"Ini Cara Kami Merawat Gamelan..."

Yogyakarta Festival Gamelan digelar tujuh hari penuh di Taman Budaya Embung Giwangan Yogyakarta.

"Ini Cara Kami Merawat Gamelan..."
Konferensi pers Yogyakarta Gamelan Festival. (muhammad zukhronnee muslim/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Di tengah derasnya gempuran budaya populer digital, Yogyakarta Gamelan Festival (YGF) justru semakin mengakar dan mekar. Tahun ini, festival yang telah berlangsung selama tiga dekade itu kembali digelar untuk edisi ke-30 dengan tema Festival Musik, Seni dan Anak Muda, dengan Spirit Gamelan.

Digelar tujuh hari penuh mulai 21 hingga 27 Juli 2025 di Taman Budaya Embung Giwangan Yogyakarta, YGF menjadi lebih dari sekadar festival gamelan. Event itu menjelma ruang terbuka yang merayakan keberagaman -- dari musik tradisi hingga inovasi seni lintas medium, dari pasar rakyat hingga video mapping.

“Sebagai festival, YGF bukan hanya soal konser. Kami hadirkan ruang diskusi, pasar, pameran, hingga panggung inklusif untuk siapa pun yang ingin berkontribusi. Ini cara kami merawat gamelan sebagai budaya yang hidup dan dinamis,” ungkap Ishari Sahida atau yang akrab disapa Ari Wulu, Direktur Festival sekaligus penggagas YGF sejak 1995.

Ari Wulu melihat gamelan hari ini tak bisa berdiri sendiri sebagai artefak budaya melainkan perlu menjadi bagian dari sistem sosial dan kreatif yang relevan dengan zaman.

Sangat digemari

“Selama 10 tahun terakhir, seni menjadi sangat digemari anak muda. Mungkin ini efek algoritma media sosial, tapi kami menangkap sinyal itu. Gamelan harus hadir dalam ruang mereka,” jelasnya.

Untuk itu, YGF ke-30 memperkuat program yang melibatkan generasi muda seperti Simak Siar dan Lokakarya Gamelan Tanpa Tembok, di mana publik yang belum pernah memainkan gamelan diajak belajar dan tampil di panggung. Kolaborasi juga dibuka melalui Panggung Slenthem, Panggung Cokekan, dan sesi open submission.

Festival dibuka dengan Gaung Gamelan (21 Juli), pertunjukan kolosal dari 16 kelompok karawitan desa budaya yang memainkan tiga gendhing gaya Yogyakarta secara bersamaan -- tanpa pengeras suara, menghadirkan simfoni gamelan yang alami dan megah. Program ini menjadi penanda spirit kolektif dan kebersamaan yang menjadi dasar gamelan itu sendiri.

Tak kalah menarik, Sorot Sumirat (23-25 Juli) menghadirkan eksperimen baru: karya maestro gamelan disandingkan dengan video mapping oleh seniman muda dari jaringan Gayam 16, menciptakan pengalaman multisensori yang imajinatif.

Pengakuan strategis

Sementara Konser Maestro (23 Juli) menjadi panggung penghormatan bagi tiga tokoh besar Sapto Raharjo, Harry Roesli, dan Djaduk Ferianto. “Mereka bukan hanya maestro gamelan, tapi juga pemikir budaya yang memaknai gamelan sebagai ruang kebebasan,” kata Ari.

Konsistensi YGF selama 30 tahun akhirnya membuahkan pengakuan strategis: festival ini kini didukung oleh Dana Indonesiana dari Kementerian Kebudayaan sebagai bagian dari program prioritas nasional.

“Tidak mudah bertahan tiga dekade dalam ekosistem budaya yang serba dinamis. Tapi YGF membuktikan bahwa semangat komunitas bisa melampaui tantangan. Ini bukan hanya soal pelestarian, tapi inovasi,” jelas Ernawati Purwaningsih dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah 10, UPT Kementerian Kebudayaan.

Dukungan ini juga memperkuat program-program baru YGF seperti pameran instalasi gamelan eksperimental karya Jompet Kuswidananto dan kolaborasi teknologi dengan Departemen Teknik Elektro UGM. Sebuah pertemuan antara seni tradisi dan rekayasa masa depan.

Era modern

Selama sepekan, area Taman Budaya Embung Giwangan akan hidup dari sore hingga malam. Di Pasar & Panggung Cokekan (21-27 Juli), masyarakat bisa menikmati kuliner khas, pertunjukan dadakan, hingga lomba memasak.
Pada Kongres Gamelan (22 Juli), para maestro, praktisi dan akademisi seperti Andrew Timar (Kanada) dan Dr Raharjo akan berdiskusi soal arah gamelan era modern.

Penutup festival akan diisi oleh Konser Gamelan (25-27 Juli), menghadirkan kelompok dari Indonesia, Tiongkok dan Kanada. Termasuk partisipasi peserta lokakarya yang akan memainkan repertoar hasil latihan intensif selama festival.

Di balik semua kemeriahan program, satu hal yang tak berubah dari YGF sejak awal: bunyi gamelan tetap menjadi inti. “Spirit gamelan bukan hanya soal alat musiknya, tapi cara hidup -- kolektif, harmonis, dan terbuka. Itu yang ingin kami wariskan pada generasi berikutnya,” ujarnya.

Yogyakarta Gamelan Festival ke-30 bukan sekadar ulang tahun. YGF adalah tonggak untuk melihat ke depan bagaimana gamelan akan terus berdetak, berdialog dan berdenting di tangan anak-anak muda Indonesia. (*)