahad, warga sekitar gereja diizinkan berjualan. Jemaat gereja diberi voucher untuk berbelanja.
Dia menambahkan pihaknya juga mengelola masjid sebagai jejaring dan destinasi wisata.
Artinya banyak potensi bisa dikembangkan oleh takmir masjid terkait pemberdayaan. "Kudu wani nggetih, artinya butuh keseriusan dalam mengelola. Kita harus betul-betul menyisihkan waktu kita untuk menangani program pemberdayaan di masjid. Tidak bisa hanya sambil lalu. Kita libatkan juga pemuda dan warga sekitar masjid dalam kegiatan yang kami lakukan. Harus greteh," katanya.
Tempat penginapan
Masjid Jogokariyan bukan hanya digunakan tempat ibadah melainkan sebagai tempat kesenian, sosial, wisata religi hingga penggerak ekonomi yang buka selama 24 jam.
Menariknya, masjid ini menyediakan tempat penginapan dan berbagai fasilitas lengkap yang bisa digunakan oleh umat muslim. Di Masjid yang selalu full jamaah tersebut banyak ditemui pedagang makanan, minuman dan suvenir di sekitarnya. Bus-bus wisata juga banyak yang singgah.
Saat bulan puasa, masjid yang lokasinya tidak jauh dari Pondok Pesantren Krapyak itu menyediakan menu buka menggunakan piring sedikitnya 4.500 porsi dan selalu habis. Para pedagang takjil juga banyak berjualan dan selalu dijubeli pengunjung.
"Ini pertama kalinya LPMKal di Kabupaten Bantul menggelar acara dengan menghadirkan Ustadz Jazir dari Jogokaryan," kata Zahrowi.
Wawasan
Diharapkan dengan pelatihan ini akan meningkatkan wawasan bagi peserta terkait dengan pemberdayaan dengan melihat potensi yang ada di sekitar masing-masing. Tentunya juga pemberdayaan oleh masjid.
Kamituwo Sidomulyo, Suhirto, mengatakan pemberdayaan seperti ini memang dilakukan dalam rangka peningkatan kapasitas peserta mengelola lembaganya.
"Banyak kegiatan pemberdayaan yang kami lakukan. Kita juga melaksanakan pemberdayaan bagi PAUD dan TK, menggulirkan beasiswa berprestasi dan program lainnya yang bersumber dari APBKal," kata Suhirto. (*)
Sariyati Wijaya
