FK-KMK UGM Gelar Summer Course 2025, Dorong Kolaborasi Penanganan Kanker

Risiko kumulatif orang Indonesia terkena kanker sebelum usia 75 tahun mencapai 14 persen. Ini sangat tinggi.

FK-KMK UGM Gelar Summer Course 2025, Dorong Kolaborasi Penanganan Kanker
Konferensi pers Summer Course internasional bertema Interprofessional Healthcare: Integrative Cancer Management – A Roadmap to Better Outcome. (muhammad zukhronnee ms/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, SLEMAN   -- Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) kembali menyelenggarakan Summer Course internasional bertema Interprofessional Healthcare: Integrative Cancer Management – A Roadmap to Better Outcome pada 14-25 Juli 2025. Kegiatan ini digelar melalui kolaborasi dengan Fakultas Kedokteran Gigi, Fakultas Farmasi dan Fakultas Psikologi UGM.

Program ini diikuti oleh 107 peserta dari 30 universitas dalam dan luar negeri, termasuk mahasiswa sarjana, pascasarjana serta profesional kesehatan. Beberapa universitas peserta antara lain Kunming Medical University (Tiongkok), Mahidol University (Thailand), Maastricht University (Belanda), University of Amsterdam, Universiti Putra Malaysia hingga Universitas Indonesia.

Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FK-KMK UGM, dr Ahmad Hamim Sadewa Ph D, menyebutkan penanganan kanker menuntut pendekatan interprofesi.

“Kanker tidak bisa hanya ditangani secara medis. Diperlukan sinergi lintas profesi dokter, perawat, psikolog, farmasis bahkan dokter gigi,” ujarnya, Senin (14/7/2025).

Efek samping

Dia menekankan, kolaborasi menjadi kunci untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. Misalnya, pengobatan kanker yang menyebabkan efek samping berat perlu pendampingan psikososial, serta dukungan gizi dan perawatan mulut.

Hamim menambahkan, selain penanganan, aspek preventif dan deteksi dini juga menjadi perhatian. “Bukan pengurangan layanan, tapi peningkatan program preventif. Penanganan tetap sesuai protokol, dan BPJS tetap meng-cover pembiayaan sesuai klaim,” tegasnya.

Ketua Panitia, dr Dyah Ayu Mira Oktarina Ph D Sp DVE, menyatakan tema kanker diangkat kembali karena masih menjadi penyebab kematian utama di Indonesia.

“Fasilitas yang belum merata dan kesenjangan layanan menjadi masalah serius. Misalnya di Papua, prognosis pasien sangat berbeda dengan di Jawa,” jelasnya.

Kasus baru

Merujuk data GLOBOCAN 2022 dari International Agency for Research on Cancer (IARC), terdapat 408.661 kasus baru kanker dan 242.988 kematian akibat kanker di Indonesia. Secara global, tercatat hampir 20 juta kasus baru dan 9,7 juta kematian akibat kanker pada tahun yang sama.

“Risiko kumulatif orang Indonesia terkena kanker sebelum usia 75 tahun mencapai 14 persen. Ini sangat tinggi. Maka, edukasi gaya hidup sehat, vaksinasi, dan deteksi dini harus digencarkan,” ujar Mira.

Menurutnya, upaya pencegahan masih terganjal keterbatasan fasilitas dan rendahnya kesadaran masyarakat. Sementara di sisi terapi, pendekatan personal berbasis karakteristik genetik kini menjadi tren, yang dinilai lebih efektif dibanding terapi standar.

Ketua Tim Internasional FK-KMK UGM, dr Dwi Aris Agung Nugrahaningsih Ph D, menyebutkan Summer Course ini akan mempertemukan pengalaman antarnegara dalam penanganan kanker, seperti dari Jepang, Korea, Belanda, Malaysia dan ASEAN.

Tidak terkungkung

“Tujuannya agar mahasiswa dan tenaga kesehatan Indonesia tidak terkungkung dalam perspektif lokal,” ujarnya.

Kegiatan dilakukan secara hybrid, dengan format kuliah pakar, praktikum, role play, field trip, serta tugas mandiri melalui Learning Management System (LMS). Topik yang dibahas meliputi terapi kanker berbasis biomarker, pendekatan spiritual dalam perawatan paliatif, kesetaraan akses layanan, dan strategi kebijakan publik.

Pemerintah melalui National Cancer Control Plan 2024–2034 menargetkan distribusi alat diagnostik canggih hingga Desember 2025. Kebijakan proaktif juga diharapkan mempercepat akses terhadap terapi inovatif yang secara global terbukti menurunkan angka kematian hingga 40 persen.

“Melalui Summer Course ini, UGM ingin mempertegas peran pendidikan interprofesi yang adaptif terhadap tantangan kesehatan global, khususnya dalam menghadapi beban kanker yang semakin meningkat,” kata Mira. (*)