Diprotes, Pembangunan Bendungan Bener Jalan Terus

Diprotes, Pembangunan Bendungan Bener Jalan Terus

KORANBERNAS.ID,PURWOREJO -- Pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) Bendungan Bener, Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo masih terus berjalan meski ada protes. Bendungan yang memiliki tinggi 169 M dengan lebar tubuh bendung bagian atas 500 meter dan bagian bawah 150 meter ini dikebut. Elevasi atau ketinggian debit air waduk ini menjadi 359 Mdpl, material yang dibutuhkan sekitar 8,5 juta meter kubik pun diambilkan dari Desa Wadas.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Bendungan Bener, Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO), M Yushar Yahya A, mengatakan pengambilan material penyusun bendungan diambilkan dari desa Wadas sebab sudah sesuai dengan kajian ilmiah atau studi dan juga Izin Penetapan Lokasi (IPL). Secara teknis, material bersih yang dibutuhkan 8,5 juta meter kubik, sementara material yang diangkut dari Wadas karena masih dalam bentuk kotor atau campuran kemungkinan bisa mencapai 15 juta meter kubik.

"Kemungkinan untuk mengambil material dari luar Desa Wadas cukup minim, sebab tidak memenuhi secara volume dan secara teknis salah satunya kekerasan batunya juga baik bagus adalah dari Desa Wadas. Jika dipaksakan dari luar Desa Wadas, resikonya dinilai lebih besar, sekitar tahun 2017 sudah dilakukan kajian dan studi lapangan terkait kualitas material Desa Wadas yang paling masuk," terang Yushar, Selasa (25/5/2021) di Sulthan Kopi and Eatary Purworejo.

Sejak tahun 2018 proses pembebasan lahan belum juga selesai, khususnya untuk material quarry penyusun bendungan. Karenanya meski ada penolakan quarry di Desa Wadas, PSN Bendungan Bener tetap berjalan. Proses pembangunan bendungan tertinggi di Indonesia dan tertinggi kedua di Asia Tenggara tersebut ditarget selesai akhir 2023 mendatang.

Saat ini progres pembangunan secara total sudah mencapai 10.5 % dari rencana sekitar 9,8 %. Sebuah deviasi positif, empat paket pekerjaan berjalan sesuai jadwal, meskipun baru beberapa titik yang sudah dilakukan pekerjaan fisik atau konstruksi.

"Bendungan ini terbagi menjadi empat paket pekerjaan. Paket 1 yang bertugas membuat Terowongan Pengelak (Diversion Tunnel) sudah berjalan sekitar 13 %,. Paket Kedua pembangunan saluran pelimpah (Spillway) sudah berjalan 27 %. Sedangkan paket ketiga dan keempat masih 0,05 %, sebab memang belum mulai pekerjaan selain membuat akses jalan dari bendungan ke penambangan material quarry di Desa Wadas," katanya.

Dijelaskan Yushar, sesuai dengan kontrak, proyek pembangunan Bendungan Bener ini ditargetkan selesai 2023 akhir. Salah satu sorotan yang cukup tajam yakni soal pembebasan lahan di Desa Wadas. Menurutnya, warga desa Wadas yang berada di area tambang quarry bisa melihat dan menjadikan Desa Guntur sebagai patokan.

"Yang pasti proyek nasional ini tentu memprioritaskan kesejahteraan masyarakat. Jadi di area tambang quarry (Desa Wadas) sampai saat ini memang masih terkendala ada penolakan, namun dengan pendekatan persuasif kami optimis tim bisa masuk melakukan pengukuran dan pembebasan tanahnya," jelasnya.

Walaupun fokus untuk pembangunan fisik atau konstruksi bangunan, secara tim tetap fokus ke pembebasan lahan. Sejalan dengan itu sejumlah konstruksi sudah mulai jalan di beberapa titik.

"Kami akui permasalahan Quarry Wadas cukup rumit dan menjadi sorotan, terlepas dari konflik yang terjadi di lapangan, masyarakat sangat membutuhkan informasi yang benar dan berimbang. Artinya, permasalahan pro dan kontra sebetulnya hal yang wajar, dan ini bukan menjadi beban bagi kami justru menambah semangat. Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo juga sudah memberi dukungan, kami optimis quarry bisa selesai," paparnya.

Ditambahkan Yushar, sebagai konstruksi proses pengerjaannya memang harus bertahap. Artinya untuk pengerjaan paket ketiga dan keempat atau pengerjaan timbunan atau tubuh bendung juga harus menunggu pengerjaan terowongan pengelak dan saluran pelimpah selesai. Sementara pengerjaan terowongan pengelak direncanakan selesai dalam waktu 1,5 tahun atau tahun 2022.
Sementara saluran pelimpah sesuai kontrak selesai di tahun 2023.

Tahap paling awal memang membuat terowongan pengelak atau mengalirkan air dari sungai Bogowonto ke waduk. Kemudian pengerjaan timbunan atau tubuh bendung dilakukan.

"Nah target pengambilan material quarry juga di tahun 2022 itu pekerjaan paket ketiga dan keempat. Jadi sudah berjalan sesuai rencana, sementara ini pekerjaan di paket ketiga dan keempat sementara menangani akses jalan baru dari bendungan ke pengambilan material Quarry," ucapnya. Proyek pembangunan fisik atau konstruksi Bendungan Bener menelan anggaran Rp 3,8 Triliun, belum termasuk uang ganti rugi atau pembebasan lahan.

Yushar mengungkapkan, Bendungan Bener memiliki empat fungsi utama; Pertama untuk irigasi 150.000 hektare sawah di wilayah Kabupaten Purworejo. Kedua, sebagai air baku atau pasokan air minum dengan kapasitas sebesar 1,60 meter kubik per detik untuk Kabupaten Purworejo, Wonosobo dan Kulonprogo. Ketiga mengurangi debit banjir sebesar 210 meter kubik per detik. Keempat menghasilkan listrik sebesar 6 MW untuk PLTA.

"Bendungan yang berjarak sekitar 8,5 kilometer dari pusat kota Purworejo ini juga berpotensi untuk dikembangkan sebagai tempat wisata," ungkapnya.

Sementara itu, PPK Pengadaan Tanah Bendungan, Hery Prasetyo menambahkan, untuk pembebasan tanah sudah berjalan 42 persen. Meliputi Desa Guntur, Limbangan dan Karangsari. Sementara Desa Wadas untuk kebutuhan material quarry masih berproses.

"Jumlah lahan yang dibebaskan ada 5100 bidang dan yang sudah terbebas 2000 bidang. Penambangan material di Wadas target dimulai pada 2022 akhir, kami masih optimis Oktober 2021 untuk Wadas selesai dan terealisasi untuk pengambilan materialnya," ucapnya.(*)