GMNI Diajak Gotong Royong Membangun Bangsa

Ajakan tersebut disampaikan Yashinta Sekarwangi Mega dalam kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI yang digelar di Kantor DPD RI Yogyakarta.

GMNI Diajak Gotong Royong Membangun Bangsa
Sosialisasi Empat Pilar MPR RI yang digelar di Kantor DPD RI Yogyakarta, Jumat (12/12/2025). (istimewa)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Anggota MPR RI, RA Yashinta Sekarwangi Mega, mengajak seluruh kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) se-Yogyakarta untuk kembali meneguhkan nilai gotong royong sebagai fondasi utama dalam berkarya dan membangun bangsa.

Ajakan tersebut disampaikan Yashinta dalam kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI yang digelar di Kantor DPD RI Yogyakarta, Jumat (12/12/2025). Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh pengurus cabang dan komisariat GMNI se-Yogyakarta.

Dalam pemaparannya, Yashinta menegaskan inti dari Empat Pilar MPR RI sejatinya bermuara pada semangat gotong royong. Empat pilar tersebut meliputi Pancasila sebagai dasar ideologi negara, UUD 1945 sebagai konstitusi negara dan Ketetapan MPR, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai bentuk negara, serta Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan negara.

Menurutnya, nilai-nilai tersebut harus terus diterjemahkan dalam kebijakan dan gerakan nyata yang berpihak pada rakyat, sejalan dengan cita-cita Indonesia merdeka.

Gotong royong

“Saya tidak akan panjang lebar menjelaskan Empat Pilar MPR RI. Yang ingin saya ambil adalah satu inti sari yang sering kita dengungkan, tetapi dalam praktiknya masih jauh dari harapan, yaitu gotong royong," ucapnya.

Hal itu menurutnya sebuah semangat kolaborasi yang tidak hanya melintasi cabang dan komisariat GMNI. Namun juga melintasi batas ideologi, untuk satu tujuan, yakni Indonesia yang berdaulat, adil dan makmur.

Politisi muda asal Daerah Istimewa Yogyakarta yang dikenal publik sebagai “mbak-mbak baliho” ini juga mengingatkan kembali pesan Presiden pertama RI, Soekarno, tentang gotong royong sebagai roh kepribadian bangsa. Dia menilai, gotong royong bukan sekadar kerja sama teknis, melainkan modal sosial yang sangat besar bagi Indonesia.

“Bung Karno selalu menegaskan bahwa roh kepribadian Indonesia adalah gotong royong. Republik adalah rumah bersama, dan gotong royong adalah cara kita hidup bersama di rumah itu. Ia mencerminkan solidaritas, tanggung jawab bersama, dan kesetaraan sosial,” ungkapnya.

Ruang kolaborasi

Yashinta menekankan pentingnya kader GMNI melepaskan sekat-sekat internal, baik antar cabang, komisariat, maupun lintas keilmuan. Menurutnya, perbedaan seharusnya menjadi ruang kolaborasi untuk melahirkan karya bersama yang produktif.

“Jangan terjebak dalam bubble perbedaan cabang, komisariat atau latar belakang keilmuan. Jadikan perbedaan itu ruang gotong royong untuk menciptakan karya bersama. Teman-teman juga harus tahu kapan waktunya bertanding dan kapan waktunya bersanding. Jika waktunya bersanding, jangan terus-menerus bertanding karena itu justru menghambat produktivitas,” tegasnya.

Pesan yang disampaikan Yashinta dinilai sejalan dengan tantangan GMNI ke depan, yakni memperkuat solidaritas kader dan kontribusi nyata bagi bangsa. Melalui semangat gotong royong, GMNI diharapkan mampu mengambil peran strategis dalam pembangunan Indonesia yang lebih adil dan berkeadaban. (*)