Ekonomi DIY Stabil, Transaksi Digital QRIS Naik 237 Persen

Usaha konstruksi menjadi penyumbang terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi DIY.

Ekonomi DIY Stabil, Transaksi Digital QRIS Naik 237 Persen
Kepala Perwakilan BI DIY, Sri Darmadi Sudibyo, berbicara pada kegiatan Ngobrol Santai Bareng Media di Yogyakarta. (muhammad zukhronnee muslim/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Perekonomian Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menunjukkan kinerja yang stabil pada triwulan III 2025. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi di provinsi ini tercatat 5,40 persen, sedikit melambat dibanding triwulan sebelumnya yang mencapai 5,49 persen. Meski demikian, angka tersebut masih lebih tinggi dibanding rata-rata nasional dan regional Jawa.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) DIY, Sri Darmadi Sudibyo, menjelaskan kinerja ekonomi DIY tetap solid di tengah ketidakpastian global. “Pertumbuhan ekonomi DIY masih relatif baik. Meskipun ada perlambatan kecil, capaian ini tetap lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi nasional,” ujarnya dalam kegiatan Ngobrol Santai Bareng Media di Yogyakarta, Rabu (12/11/2025).

Dia menyebutkan, lapangan usaha konstruksi menjadi penyumbang terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi DIY dengan kontribusi 0,94 persen, disusul industri pengolahan 0,5 persen, jasa pendidikan 0,54 persen serta sektor lainnya 2,88 persen.

Sementara itu, tingkat inflasi DIY pada Oktober 2025 tercatat 2,9 persen (yoy) atau masih dalam sasaran 2,5±1 persen. Komoditas penyumbang inflasi utama meliputi emas perhiasan, biaya pendidikan tinggi dan telur ayam ras.

Inflasi tertinggi

Adapun deflasi terjadi pada bayam, tomat, dan terong. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Yogyakarta sebesar 3,25 persen, sedangkan terendah di Kabupaten Gunungkidul 2,61 persen.

Dibyo menambahkan, perkembangan transaksi digital melalui QRIS di DIY tumbuh pesat. Hingga September 2025, jumlah pengguna QRIS mencapai 980.591 orang, dengan total merchant 987.737 atau tumbuh 21,24 persen. Nilai transaksinya menembus Rp 5,42 triliun, naik 237,19 persen dibanding periode sebelumnya.

“Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa digitalisasi ekonomi di DIY berkembang pesat. QRIS kini menjadi bagian penting dalam aktivitas ekonomi masyarakat, dari pedagang kecil hingga pelaku pariwisata,” kata dia.

Selain mendorong digitalisasi sistem pembayaran, BI DIY juga memperkuat program pengendalian inflasi melalui berbagai kegiatan on-farm dan off-farm, termasuk pengembangan hilirisasi komoditas unggulan serta edukasi Masyarakat dan Pedagang Tanggap Inflasi (Merantai) di pasar-pasar tradisional dan pesantren.

Tanpa kendala

“Digitalisasi membawa efek ganda bagi ekonomi masyarakat. Pedagang kecil kini bisa terus berproduksi dan bertransaksi tanpa kendala waktu maupun lokasi,” ujarnya.

Selain itu, BI DIY juga memperluas dukungan terhadap UMKM dan ekonomi syariah melalui program inovatif seperti QRIS Andong Wisata, dan berbagai kolaborasi digital termasuk Yogyakarta Economic Symposium serta Grebeg UMKM. (*)