Jumat, 04 Des 2020,


digitalisasi-budaya-lestarikan-nilai-luhur-keistimewaan-diyPaniradya Pati, Aris Eko Nugroho (tengah) dan Penghageng Tepas Tandha Yekti, GKR Hayu dalam podcast sesi Ngobrolin Jogja #4 bertopik Digitalisasi Pemerintah Daerah di Bangsal Wiyatapraja Kompleks Kepatihan DIY, Selasa (10/8/2020).(yvesta putu sastrosoendjojo/koranbernas.id)


Redaktur

Digitalisasi Budaya Lestarikan Nilai Luhur Keistimewaan DIY


SHARE

KORANBERNAS.ID, JOGJA – Paniradya Keistimewan bersama Keraton Yogyakarta Yogyakarta terus berupaya melakukan digitalisasi budaya. Hal ini dilakukan untuk melestarikan nilai-nilai luhur keistimewaan DIY.

“Digitalisasi budaya diperlukan untuk menyelamatkan ribuan aset budaya yang ada di Yogyakarta,” ungkap Paniradya Pati, Aris Eko Nugroho dalam podcast sesi Ngobrolin Jogja #4 bertopik Digitalisasi Pemerintah Daerah di Bangsal Wiyatapraja Kompleks Kepatihan DIY, Selasa (10/8/2020).


Baca Lainnya :

Menurut Aris, transformasi budaya dalam bentuk digital sangat meskipun di tengah pandemi Covid-19. Sebab nilai luhur budaya sudah ada dan melekat sejak dulu melalui bahasa lisan.

Bila bahasa lisan yang tidak diceritakan dan dituliskan kembali maka dikhawatirkan hilang begitu saja. Karenanya digitalisasi menjadi  salah satu upaya menyelamatkan kepunahan bahasa.


Baca Lainnya :

"Dengan metode sekarang, pola ditulis dan (dibuat) digital akan menjadi menarik sehingga nilai luhur yang kemarin memang ada ternyata mampu menjadj bagian yang mempengaruhi nilai luhur yang ada di DIY," paparnya.

Namun tidak semua hal lantas digitalisasikan. Perlu upaya diskusi dan penyederhanaan bagian mana saja yang harus dipublikasikan.

“Perlu didiskusikan mana saja yang dipublish. Mulai dari yang sederhana dulu," ungkapnya.

Sementara Penghageng Tepas Tandha Yekti, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hayu mengungkapkan dalam upaya digitalisasi, Keraton Yogyakarta telah membentuk divisi Tepas Tanda Yekti sejak 2012 lalu. Divisi ini bertugas mendokumentasikan kegiatan Kraton Yogyakarta dan sebagai sumber literatur akurat bagi kalangan yang membutuhkan.

"Jobdesk (tugasnya-red) dokumentasi dan IT. Kerjanya seperti Kominfo dari versi kecil sebagai sumber informasi publik, salah satunya dengan medsos Kraton. Website Kraton Yogyakarta harus bisa menjadi rujukan yang valid sehingga kami harus hati-hati," jelasnya.

GKR Hayu menambahkan, ditengah pandemi Covid-19 Tepas Tandha Yekti sedang berupaya mengumpulkan dan mengarsipkan kembali database yang ada. Sebab selama ini Keraton Yogyakarta didominasi paperbased

“Keraton sangat paperbased, tugasnya tanda yekti mentransfer paperbased ke computer based. Foto yang dulu tercecer jangan sampai tercecer lagi,” imbuhnya.(adv)



SHARE
'

BERITA TERKAIT

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini