Enam Doktor Pariwisata, Hadiah Ulang Tahun ke-26 Stipram

Enam doktor ini bahkan berhasil menyelesaikan studi hanya dalam tiga tahun.

Enam Doktor Pariwisata, Hadiah Ulang Tahun ke-26 Stipram
STIPRAM Yogyakarta meluluskan enam doktor pariwisata untuk kali pertama bertepatan dengan HUT ke-26 kampus itu. (muhammad zukhronnee muslim/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, BANTUL -- Suasana Ballroom Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo (STIPRAM) Yogyakarta, Sabtu (13/9/2025), terasa berbeda. Bukan hanya perayaan ulang tahun ke-26, tetapi juga momen bersejarah untuk pertama kalinya kampus pariwisata ini melahirkan enam doktor.

Satu per satu, nama mereka dipanggil mulai dari Dr Amin Kiswantoro, Dr Asep Syaiful Bahri, Dr Fera Dhian Anggraini, Dr Prasiwi Citra Resmi, Dr Robert La Are dan Dr Tety Indriati Kastuti.

Keenamnya berdiri tegak menyampaikan penelitian di hadapan sidang senat terbuka sebelum akhirnya resmi menyandang gelar akademik tertinggi di bidang pariwisata.

Bagi Dr Amin Kiswantoro, capaian ini adalah buah kerja bersama. “Perjuangan meraih gelar ini bukan hanya karya saya, tapi juga dukungan keluarga dan kampus yang luar biasa. Kami akan berusaha menggunakan ilmu ini untuk mengembangkan kepariwisataan di Indonesia,” ujarnya penuh rasa syukur.

Tidak mudah

Rasa haru juga terlihat dari wajah Dr Fera Dhian Anggraini. Dia mengakui jalan menuju gelar doktor penuh lika-liku. “Perjalanan ini tidak mudah, penuh perjuangan. Tapi kami berharap gelar ini bisa memotivasi calon doktor lain, sekaligus membawa dampak positif bagi pariwisata Indonesia,” katanya.

Di balik kebanggaan para lulusan, STIPRAM juga menorehkan pencapaian tersendiri. Direktur Pascasarjana, Dr Tonny Hendratono, menyebutkan enam doktor ini sebagai tonggak sejarah.

“Mereka adalah yang pertama bagi STIPRAM. Semoga ilmu yang diraih bisa benar-benar bermanfaat bagi kemajuan pariwisata tanah air,” katanya.

Senada, Kaprodi S3 STIPRAM Prof Dr Sugiarto menyatakan para lulusan sudah berkomitmen tetap menjejakkan kakinya di dunia penelitian.

Berbasis riset

“Disertasi mereka lahir dari persoalan nyata di lapangan. Tugas mereka selanjutnya adalah memberikan solusi, menghasilkan kebaruan, terutama dalam kewirausahaan berbasis riset. Enam doktor ini bahkan berhasil menyelesaikan studi hanya dalam tiga tahun,” ungkapnya.

Momen bersejarah ini menjadikan STIPRAM bukan sekadar kampus pariwisata, melainkan juga rumah lahirnya para pemikir dan peneliti yang siap mendorong pariwisata Indonesia ke arah lebih maju.

STIPRAM membuktikan bukan hanya mencetak praktisi, tetapi juga melahirkan doktor yang berkomitmen mengabdikan ilmu untuk negeri, sebagai hadiah ulang tahun pada usia ke 26. (*)