Industri Grafika Berbenah Menuju Produksi Ramah Lingkungan

Dulu jadwal produksi bisa penuh dua minggu ke depan, sekarang kadang untuk besok saja masih harus mencari order.

Industri Grafika Berbenah Menuju Produksi Ramah Lingkungan
Pembukaan Indonesia Grafika Expo 2025 di JEC, Rabu (5/11/2025). (yvesta putu ayu palupi/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Industri grafika di Yogyakarta sedang berbenah dan bergerak menuju arah baru yang lebih hijau, efisien dan adaptif terhadap perubahan zaman. Transformasi itu terasa dalam gelaran Indonesia Grafika Expo (IGE) 2025 di Hall A Jogja Expo Center (JEC), 5-8 November 2025, yang menampilkan sederet inovasi mesin dan teknologi cetak ramah lingkungan.

Di tengah derasnya arus digitalisasi, pameran yang sudah memasuki tahun ke-12 ini menandai babak baru bagi dunia percetakan yang selama ini identik dengan limbah plastik dan bahan fleksibel. Kini, produsen, komunitas, hingga pelaku usaha kecil mulai berpikir ulang tentang cara memproduksi secara lebih bertanggung jawab.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY, Yuna Pancawati, pada pembukaan pameran, Rabu (5/11/2025), menyebutkan pameran itu menjadi momentum penting memperkuat arah kebijakan industri grafika daerah agar lebih inovatif sekaligus berkelanjutan.

“Kami tidak ingin industri grafika sekadar menjadi pengguna teknologi, tapi juga pelaku aktif dalam rantai nilai industri kreatif yang ramah lingkungan,” katanya.

Hemat energi

Menurut Yuna, Pemerintah Daerah DIY telah menyiapkan sejumlah langkah konkret, mulai dari pengembangan sumber daya manusia hingga modernisasi peralatan cetak yang hemat energi.

Salah satu bentuk dukungan diwujudkan melalui penyediaan fasilitas teknologi cetak modern di Manding, Bantul. Selain itu kerja sama dengan PDIN, yang dapat diakses pelaku industri kecil menengah (IKM). "Kita fasilitasi IKM yang ingin melakukan branding produknya," katanya.

Sementara Bryan Whildan Arsaha selaku Direktur Moremedia sekaligus penyelenggara pameran menyatakan arah global industri grafika kini bergeser ke praktik produksi hijau.

“Di luar negeri, penyelenggara event sudah mulai meninggalkan bahan fleksibel seperti MMT dan beralih ke fabric printing yang lebih ramah lingkungan. Kami berharap Indonesia juga mengikuti tren ini,” ujar Bryan.

Perubahan konsumen

Dia menilai, perubahan perilaku konsumen dan meningkatnya kesadaran terhadap lingkungan akan menjadi faktor penentu transformasi pasar. Pelaku usaha yang lebih dulu beradaptasi, menurutnya, akan lebih siap menghadapi gelombang permintaan produk ramah lingkungan di masa depan.

“Kalau pengguna jasa dan event organizer mulai memilih bahan yang tidak mencemari lingkungan, otomatis produsen percetakan akan menyesuaikan. Ini soal ekosistem industri yang tumbuh bersama,” lanjutnya.

Perubahan arah industri juga didorong oleh komunitas pelaku grafika yang semakin aktif menjembatani proses adaptasi di lapangan. Ketua Komunitas Printing Indonesia (KOPI Grafika), Usman Batubara, menilai IGE bukan hanya etalase teknologi, tetapi wadah berbagi pengetahuan.

“Sebagian besar subsektor ekonomi kreatif itu sebenarnya dimasak di dapur yang bernama percetakan. Dunia printing adalah fondasi dari banyak bidang ekonomi kreatif di negeri ini,” ujarnya.

Tetap bertahan

Usman menambahkan, teknologi digital printing justru memberi peluang baru bagi usaha kecil dan menengah untuk tetap bertahan di tengah perlambatan ekonomi. “Dengan mesin digital, produksi bisa fleksibel -- cukup cetak sesuai kebutuhan tanpa pemborosan bahan,” katanya.

Meskipun permintaan pasar belum kembali ke masa keemasannya satu dekade lalu, semangat untuk berinovasi tetap tinggi. Ketua DPD Paguyuban Pengusaha Grafika Indonesia (PPGI) DIY, H Roni Sugiarto, mengakui tantangan industri kini adalah menemukan keseimbangan antara efisiensi dan keberlanjutan.

“Kalau dulu jadwal produksi bisa penuh dua minggu ke depan, sekarang kadang untuk besok saja masih harus mencari order. Tapi dengan inovasi dan efisiensi, saya optimis industri ini akan bangkit lagi,” ujarnya.

Selama empat hari penyelenggaraan, IGE 2025 dimeriahkan workshop, diskusi bisnis dan business matching. Beragam asosiasi dan komunitas seperti Kadin, HIPMI, PPDI, PPGI, Paguyuban Cetak Jogja dan Kopi Grafika turut berpartisipasi. (*)