Selasa, 15 Jun 2021,


lkp-matematika-indonesia-gelar-baksos-peduli-sopir-angkutaBaksos LKP Matematika Indonesia untuk paguyuban sopir Angkuta. (istimewa)


Siaran Pers
LKP Matematika Indonesia Gelar Baksos Peduli Sopir Angkuta

SHARE

KORANBERNAS.ID, WONOGIRI – Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Matematika Indonesia menggelar bakti sosial (baksos) pembagian beras dan takjil sejumlah 200 paket. Bantuan itu diberikan kepada sopir Angkuta di Wonogiri Jawa Tengah serta warga ekonomi lemah yang terdampak Covid-19.


Kegiatan ini berlangsung di Kantor LKP Matematika Indonesia Pokoh RT.004 RW.001 Kelurahan Wonoboyo Kecamatan/Kabupaten Wonogiri, Kamis (6/5/2021).


Setiawan SM M Si selaku pimpinan LKP Matematika Indonesia selain menyampaikan rasa prihatin juga dapat merasakan dampak dari pandemi bagi keluarga kurang mampu khususnya pekerja harian. “Dengan baksos ini kami harapkan dapat sedikit membantu dan meringankan beban masyarakat,” ujarnya melalui siaran pers.

LKP Matematika Indonesia rutin mengadakan bakti sosial setiap tahun, termasuk memberikan bantuan untuk korban bencana alam.


Baksos kali ini dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan. Sebelum mengambil bantuan, para sopir maupun warga diwajibkan memakai masker. Bagi yang belum memakai masker diberikan oleh tim dari LKP Matematika Indonesia.


Diberikan pula hand sanitizer serta ada pengecekan suhu badan maupun serta penerapan pembatasan jarak fisik. Baksos dihadiri pula anggota Polsek Wonogiri Kota serta tim kesehatan Puskesmas Wonogiri 1.


Salah seorang penerima bantuan, Heru Wijanarko Agung (44), sopir Angkuta warga Semin Wetan RT 002 RW 002 Desa Purworejo Kecamatan/Kabupaten Wonogiri mengaku sangat terbantu. Dirinya bersyukur mengingat kondisi perekonomian sekarang sangat sulit.

Ketua Paguyuban Angkuta Wonogiri, Suprapto SE,  mengatakan sebelum pandemi Angkuta Wonogiri masih eksis, masih bisa mencari rezeki guna mensekolahkan anak serta mencukupi kebutuhan rumah tangga.

Pada kondisi pandemi dampaknya sangat luar biasa. Pendapatan turun drastis. Dalam sehari mencari uang Rp 100 ribu rasanya susah. Padahal separonya dipakai untuk membeli Bahan Bakar Minyak (BBM).

“Bayangkan uang Rp 100.000 untuk beli BBM Rp 50.000 sisanya Rp 50.000. Dari sisa uang tersebut masih digunakan untuk setoran. Kondisi ini sangat memprihatinkan dan sekarang tinggal kurang lebih 60 armada yang masih aktif,” ungkap pria 57 tahun itu.

Suprapto mewakili rekan-rekan sopir Angkuta Wonogiri sangat berterima kasih kepada LKP Matematika Indonesia yang sudah memberi kontribusi berwujud beras dan takjil.

Harapan dia kegiatan semacam ini berlanjut. Usai pembagian bantuan sosial kepada sopir Angkuta dilanjutkan pembagian bantuan serupa untuk juru parkir. (*)



SHARE


'

BERITA TERKAIT


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini