Sabtu, 27 Feb 2021,

ini-langkah-pertama-diy-jika-corona-berlaluKetua Komisi B DPRD DIY, Danang Wahyu Broto. (istimewa)


--
Ini Langkah Pertama DIY Jika Corona Berlalu

SHARE

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA – Ketua Komisi B DPRD DIY, Danang Wahyu Broto, mengakui pandemi Corona ibarat badai yang menghancurkan sektor pariwisata di provinsi ini.

Seiring berjalannya program vaksinasi dia optimistis badai bisa berlalu. Dengan dukungan bandara internasional, Yogyakarta International Airport (YIA) Kulonprogo, langkah pertama DIY adalah segera recovery dan memodernisasi sektor pariwisata.


“Pertanyaannya setelah Covid berlalu bagaimana kesiapan pemerintah dan swasta. Pasti turis dari Jepang, China, Eropa dan Amerika landing langsung di YIA. Ini saat yang  tepat untuk menyiapkan program. Bagaimana menangkap peluang itu ke depan,” ungkapnya, Rabu (27/1/2021), di DPRD DIY.

Dia mencontohkan modernisasi wisata yang dilakukan negara kecil Singapura. “Misalnya kita datang ke Singapura, kegiatan tahun depan sudah ada,” jelasnya.


Sedangkan modernisasi wisata Yogyakarta terkesan masih bolong-bolong. Contoh, turis disuguh kacang dan  gedhang godhog sekali dua kali mereka gumun dan senang. Namun kebiasaan makan mereka bukan seperti itu.

Begitu pula sensasi penginapan rumah kayu. Wisatawan merasakan senang hanya , atu dua hari saja. Inilah pentingnya modernisasi wisata dengan visi yang jelas.

Danang mengaku sedikit kecewa mengingat kesiapan itu belum terlihat. Padahal inovasi sektor pariwisata hampir pasti akan menguatkan UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah).

“Dinas Pariwisata belum ada program berskala makro. Bagaimana Yogyakarta, kata menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno, menjadi lima besar tujuan wisata. Bagaimana bisa terealisasi? Lima besar itu turis yang datang pasti di atas 10 juta orang,” ungkapnya.

Menurut Danang, komisi yang salah satunya membidangi sektor pariwisata ini menilai masih banyak persoalan yang menghambat. Perizinan banyak yang tidak jelas karena terkendala birokrasi.

Contoh, ada rumah makan atau destinasi wisata pengunjungnya membeludak ternyata belum mengantongi perizinan.

Mestinya para pelaku usaha itu memperoleh kemudahan mengurus izin. Bukan sebaliknya. Sulit. “Kami berharap ada kemudahan. Dewan bisa ikut terlibat, nek perlu perizinan kita tunggui,” kata dia.

Memang, harus ada kesamaan pandangan antara pemerintah, swasta termasuk para pelaku wisata tergabung di dalam ASITA maupun PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia). Setelah pandemi selesai langsung recovery, reborn dan melejit. (*)



SHARE
'

BERITA TERKAIT

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini