Disiapkan Dua Titik Makam untuk Dipilih

Rencana pemakaman Susuhunan Pakubuwono XIII
Disiapkan Dua Titik Makam untuk Dipilih
Di kompleks makam inilah, jenazah Sunan Pakubuwono XIII akan dimakamkan. (pututwiryawan/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, BANTUL – Bupati Jurukunci Pasareyan Agung Imogiri Surakarta Raden Ayu Kusdarmadewi, Minggu malam (2/11) melakukan survei di kompleks makam Pakubuwono X, untuk memilih dua titik rencana pemakaman. Dua titik itu berada di dalam kompleks makam Sunan Pakubuwono X. Satu titik berada di sisi makam Sunan Pakubuwono XI (kakek PB XIII) dan satu titik di sisi makam Sunan PB XII (ayah PB XIII).

“Saya sudah menerima dhawuh (perintah) dari Gusti Kangjeng Ratu Pakubuwono (prameswari) supaya mencarikan tempat pemakaman di kompleks makam Sinuhun PB X,” ujar R.Ay. Kusdarmadewi Minggu malam kepada koranbernas.id, sesaat sebelum berangkat menuju makam. Ia diantar kerabat dan beberapa abdi dalem berpakaian Jawa gaya Surakarta berupa beskap hitam (lelaki) dan kebaya hitam (perempuan).

Raden Ayu Kusdarmadewi, pengageng Kabupaten Jurukunci Pasareyan Agung Imogiri Surakarta. (pututwiryawan/koranbernas.id)

Ia menjelaskan, dalam bayangannya ada dua titik makam di dalam kompleks makam PB X. Satu di dekat PB XI dan satunya di dekat PB XII. “Setelah saya melihat langsung lokasinya nanti, segera akan saya haturkan kepada Gusti Kangjeng Ratu Prameswari. Beliaulah yang akan menentukan tempat yang dikersakke di mana untuk diagem Sinuhun,” kata Ndara Dewi, sapaan akrabnya.

R.Ay. Kusdarmadewi menerima kabar duka dari Kasunanan Surakarta sekitar pukul 08.00 Minggu pagi. Saat itu, ia sedang berada di Jakarta karena ada acara. Beruntung, ia masih bisa mendapat tiket pesawat untuk pulang ke Yogyakarta. Ia tiba dari Bandara YIA menjelang maghrib, Minggu petang.

Ia pun tidak ingin menunda perintah dari Keraton Surakarta. Karenanya, menjelang isya ia berangkat untuk survei makam. “Besok setelah saya mendapat kepastian titik makam yang dikehendaki, saya baru dhawuh kepada semua abdi dalem di sini,” tambahnya.

Mangkat di RS

Susuhunan Pakubuwono XIII, mangkat (meninggal) di RS Indriati, Solo Baru, Minggu pukul 07.30. Ia sudah sekitar 100 hari mendapat perawatan di rumah sakit karena berbagai penyakit yang diderita.

Menurut rencana, jenazah akan diberangkatkan dari Kasunanan Surakarta sekitar pukul 7.30 Rabu pagi, 5 November 2025 menuju Pajimatan Imogiri, kompleks makam raja-raja Mataram Islam.

Sunan Pakubuwono XIII lahir di Surakarta pada 28 Juni 1948. Nama kecilnya adalah Gusti Raden Mas Suryadi. Ia lahir dari rahim KRAy. Pradapaningrum, istri selir PB XII. Namun karena ia adalah anak lelaki tertua, menurut tradisi Mataram Islam, berhak menjadi penerus takhta.

Setelah dewasa, ia mendapat gelar kedudukan dengan sebutan Kangjeng Gusti Pangeran Harya (KGPH) Hangabehi. Putera PB XII ini naik takhta menggantikan ayahnya pada 10 September 2024 dengan gelar resmi Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwono XIII Hangabehi Senapati ing Ngalaga Abdurrahman Sayyidin Panatagama Khalifatullah Ingkang Jumeneng Kaping XIII.

Keluarga Kasunanan Surakarta pernah dilanda konflik, ketika Pangeran Tejawulan mendeklarasikan dirinya sebagai Sunan Pakubuwono XIII. Almarhum bahkan sempat tidak boleh menginjakkan kakinya di istana. Konflik kemudian mereda dan Pangeran Tejawulan diberi kedudukan sebagai mahamenteri dengan gelar Kangjeng Gusti Pangeran Harya Panembahan Agung.

Lokasi makam

Dalam kompleks makam raja-raja di Imogiri, bagian Kasunanan Surakarta menempati areal di sebelah barat. Kompleks makam PB X berada di tepi paling barat.

Peta makam Imogiri. (derryku.blogspot.com).

Basuki (70), abdi dalem yang tinggal tak jauh dari kompleks makam bercerita, beberapa waktu lalu sudah ada rencana perluasan makam Kasunanan Surakarta. “Batas tanahnya sudah ditandai. Ada pathok-nya juga. Cuma bagaimana realisasinya saya belum tahu.,” kata Basuki.

Kalau kompleks makam raja-raja Kasunan Surakarta berada di sebelah barat, maka makam raja-raja Kasultanan Yogyakarta menempati posisi di sebelah timur. Kompleks makam Pajimatan Imogiri dibangun oleh Sultan Agung pada tahun 1632. Akses utama menuju makam berupa tangga dari batu dengan jumlah anak tangga 409 buah.

Pada Rabu pagi atau siang (5/11) peti jenazah almarhum Susuhunan Pakubuwono XIII akan diusung oleh abdi dalem menaiki 409 anak tangga tersebut. (*)