Rabu, 21 Okt 2020,


dolalak-dinilai-layak-jadi-instrumen-branding-purworejoGagasan menjadikan Dolalak sebagai instrumen branding Purworejo menguat dalam FGD yang berlangsung di Gedung Wanita Purworejo, Selasa (6/10/2020). (istimewa)


Wahyu Nur Asmani EW

Dolalak Dinilai Layak Jadi Instrumen Branding Purworejo


SHARE

KORANBERNAS.ID, PURWOREJO -- Kesenian khas Kabupaten Purworejo, Tari Dolalak, dinilai layak menjadi instrumen untuk menguatkan branding Kabupaten Purworejo. Pasalnya, Dolalak sangat fleksibel, luwes, dan mempunyai nilai jual tinggi untuk dijadikan unsur visual branding daerah.

Hal itu mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Menemukenali Dolalak dalam Strategi Pencitraan (Branding) Kabupaten Purworejo di Gedung Wanita Purworejo, Selasa (6/10/2020).


Baca Lainnya :

Dalam siaran pers dari Lentera Art Purworejo kepada koranbernas.id, Kamis (08/10/2020), disebutkan acara tersebut diprakarsai oleh seorang peneliti asal Purworejo yang juga Dosen Fakultas Desain dan Seni Kreatif Universitas Mercu Buana Jakarta, Agus Budi Setyawan, berkerja sama dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan, Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, dan Lentera Art Purworejo.

Peserta FGD terbatas hanya dari unsur terkait, antara lain Kepala Dinas KUKMP, Dinkominfo, Bappeda, Dinparbud, Ketua Dewan Kesenian Purworejo, perwakilan pelaku seni, industri kreatif, dan jurnalis.


Baca Lainnya :

Selama setengah hari, acara yang dimoderatori Dosen Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr Sudibyo MHum, berlangsung interaktif dengan 3 nara sumber. Masing-masing,  Agus Budi Setyawan, Agung Wibowo AP (Kepala Dinparbud Purworejo), serta Rudi Winarso (Tenaga ahli branding Java/co-branding wonderful Indonesia).

“Tari Dolalak sangat berpotensi sebagai instrumen branding Purworejo. Kenapa tari? Karena tari ini sangat fleksibel. Berbeda ketika suatu tempat menggunakan instrumen lain. Misal Purworejo menggunakan manggis atau durian, visualisasi yang tampil akan sangat terbatas,” kata Agus Budi.

“Dolalak itu bisa ditampilkan dengan berbagai macam pose dan adaptif dengan segmentasi yang dituju,” imbuhnya.

Agus Budi menyebut, FGD yang digagasnya merupakan bagian dari penelitian disertasinya di ISI Surakarta yang mengangkat Strategi Komunikasi Visual Branding Daerah Berbasis Tari. Menurutnya, berdasarkan studi awal, dari total 514 kabupaten dan kota di Indonesia, ada sebanyak 74 daerah yang sudah menerapkan branding. Dari 74 daerah itu, ada 7 daerah yang melaksanakan branding dengan memanfaatkan aset unggulan dalam bentuk seni tari yang secara eksplisit terlihat dari identitas visual dan aktivitas komunikasi branding.

“Berdasarkan penelurusan lebih lanjut, dengan melihat keberagaman aktivitas pelaksanaan branding dari ketujuh daerah tersebut, maka saya memilih Kabupaten Purworejo, Banyuwangi, dan Ponorogo sebagai studi kasus kajian,” sebutnya.

Dengan adanya penelitian dan FGD ini sekaligus menjadi sumbangsih kalangan akademisi terhadap kemajuan daerah. Agus berharap dengan melihat aktivitas branding yang dilakukan sejumlah daerah dapat tersusun model strategi branding.

“Jadi itu tujuan saya memformulasikan strategi branding daerah dari kota berbasi tari,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Dinparbud Purworejo, Agung Wibowo AP, menyatakan strategi branding sudah dilakukan Purworejo sejak sekitar tahun 2017 dengan meluncurkan branding Romansa Purworejo 2020. Namun, pelaksanaannya belum maksimal karena belum adanya sinergitas dari OPD-OPD terkait. Sebagaian OPD masih menganggap bahwa branding itu hanya milik Dinparbud dan terkait pariwisata.

“Padahal branding ini milik Pemkab, bukan hanya Dinparbud. Harapan kita setiap kegiatan branding ditampilkan,” katanya.

Terkait menjadikan Dolalak identitas Purworejo, Agung menyebut sudah dilakukan banyak upaya. Rentang tahun 2017 hingga 2018 pihaknya mulai mengangkat kembali Dolalak sebagai brand Kabupaten Purworejo. Antara lain melalui workshop, pelatihan tari garapan dengan peserta dari perwakilan kecamatan, festival, hingga menggelar Dolalak massal yang diikuti sekitar 5.600 penari pada tahun 2019.

“Tahun 2020 ini kalau tidak ada covid, salah satunya kami juga akan lakukan kajian untuk mengangkat sejarah Dolalak,” ungkapnya.

Pegiat Tari Dolalak yang juga pengelola Sanggar Tari Prigel, Melania Sinaring Putri, mengapresiasi munculnya gagasan untuk mengangkat Dolalak sebagai branding. Namun, dirinya berharap agar dalam pelaksanaannya nanti branding digarap serius, mulai dari busana, model, hingga gerak tarian.

“Sebaiknya perlu kita sepakati hal-hal terkait Dolalak. Harapan kami Dolalak sebagai kesenian khas Purworejo bisa mengangkat nama Purworejo seperti daerah-daerah lain,” tandasnya. (*)



SHARE
'

BERITA TERKAIT

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini