Senin, 06 Des 2021,


digitalisasi-berpengaruh-pada-pembuatan-puisiKupas buku puisi karya penyair Dedet Setiadi yang berjudul “Apokalipsa Kata” di Tembi Rumah Budaya menandai 10 tahun Sastra Bulan Purnama, Sabtu (16/10/2021) sore. (sariyati wijaya/koranbernas.id)


Sariyati Wijaya
Digitalisasi Berpengaruh pada Pembuatan Puisi

SHARE

BANTULKORANBERNAS.ID, BANTUL --  Menandai 10 tahun Sastra Bulan Purnama (SBP) digelar bedah buku puisi karya penyair Dedet Setiadi yang berjudul “Apokalipsa Kata” di Tembi Rumah Budaya, Sabtu (16/10/2021) sore. Bedah buku ini menghadirkan sang penyair sendiri serta puluhan penikmat karya sastra dari DIY dan sekitarnya. Buku berisi 99 karya yang ditulis pria asal Magelang tersebut sejak tahun 2013.


“Buku yang saya tulis ini menceritakan banyak hal atau kompleks. Tema umum yang dialami setiap manusia semacam persoalan maut, kelahiran, kesedihan, cinta, kematian dan lainnya,” kata Dedet kepada wartawan. Dalam menulis puisi, tentu dirinya menggunakan ciri khas dan sudut pandang sendiri. Yang bisa berbeda dengan sudut pandang penyair yang lain.


“Cara ungkap atau bahasa setiap penulis berbeda-beda. Jadi melihat sesuatu sesuai subyektifitas masing-masing, jadi tidak sama,” katanya. Dan dirinya lebih suka membuat puisi dengan bahasa yang sederhana, mudah dipahami dan menggunakan bahas-bahasa ‘ndesa’ yang sering digunakan dalam keseharian. Sehingga pesan mudah tersampaikan kepada pembaca.

“Membuat puisi itu dalam pemilihan kata atau diksi bukanlah menggunakan kalimat yang lazim. Namun ‘dikotori’ emosi dan perasaan kita saat menggambarkan atau melihat sesuatu. Namun tidak kemudian menggunakan kata-kata yang sulit dipahami juga. Dan saat puisinya jadi, orang yang membaca tidak paham apa pesan yang hendak disampaikan,” katanya.


Menulis puisi, lanjut penyair yang karyanya banyak dimuat di media massa tersebut, haruslah dengan rasa. Dalam artian, penulis bisa datang langsung, melihat dan merasakan obyek yang akan ditulis, sehingga bisa terasa suasana yang dibangun dalam tulisan.

“Misalnya akan menulis Bromo, kita datang langsung ke sana dan melihat serta merasakan Bromo seperti apa,” katanya.

Namun seiring era digitalisasi, penyair masa kini banyak yang kemudian mengubah pola dengan cukup browsing lewat internet untuk referensi. Kemudian diolah dengan pintar-pintarnya membuat kata atau kalimat saat menulis.

“Kalau saya termasuk generasi tua, yang menulis harus datang ke lokasi, Karena di sana kita bisa menghadirkan suasana langsung yang kita tuangkan dalam tulisan,” katanya.

Sementara panitia acara, Umi Kulsum didampingi Ons Untoro mengatakan, kegiatan bedah buku dan diskusi ini diharapkan menambah wawasan tentang dunia penyair ataupun menulis puisi dari seorang maestro Dedet Setiadi.

“Sekaligus ini menandai 10 tahun SBP. Semoga ke depan SBP tetap eksis dan semakin banyak melahirkan penyair-penyair muda. Juga SBP menjadi wadah silaturahmi penyair lintas generasi dan lintas daerah,” katanya. *



SHARE



'

BERITA TERKAIT


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini